
"Rai, kalau memang Kamu masih mau lama di sini tolong bantu Kakak jaga Kak Andhini." ucap Radit kelihatan mukanya serius.
"Tak salah meminta Aku menjaga istri Kak Radit sendiri? dari ancaman apa? takut Kak Andhini di culik orang, apa takut Kak Andhini jatuh cinta lagi sama orang lain?" Rai menjawab malah memberikan pertanyaan lagi kepada Kakaknya.
Radit merasa telah memberikan tugas yang salah kepada Adiknya yang memang seharusnya tanggung jawabnya sendiri. Seorang istri tak bisa dititip titipkan kecuali anak kecil memang benar adanya Radit menyadari jawaban Rai benar, takut diculik orang? apa takut Kak Andini jatuh cinta pada orang lain? sebenarnya kegelisahan hati Radit tidak bisa disembunyikan tetapi daripada berdebat lebih panjang lagi dengan Adiknya yang Radit memilih lebih baik diam.
"Aku sebenarnya berat mengiyakan pisah ranjang tapi demi menjaga jangan sampai setiap bertemu kami selalu bertengkar hanya itu saja." Radit malah tak menjawab apa yang dipertanyakan Adiknya seolah dirinya tetap merasa khawatir namanya juga perasaan kepada istri, tetapi menurut Radit yang prioritas sekarang adalah Karina karena Andhini tidak dalam posisi terlemah dalam keadaan sedang hamil.
Rai diam mulai kelihatan mau pamitan.
"Sudahlah, terserah kamu menilai apapun pada Kakak cuman ada hal yang perlu Kakak pikirkan, Aku akan berusaha mencari teman untuk Karina, mungkin kalau sudah agak tenang Aku akan datang meminta maaf, dan kalau Andhini merasa perlu mungkin akan datang sini mengambil semua keperluannya yang ada di sini." ucap Radit seolah saat ini pilihan yang terbaik adalah seperti ini.
Rahadian pamitan tanpa membawa sedikitpun pakaian Andhini yang dipesannya tadi, Radit memandang punggung adiknya yang keluar dan menutup pintu.
Ada rasa bersalah yang menyesak di dalam dada Radit saat Adiknya datang ke sini bukan membawanya pada kebahagiaan bersama, berkumpul setelah sekian lama tak bertemu, tetapi Radit memberi adiknya Rahadian berbagai permasalahan rumah tangganya yang membelit bahkan Adiknya sendiri mengurungkan niatnya untuk pulang sampai permasalahan Dirinya Andhini sama karina selesai mungkin liburan yang tak berarti bagi Rai.
Radit masuk ke kamarnya dan membiarkan pintu kamarnya terbuka berusaha istirahat setelah pulang dari acara pembukaan supermarket terus ke mini marketnya yang satu lagi menitip pesan sama Vira kalau dirinya mau istirahat pulang dulu.
Radit berpikir kalau pulang ke tempat Karina pasti tidak bisa istirahat, ada saja alasan mereka utuk tidak bisa istirahat.
Baru saja Radit mau memejamkan matanya pintu ada yang mengetuk, Radit malas banget dan rasa kantuk pengaruh obat yang di minumnya mungkin mulai bereaksi Radit membiarkan siapa yang datang dan berharap yang datang itu adalah Andhini terlepas siapa yang bersalah akan selalu ada maaf untuk keduanya.
Radit sengaja diam sambil memejamkan matanya, sampai pintu kedengaran ada yang membuka dan seseorang masuk.
__ADS_1
Berharap Andhini datang sendiri walau mau sekedar mengambil pakaiannya, mungkin Radit hanya bisa melihatnya tanpa bisa di cegahnya.
"Mas sakit ya? kenapa tak datang ke tempatku kalau memang nggak enak badan malah tidur istirahat sendiri di sini? kan ada Aku."
Radit sontak membuka matanya dalam bayangannya Andhini yang datang, masih dengan perasaan tak sadarnya Radit memandang Karina di depannya.
"Mas sakit apa?" tanya Karina duduk di sisi tempat tidur di mana Radit masih berbaring.
