Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Tak sanggup ucapkan maaf


__ADS_3

"Ya, halo. Betul ini Aku Andhini siapa ya?" jawab Andhini mengundang keheranan Erika yang sedikit mendengar pembicaraan mereka lewat telepon seluler. Erika sedikit mendekatkan kupingnya pada Andhini yang sedang menerima telephon.


"Aku Ibu Elyana Bu Andhini, dari panti Asuhan Amanah, hanya ingin bicara sama Karina ada hal penting yang harus Aku bicarakan tentang Adiknya Lila yang ada di sini," ucap Ibu Panti yang sudah kenal baik sama Andhini.


"Oh, Ibu Elyana? ada apa ya Bu biar nanti Aku sampaikan sama Karina," jawab Andini begitu sopan.


"Lila sakit, selalu memanggil Kakaknya Karina, sebenarnya kalau Karina mengabari dan bisa bicara biasanya suka langsung ceria kembali tetapi mungkin karena Lila sekarang sudah mulai besar sudah mau masuk SMP kelas 1 akhir tahun pelajaran ini, mungkin pikiran dewasanya sudah ada, jadi timbul pertanyaan kenapa Kakaknya selama ini tidak pernah meneleponnya? tidak pernah mengabarinya merasa dirinya tidak mendapat pengakuan mungkin atau merasa ditinggalkan, Kami sebagai orang yang bertanggung jawab pengurus mendidik dan memperhatikan perkembangannya merasa khawatir dengan keadaannya Bu Andhini," ucap Bu Elyana begitu panjang dalam ceritanya.


"Iya Bu, apa selama Karina ikut ke Australia ini pernah disinggung kalau keberadaan Karina begitu jauh di luar negeri? atau sebatas pengetahuan Lila Adiknya Karina Karina hanya bekerja di kota saja gimana Bu?" tanya Andhini merasa ingin tahu masalah Karina juga sama Adiknya seperti apa.


"Sepengetahuan Aku Lila tahunya Karina bekerja dikota saja, Kami takut Lila pergi tanpa sepengetahuan Kami dengan mencuri-curi kesempatan untuk mencari Kakaknya sendiri jadi yang Kami khawatirkan itu Bu Andhini bukan masalah lain," jawab Ibu Elyana memang sangat di pahami kekhawatiran yang di rasakannya


"Ya ya ya, Aku mengerti Bu nanti Aku usahakan untuk bisa bicara dengan Karina biar Karina bisa menghubungi dan bicara langsung dengan Adiknya di sana, tetapi seandainya Karina berhalangan biar nanti Aku sendiri yang akan bicara sama Adiknya Karina dan menjelaskan semuanya untuk ketenangan Lila sendiri, karena dalam hal ini Aku juga yang merasa ikut bertanggung jawab Bu Elyana, Karina akhir-akhir ini sibuk bekerja jadi mungkin perubahan cuaca juga merubah semuanya Karina mungkin mau menelepon juga perbedaan waktu yang sangat jauh sehingga bertolak belakang, di sini malam di sana siang dan sebaliknya seperti itu kira-kira Ibu Eliana," ucap Andhini sedikit memberi pengertian dan menyembunyikan semua masalah yang sebenarnya sedang terjadi


"Baiklah Ibu Andini sepertinya hanya itu yang Aku sampaikan tetapi Aku mohon sesegera mungkin sampaikan kepada Karina bila memungkinkan tolong kirimkan nomor barunya karena nomor lama saat Aku telepon sudah tidak aktif lagi," jawab Bu Elyana menutup pembicaraan.


"Baik, Bu Elyana, terimakasih telah menghubungi Aku dan akan segera di tindak lanjuti."


Pembicaraan sambungan jarak jauh terputus, Andhini menarik nafas dalam-dalam sebenarnya ini juga adalah kabar yang sangat penting untuk segera disampaikan kepada Karina, tetapi apalah daya di mana Karina berada Andhini tidak tahu, juga nomor yang selalu ditelepon dan menghubungi suaminya terkadang aktif atau tidak, sekarang suaminya di rumah sakit jadi ya kita bergantung kepada nasib masing-masing.


Satu senjata untuk menarik Karian adalah kabar adiknya itu, dan semoga memicu Karina untuk pulang lalu pasti akan menghubunginya karena surat-surat dan dokumen penting lainnya ada di tangan Andhini.

