
Radit mengetuk pintu tempat tinggal Karina, dan Karina membukanya dengan segala yang sudah di persiapkan, ruangan yang bersih dan wangi, juga Karina sendiri kelihatan sudah mandi dengan pakaian tidur yang sedikit rendah kelihatan bagian dadanya agak terbuka, karena selama di rumah tinggalnya Karina tak berhijab Radit baru melihat dengan jelas pesona wanita hamil yang sudah agak gemuk dengan dada yang sedikit merekah.
Radit masuk, dan menyodorkan Bungkusan di paper bag makanan yang dibelinya di jalan tadi. Karina bukannya mengambil tas makanan tapi meraih pergelangan tangan Radit dan menciumnya lalu menaruh tangan itu di dadanya diatas perutnya sedikit menggesekan ke dadanya.
Radit sejenak terpaku melihat cantiknya Karina saat ini di depan matanya dengan gaun tidur yang di kenakan nya.
Aura kehamilannya terpancar jelas begitu keluar dari wajah dan tubuhnya yang semakin berisi di mata Radit, tubuh yang biasa tertutup dengan gaun panjang menggunakan gaun dengan tangan pendek otomatis jenjang leher dan tangannya begitu kelihatan.
Hamil empat bulan lagi hangat-hangatnya kasih sayang dan haus akan belaian dan kehadiran tapi semua akan berbeda buat Karina betapapun semua begitu menginginkannya tetap ada alasan dan batasan bagi keduanya, Karina berusaha mencari alasan untuk bisa berduaan dengan Radit yang semakin hari semakin di tunggu dan di kangenin.
"Mas, masuk duduk dulu Aku bikinkan Minuman hangat ya?" Karina setengah memaksa menarik Radit untuk duduk di sofa yang begitu rapi seperti disediakan untuk menyambut kedatangannya setiap saat.
"Oh, eh Karina Aku ... nggak lama deh, Kamu makan saja dulu biar Aku tungguin baru Aku pulang," Radit sedikit jaga jarak.
"Ya duduk dulu minum sambil temani Aku makan barang sebentar, kenapa sih? Aku juga sama Istri Mas walau hanya beberapa bulan lagi kita bersama." Karina sedikit merengut membuat Radit tersenyum
Radit diam tak sempat menjawab karena Karina sudah ke belakang membikin minuman, mudah rasanya kalau dirinya langsung keluar dan pergi tanpa pamit terlebih dahulu. Tapi Apa daya semua sudah terlanjur masa iya dirinya tak menghargai istrinya yang dengan susah payah lagi hamil membikin kan minuman setidaknya Radit berpikir meminumnya dulu dan mengurungkan niatnya untuk pulang barang setengah jam membuat senang hati Karina.
Karina datang dengan satu minuman di tangannya, di simpan di hadapan Radit lalu duduk begitu tak berjarak di samping Radit dengan tangan di pahanya.
"Sabar dengan semuanya Rina, jangan biarkan hatimu hanyut dengan perasaan sendiri, jangan pernah jatuh cinta padaku karena akan menyakitkan," ucap Radit berusaha menahan wangi tubuh Karina yang mengusik hidungnya dengan nafas diatur sedemikian rupa sehingga tersengal saat muka Karina menyentuhnya, masa harus mendorongnya?
Karina malah menyandarkan kepalanya di bahu Radit yang diam saja.
"Aku tahu posisiku Mas, sebentar lagi kita akan berpisah seakan kita tak pernah terjadi apa-apa, semua usai sudah berlalu begitu saja menjadi catatan sejarah dalam kehidupan kita, tapi saat Aku masih terikat pernikahan ini beri Aku kebahagiaan saat Aku menginginkan Mas berada di sisiku," sahut Karina sambil menempelkan bibirnya di bibir Radit dengan nafas panas.
__ADS_1
"Rina! malam tadi kita telah melanggar aturan, seharusnya Aku bersama Andhini tetapi karena kesalahanku bukan Aku ingin melanggar semuanya, Aku ingin berusaha adil jangan bersikap seperti ini, semua menyulitkan ku," ucap Radit tapi sambil meraih bibir Karina dengan bibirnya dan meny**sapnya perlahan.