"Astagfirullah. Karina, kenapa kamu ke sini? bukankan kita tadi baru saja bertemu dan bersama sepanjang acara pembukaan tadi? aku merasa nggak enak badan habis minum obat dan aku pulang pengen istirahat ke sini." ucap Radit seperti tak suka dengan kedatangan Karina kali ini, Radit merasa Karina tak perlu datang ke sini, ini adalah tempat privasi Andhini dan dirinya tak seharusnya Karina berada di sini, kalau sampai Andhini tahu pasti Andhini akan marah dan entah seperti apalagi.
"Kenapa, Mas tak suka Aku tengok? Aku lapar habis beli makanan di luar bertemu Mas Rahadian saat Aku sapa dia jawab ketus habis melihat Kak Radit yang nggak enak badan katanya." jawab Karina begitu polos.
"Rina, Aku memang gak enak badan kepalaku terasa pusing setelah Kamu pulang di antar Rahadian tadi, Aku juga tidak lama pulang tetapi Aku mampir di minimarket dulu mau titip pesan pada Vira lalu Aku pulang ke sini, setelah minum obat mau istirahat. Kenapa Kamu ke sini? tak seharusnya Kamu ada di sini kalau sampai Andhini tahu Aku yang merasa tidak enak." ucap Radit dengan suara agak pelan.
"Iya, Aku juga berniat mau ke sana tetapi Aku mau istirahat dulu, kepalaku sakit mungkin kalau habis istirahat bisa sedikit ringan kepalaku ini." jawab Radit sambil mengusap perut Karina.
"Sekarang saja ke tempatku yuk, biar Aku bikinkan teh manis hangat, biasanya meminum teh hangat suka meringankan sakit kepala." Karina mengusap kening Radit meraba suhu di area leher memang agak panas tapi tak seberapa. Lalu Karina mengusap rambut dan sedikit memijat pelipis Radit.
"Ya sudah, tapi Aku menunggu biar tak pusing dulu ya. Enak juga di pijit kamu Rina," Radit mengusap-usap perut Karina, dan sesekali ke bagian atas dadanya. Karina diam saja itu memang yang di maunya.
Karina tersenyum merasakan kenakalan tangan Radit yang tak sadar itu ada di mana.
Karina semakin asyik memijit kening dan pelipis Radit, dan Radit tangannya semakin piknik sana kemari menuruti keinginannya.
__ADS_1
"Awww... Mas geli tahu jangan di situ tangannya," ujar Karina, sebenarnya merasa senang saja apa yang diinginkan Radit tak pernah Karina menolaknya.
Radit malah betah di tempat itu yang Karina bilang geli, sebelah tangannya menarik tangan Karina menghentikan kegiatannya dan mendekatkan muka keduanya, tapi karena Karina hamil tak bisa dengan mudah menjangkau muka Radit karena terganjal perutnya.
Brak! pintu depan ada yang membuka, setelah di putar handle pintu tak di kunci, Andhini di belakangnya Erika melihat langsung pemandangan yang menjijikkan di mata Andhini walau Mas Radit sama Karina adlah suami istri.
Tak selayaknya mereka ada di sini mau mengotori tempat pribadi mereka, yang pagi tadi dirinya sama suaminya pakai juga.
Karina syok, tak menyangka Nyonya Andhini datang di saat itu, saat dirinya lagi bersama suaminya juga, walau belum terlanjur melakukan semuanya tapi sudah mengarah ke hal begitu.
Karina berdiri spontan dan Radit bangun seketika, lalu turun dari tempat tidur menghampiri Andhini yang masih berdiri dengan Erika berjejeran.
"Rina, pulanglah," ucap Radit sedikit keras.
Tanpa berucap sepatah katapun Karina membungkuk berjalan keluar melewati Andhini dan Erika.
"Memalukan! kalian itu seperti tak punya etika sama sekali! Kalian berdua memang brengsek sudah tak menghargai Aku lagi!" ucap Andhini pedas, semua di ucapkan saat Karina belum sampai pintu dan mustahil tak kedengaran.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1