Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Pilihan buat Radit


__ADS_3

Radit menyuruh Karina menunggunya, mencari Andhini sama Erika dan akan berpamitan karena Karina merasa lelah sementara itu alasannya.


Radit merasa tak betah berada di lingkungan yang banyak orang demi menjaga perasaan Karina.


Andhini kelihatan sedang satu meja dengan seorang laki-laki yang menempelnya sejak tadi, Radit begitu tak suka memandangnya walaupun di situ ada Erika dan juga orang-orang yang lainnya yang sama-sama lagi menikmati makanan.


Radit berjalan menghampiri membisikkan sesuatu pada Andhini dan Andhini langsung bangkit mengikuti Radit yang akan menyampaikan sesuatu di tempat yang agak sepi dari pandangan orang, kelihatan masih begitu ramai orang masuk supermarket nya dan juga di ruangan tempat menjamu para sahabatnya.


"Siapa laki-laki Itu kelihatan senang banget deket sama kamu?" tanya Radit sesampainya di kantor mereka.


Radit langsung mencecar Andhini dengan pertanyaan gak sukanya.


"Itu sama semua sahabat, kenapa kesal begitu? harusnya Mas merasa senang kita tak perlu promosi ke mana-mana, ini juga sudah promosi yang paling efektif karena promosi dari mulut ke mulut akan lebih dipercaya dibandingkan dengan selebaran dan brosur juga banner atau spanduk." ucap Andhini sambil duduk di sofa dalam ruangan yang di peruntukkan buat dirinya Radit dan Erika.


"Ya jelas Aku kesal melihat kamu begitu akrab sama orang yang baru dikenal, hanya dengan alasan mereka satu negara sebagai saudara di perantauan. Aku tidak begitu suka harus ada batasan karena kamu bukan berstatus sebagai single!" jawab Radit bicara ketus.


"Kok Mas bicara begitu? Siapa yang suruh bawa Karina ke sini? Lalu berduaan bagaimana Aku bisa mengenalkan Mas sama mereka? Seharusnya Karina tidak ada di sini ini acara khusus kita, Mas sendiri yang mengacaukan semuanya semua orang pada bertanya mana suamimu mana suamimu? apa Aku harus berterus terang kalau suamiku sedang bersama istri sirinya?" Andhini tak kalah meradang saat tahu Radit marah dan cemburu melihat Andhini begitu akrab dengan teman-temannya terutama dr Fadli.


"Kamu selalu saja membela diri saat Aku bicara yang sesungguhnya semua yang kamu lakukan tak pantas bagi seorang istri."


"Apa kelakuan Mas juga pantas berdua di muka umum begitu? padahal Mas adalah suamiku? Minta sedikit waktu apa salahnya sih Mas ada di sisiku kali ini, kebersamaan Mas sama Karina juga lebih dari cukup mencuri waktuku! walaupun siang hari adalah jatah Karina apa Mas juga nggak mau kenal sama mereka?" Andhini balik bertanya pada suaminya.

__ADS_1


"Aku memang nggak mau kenal sama mereka, biar hubunganku sama Karina tidak ketahuan dan semua itu demi semuanya lancar!" jawab Radit memberi alasan.


"Tapi bukan begitu caranya Mas, Aku di tanya sama mereka mana suaminya? Aku telah beralasan ini itu dan begitu banyak lagi aku berusaha mencari alasan yang bisa di mengerti, sekarang alasan apalagi? Bukankah di sini Aku yang jadi istri Mas? kenapa Mas seakan membolak-balikkan fakta mengingkari semuanya malah memprioritaskan Karina dengan alasan kehamilan?"


"Itu urusanmu! Aku mau mengantar Karina pulang karena lelah mau istirahat, acaranya telah selesai kan?" Radit seperti tak ingin berdebat lagi lupa kalau Andhini adalah orang yang di cintainya.


