
Andhini bangkit mengambil minuman dan sekarang beralih bicara pada Erika.
"Gimana tadi Aku di pamitkan sama mereka?" tanya Andhini merasa perlu nelepon dr Fadli SpOG karena perasaan bersalahnya meninggalkan acara saat mereka belum berpamitan.
Andhini tak menemui lagi semua sahabat barunya hanya dengan titip pesan saja sama Erika kalau dirinya ada sesuatu urusan yang tak bisa ditunda dan ditinggalkan.
Tapi Andhini punya segudang alasan untuk menepis dan menjawab semua pertanyaan siapapun ada yang prioritas di dalam hidupnya mana yang utama dan mana yang biasa.
Toh pada akhirnya besok juga Andhini akan bertemu dengan dr Fadli walaupun tidak akan membuka aibnya sendiri dan permasalahan yang sedang membelit rumah tangganya.
"Sebenarnya dokter Itu tetep mau menunggu tetapi gue bilang mungkin Bu Andhini sudah menganggap acara pembukaan ini selesai dan dia punya kesibukan lain yang tidak bisa ditinggalkan." ucap Erika selalu klop dengan keinginan Andhini.
Mewakili Andhini dalam segala hal itu biasa bagi Erika, mengerti keinginan Andhini itu kelebihan Erika.
Sekarang Erika semakin serius seiring tanggung jawabnya yang begitu besar di pundaknya, walaupun Andhini tidak membebankan target tetapi Erika merasa wajib untuk memajukan usaha yang di pegang, memperlihatkan keseriusan bekerja sampai Erika mengasuhkan Anaknya pada yayasan biro pengasuhan Anak apalagi Jeanny sudah masuk sekolah. Sekarang saja acara seperti ini Erika tak membawa putri semata wayangnya, takut malah mengganggu dirinya dalam bekerja.
__ADS_1
"Lo memang bisa diandalkan walau tak semua ide lo sukses gue dijalani!" jawab Andhini. Masih bisa bercanda.
Kadang Erika merasa prihatin Andhini begitu bisa menyembunyikan perasaan dihadapan siapa saja termasuk dirinya, walaupun Erika tahu Andhini begitu rapuh pada kenyataannya.
Rai berpamitan saat Andhini sudah tertawa kembali dengan sahabatnya Erika, walaupun tidak tahu mungkin hanya tertawa luarnya saja menutupi segala kemelut di dalam hatinya.
Andhini dan Erika mengangguk, mungkin Rahadian mau mengambilkan baju buat Andhini atau mungkin ingin melihat situasi supermarket yang tadi kelihatan sibuk hanya untuk melihat keadaan saja.
"Rika, apa keputusan gue kali ini baik menurut lo, atau gimana?" tanya Andhini meminta pendapat setelah keputusan di jatuhkan bukannya sejak awal minta pendapat dulu baru ambil keputusan.
Salah-salah dan tidak bijaksana, mungkin pendapatnya hanya dianggap angin lalu yang tak bermakna, walaupun dirasa Erika ingin menyumbangkan ide terbaiknya minimal Andhini telah melakukan pilihan yang benar dengan semua yang di lakukannya jangan sampai Andhini meminta keputusan berpisah lebih dari itu untuk sementara waktu.
Biarlah Andini memberikan efek jera atau biar Mas Radit berpikir bagaimana seandainya tidak didampingi Andhini? akan seperti apa dan apa yang akan dilakukan karena semua aset yang ada di sini sebagian besar adalah milik Andhini, walaupun mereka menikah tidak ada perjanjian di atas hitam putih mana dan seberapa harta kekayaan masing-masing, harta mereka secara materi adalah harta gono-gini suami istri.
Memang Andhini begitu dominan dalam hal usaha dan mengurus usaha. Radit begitu kelihatan pasif tetapi tidak bisa dipungkiri semua bahu membahu dalam mendirikan usaha sampai dan merintis sampai berhasil seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Itu balik lagi sama lo yang menjalani Dhini, tapi sebenarnya kalau gue ada di posisi lo mungkin akan mengambil jalan seperti itu untuk ketenangan diri. Biarlah kita introspeksi diri masing-masing apakah akan datang kesadaran pada diri masing-masing kalian itu? atau mungkin juga lo salah bersikap seperti itu terlalu memaksakan kehendak tidak memaklumi bukan berarti gue memojokkan lo dalam hal ini," ucap Erika, berharap keikhlasan Andhini semakin memahami kebutuhan Karina walaupun Radit tak seharusnya bersikap seperti itu terhadap Andhini.
"Berarti gue kurang pengertian terhadap suami gue juga Karina? harusnya gue menerima perlakuan apapun dari Mas Radit dan Karina tidak diperhatikan diabaikan bahkan tidak dianggap istri lagi sama suami sendiri? mereka menghabiskan waktu bersama setiap waktu tanpa mengindahkan dan memikirkan gue ada? mereka menganggap gue tidak ada begitu? Itu semua menurut gue di luar kesabaran siapapun, semua orang pasti berontak dan ujung-ujungnya memberikan pilihan. Memang seharusnya kita sabar tapi sampai kapan" Andhini seakan dibangkitkan lagi emosinya.
"Bukan semua tak seperti itu, tapi mungkin lebih bisa menerima dan ikhlas nya lebih ditingkatkan lagi," sahut Erika mencoba sedikit bicara menjadi penengah dan penenang.
"Keikhlasan seperti apa lagi yang harus gue jalani? sejak awal dimulai perjanjian ini gue terima dan persiapkan hati dengan ikhlas, sampai Mas Radit menikahi gue udah ikhlas dan menjalani semuanya berjalan apa adanya pada awal pernikahan mereka, tetapi kalau sudah keluar dari privasi yang seharusnya gue jaga bersama Mas Radit gue tak terima, itu sudah penghianatan." Andhini merasa Erika tak memberikan solusi tapi malah menyuruhnya bersabar dan lebih ikhlas.
Erika diam memang benar sepeti itu harapannya juga
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1