__ADS_1


"Siapa Dhini?"


"Ibu panti yang mengurus Adiknya Karina, adiknya sakit Ibu panti merasa khawatir Lila pergi dari panti Asuhan mencari Kakaknya ke kota karena selama ini Si Karina tidak pernah menghubunginya,"


"Busyet, sibuk amat selama ini Si Karina sampai tak sempat menghubungi keluarganya, rasanya banyak waktu santai selama dia hamil," timpal Erika sambil tertawa sarkas.


"Sibuk mencari cara melipat gandakan kompensasi, dan bagaimana menarik perhatian Mas Radit, tapi sasarannya malah kecelakaan karena ulahnya. Sudah jalan biar nanti Aku pikirkan lagi bagaimana caranya biar kabarnya bisa sampai pada Karina antisipasi bentuk tanggung jawabku biar nanti saja aku yang telepon dan bicara sama Adiknya biar dia tenang."


"Lo baik banget Dhini sama adik seorang yang telah begitu banyak mendatangkan masalah dalam hidup lo Dhini!" ucap Erika sambil menjalankan mobilnya.


"Erika, gue nggak main-main sejak awal, kalau hati gue begitu menganggap Karina itu bukan antara seorang majikan dengan perawat dengan pekerjanya seperti itu, Gue menganggap Dia adalah saudara ada dalam tanggung jawab gue termasuk Adiknya, masalah ini juga sedikit banyak permasalahannya itu datang dari gue jadi istilahnya gue juga memperlihatkan tanggung jawab yang begitu besar walaupun pada akhirnya Karina mengecewakan gue bahkan menyakiti hati gue tetapi kalau mendengar seperti ini Adiknya sakit ingin bertemu Karina gie merasa terpanggil juga merasa tidak tega," ucap Andhini memang begitu keadaannya.


"Lo memang baik bahkan terlalu baik Andhini, makanya lo banyak di manfaatin hanya gue yang tidak manfaatin Elo!"


Andhini tertawa walau garing karena hatinya hanya terpaku dan pikirannya sedang terbagi pada suaminya yang kini entah bagaimana kondisinya.


Erika mengerti, dan semakin menyadari kalau sahabatnya ini begitu lain dari yang lain.


"Rika, kok ini sepertinya rumah sakit yang biasa gue kontrol sama dr Fadli?" Andhini merasa heran, pikirannya belum memahami peta kota ini rupanya.


"Ya emang iya kenapa? lo baru sadar, kemana aja pikiran lo selama ini?" jawab Erika membuat Andhini menepuk keningnya sendiri, terlalu kacau pikirannya selama ini.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit yang di tuju, Andhini turun duluan diikuti Erika, karena Andhini sudah hafal bagian dari rumah sakit yang menjulang ini.


Di lobby depan rumahsakit Rai menyambutnya dengan masih muka cemas, Andhini langsung menuju kamar perawatan kalau Radit sepertinya sudah siuman itu menurut berita dari Adiknya Rai.


Selalu ada perasaan aneh di hati Rai saat mengandeng tangan Andhini juga saat Andhini memeluknya, walau itu hanya pelukan dukungan dan support pada Kakak iparnya, Mungkin itu hanya perasaan Rai saja yang pernah ad rasa pada Andhini, soal hati Andhini entah lah!


Sampai di kamar, Radit berbaring dengan mata terpejam sebelah kepalanya lebam dengan perban banyak, dan leger memakai penahan gerakan dan sebelah kakinya yang terluka parah juga di perban bahkan di beri penahan biar bisa menahan rasa sakit saat di gerakkan, sepertinya habis menerima penanganan operasi kecil pada lukanya.


Andhini mencium pipi suaminya dengan perlahan dan membisikkan sesuatu entah apa di telinganya membuat Radit perlahan membuka matanya.


Genggaman tangan Andhini tak sanggup membuat Radit berkata apa-apa begitu juga Andhini hanya kebisuan diantara mereka.


Apa yang harus ditanyakan, dalam kondisi suaminya seperti ini dan semua sudah kejadian?


"Mas, syukur masih di lindungi dari maut dan kecelakaan parah,


jangan banyak pikiran yang penting sehat kembali,"


Begitu banyak kata yang ingin Radit ucapkan terutama permintaan maaf pada istrinya, tapi terasa tenggorokannya sakit dan kata katanya hanya tertahan dalam benaknya.


******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2