"Aku tak mengizinkannya! Biar Erika atau Mas Rai yang antar Karina pulang, ada banyak hal yang harus kita bahas, terutama perceraian Mas sama Karina yang tinggal menghitung hari saja, harusnya Mas sudah bersiap-siap dan Karina mempersiapkan diri dan aku akan segera mengurus surat-surat kepulangan Karina ke Indonesia!" Andhini bicara sangat tegas walau di rasa Radit waktu 2 bulan kurang lebih dirasa waktu yang cukup dan sayang untuk dilewatkan.


Andhini berjalan ke pintu menguncinya dan mencabut anak kunci lalu memasukkan ke saku blazernya.


Lalu Andhini mengambil ponselnya menelepon Erika dan menyuruh mengantar karena pulang.


"Apa-apaan semua ini? Jangan sampai Aku berbuat kasar seperti tadi pagi! Biarkan Aku yang antar Karina pulang dia butuh sedikit hiburan Aku sudah janji mau mengajaknya jalan-jalan. Batalkan menelepon!" Radit merebut ponsel Andhini. Tapi Andhini mengelak nya sudah kepalang Erika angkat teleponnya dan Andhini sudah bicara.


ucap Andhini di ujung sambungan telephon.


"Eh, Dhini tapi teman lo mau pada pamit, lo itu di mana sekarang?"


"Pokoknya gue mau ada yang di bicarakan dulu, bagi gue semua tak penting selain suamiku sama rumahtangga gue!" sahut Andhini membuat Erika menutup pembicaraan mereka.


"Andhini! Mau kamu itu apa?"

__ADS_1


"Mas Radit juga mau apa? Apa artinya membawa bawa Karina ke sini? Itu bagiku salah, kenapa tak ada komunikasi dulu sama Aku? semua merusak konsentrasi saja. Membuat langkahku tertahan dan serba salah." Ucapan Andhini membuat Radit tak terima.


Radit mengatupkan giginya kelihatan rahangnya mengeras.


"Aku tidak terima disalahkan karena Aku punya alasan tersendiri membawa Karina ke sini, semua orang tidak tahu siapakah Karina jadi apa salahnya?"


"Tapi mereka ingin berkenalan sama Mas Radit sedangkan Mas Radit berduaan terus sama Karina, maksudnya itu semua apa? apa itu tidak akan mengundang tanya mereka? Oke kalau begitu mulai sekarang kita pisah ranjang! Aku tak akan pulang sampai Karina melahirkan dan semua bubar! Aku akan segeran mengurus surat-surat kepulangan Karina! nikmati kebersamaan kalian Kalau Mas sampai lahiran Karina belum menceraikannya, siap-siap keluarga kita tahu semuanya." Karina mengeluarkan ancaman yang membuat Radit ciut.


"Maksud kamu itu apa? Bukankah semua ini adalah keinginan kamu? semua rencana kamu, kok jadi Aku di sini yang di salahkan?" ucap Radit sedikit melemah. Menurunkan volume bicaranya.


"Tapi keinginan yang sesuai dengan perjanjian!" sambut Andhini menjawab dengan ketus.


"Ya tidak bisa lah, pada kenyataannya saat Karina hamil banyak sekali keluhan, sama siapa dia berbagi selain bersamaku? Butuh ini dan itu? harusnya Aku seperti apa baiknya menurut kamu?" tanya Radit begitu dekat di muka Andhini.


"Aku berhak atas suamiku. Mas kini telah berjalan diluar kapasitas Mas sendiri, intinya Mas mengingkari kesepakatan. Sesuai waktu yang telah kita sepakati kita jalani habiskan waktu kita sampai batas nanti, walau Aku tidak terima dengan semuanya, Mas selama ini seakan melupakan Aku bahkan dalam acara penting seperti ini juga! Aku masih istri Mas bukan?" tanya Andhini balik bertanya Pada suaminya.


Radit bukannya mengerti malah kelihatan semakin marah, tapi Andhini seolah biasa saja.


"Silahkan Mas mau marah mau tidak terima dengan semua keputusanku tetapi faktanya Mas sendiri yang mengingkari semuanya dan Karina juga bukannya mengingatkan Mas, tetapi malah seakan ingin menguasai diri Mas, kita pisah ranjang tak ada pilihan lain jangan salahkan Aku dengan keputusan ini."


******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2