"Mas, setidaknya selama Aku hamil Aku ingin bersamamu setiap waktu, entah itu tuntutan bayi ini atau Aku yang punya perasaan salah?" jawab Karina di sela-sela melepas bibirnya, tapi Radit seakan tak ingin kehilangan momen indahnya.
"Itu tak mungkin Karina, tapi selama ada waktu Aku akan sempatkan bersamamu itu janjiku, tapi jangan mengatur dan keluar dari perjanjian yang membuat Aku merasa bersalah."
Seolah dengan mudah Radit memberi angin segar pada Karina.
"Makasih Mas Radit, Aku ingin Mas juga bahagia di sisiku setiap waktu," tambah Karina semakin erat memeluk Radit dan mengusap kepalanya saat Radit telah menjelajah jauh di sela-sela dadanya.
"Ya ampun Rina, kenapa saat Aku dekat sama Kamu seakan tak bisa melepaskan diri?" jujur Radit sambil menatap wajah di depannya.
"Karena Aku bisa menjadi wanita yang sempurna buat Mas Radit, Aku hamil anak kita Mas, tubuhku melar dan begitu menggairahkan, Aku selalu menginginkannya Mas!" ucapan Karina begitu membuat Radit lupa diri padahal malam tadi mereka begitu saling semangat melakukannya sampai nambah paginya.
Radit membuka pakaiannya sendiri dan Karina menariknya ke tempat tidur, dengan nanar Radit memandang tubuh molek dengan perut mulai kelihatan mengembung perlahan Radit menciumnya lalu menciumnya lagi perlahan.
"Jangan bilang terima kasih karena Aku juga menginginkannya."
Karina tersenyum dalam kemenangan, setidaknya Mas Radit pulang juga pasti tidur nyenyak tak akan menyentuh Nyonya Andhini yang sudah menunggunya makan malam.
Salah ataupun tidak itu tak masalah bagi Karina, perasaannya berubah kini satu keinginan saja yaitu Mas Radit bukan siapa-siapa lagi.
Radit turun perlahan dari tubuh Karina puncak kenikmatan telah mereka capai, Radit terlentang menatap langit-langit kamar tidur Karina mengatur nafas dan detak jantungnya.
Karina bangun meraih pakaiannya dan mengenakannya kembali.
__ADS_1
Dua kali pelanggaran malah kelihatan Mas Radit semakin ketagihan setidaknya itu jurus yang Rina lancarkan, tak perduli pada perjanjian awal kini dirinya punya senjata ampuh yaitu kehamilannya.
Karina melirik Radit yang masih terlentang yang kini memejamkan mata kecapaian, Karina malah senang dan membiarkannya.
Duduk sendiri di sofa sambil minum teh yang sudah dingin Karina melihat ponselnya, betapa enak kini hidupnya tinggal menikmati semuanya, hidup di jamin segalanya, dan di fasilitasi sama Nyonya Andhini bahkan suaminya sendiri juga di berikan.
Adakah kehidupan yangblebih enak lagi dari dirinya? tiap hari hanya jalan-jalan pulang ke rumah makan tinggal beli, tidur istirahat begitulah mengisi waktu, dan saat pulang ada seseorang yang mampir membawa kehangatan.
Karina membiarkan Radit yang mungkin sudah tertidur di kamar karena kecapekan. Baru nanti kalau sudah malam di bangunkan dan diberi pilihan mau pulang atau meneruskan tidur di sini.
Banyak kebetulan dan keberuntungan di diri Karina, setidaknya itu pengakuan Karina sendiri.
Banyak alasan yang akan di jadikan senjata, karena Rahadian juga secara tak sengaja selalu bertemu di luar sana, Karina yakin Rahadian adik Raditya Karena dengan mengindari Rahadian Karina bisa bebas meminta apapun pada Radit.
tok tok tok ... Karina terkejut dan kaget luar biasa, bingung langkah pasti itu Nyonya Andhini.
Karina sengaja membuka kembali kancing bajunya yang dalamnya belum berpengaman dan dengan sengaja mengacak-acak rambutnya lalu membuka pintu.
"Oh, maaf Nyonya Aku lagi begini, tadi Mas Radit memintanya." ucap Karina seperti kemenangan yang baru saja di raihnya di hadapan Andhini.
Andhini melongo, sambil matanya mencari sesosok yang di kenalnya yaitu suaminya.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1