Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Kangen anak apa Mamanya?


__ADS_3

"Mas, syukurlah Mas datang sore ini semakin berat saja rasanya perutku ini, Apa Aku harus kontrol sekarang?" ucap Karina menyambut Radit yang datang saat membuka pintu.


"Sakit nggak? kalau cuma berat ya pasti berat kan bayinya juga semakin berat, apalagi Papanya di atas pasti tambah berat, bukankah baru beberapa hari lalu kontrol nggak ada masalah hanya tinggal menunggu waktunya saja?" jawab Radit masih bisa bercanda di hadapan Karina.


Karina hanya tersenyum sambil memeluk sebelah lengan Radit yang masuk ke ruang tengah huniannya. Senang rasanya bisa melihat Radit di hadapannya.


"Ros biasanya datang jam berapa kalau sore?" ucap Radit sambil duduk dan Karina ke belakang mau bikin minuman. Radit melihat tubuh Karina yang bertambah subur saja tapi kelihatan semakin menarik.


"Nggak tentu Mas, antara sebelum magrib sama sesudahnya, kenapa memang?" sahut Karina sambil melirik Radit suaminya yang lagi memperhatikannya.


"Nggak apa-apa, Aku hanya meyakinkan saja kalau Ros bekerja dengan baik sesuai yang Aku minta, sepertinya tidak akan lama lagi kamu lahiran Rina, Aku semakin cemas saja menyambut Anakku," jawab Radit sambil menarik napas dalam.


"Kenapa, kangen Anaknya? kalau kangen tengok dong," sahut Karina sambil menyimpan minuman dan duduk tak berjarak dengan Radit. Radit mengusap perut Karina dan menciumnya.


"Ini juga di tengok kan? sebenarnya kangen juga sama Mamanya, tapi Aku kasihan kelihatan kamu sudah kepayahan begitu, takut juga rasanya." Radit mengusap kepala Karina, dan mencium pipinya, Karina meraih tangan Radit di usapkan ke perutnya kembali saat di dalam terjadi kontraksi, Radit tersenyum sambil mengecup bibir Karina.


"Mas, Aku juga begitu kangen bukan hanya bayi ini, ayolah sebelum lahiran Aku ingin beri Mas sensasi bercinta saat istri hamil besar, kapan lagi? kan setelah bayi ini lahir nanti kita berpisah," ucap Karina menyandarkan kepalanya di bahu Radit.


"Ssssst... jangan dulu bicara itu, kita nikmati saja waktu kita," ucap Radit membungkam mulut Karina dengan mulutnya.


Itulah waktu yang ditunggu Karina, Radit datang selalu dengan keinginannya, semua tak boleh di lewatkan nya kesempatan terlalu sulit di dapatkan kini, semakin sering Karina memberikan pelayanan semakin Karina ingin Radit merasa berat melepaskan dirinya, semakin banyak kesempatan Karina meminta jatah lebih dari dompet Radit.


"Kamu benar mau dan kuat? sebenarnya Aku juga datang hanya ingin kamu Rina," suara Radit terdengar parau, tangannya begitu lembut mengusap-usap perut Karina, dan akhirnya ke area lain yang sangat di sukanya, membimbing karina ke tempat tidur dan memulai kewajibannya menyelesaikan semuanya.


Radit terlentang dengan napas masih tak beraturan, Karina masih memeluknya, seperti tak ingin melepaskannya. Perutnya di pegang Radit dan Karina sama mengusap-usap bagian yang lain di tubuh Radit.


"Mas nambah ya?" pinta Karina.


"Serius? boleh. Tapi Aku istirahat dulu sambil kumpulin tenaga ya, Aku baru tahu kalau Ibu hamil besar juga hasratnya," ucap Radit sambil tersenyum pada Karina.


tok

__ADS_1


tok


tok


Karina dan Radit kaget, suara ketukan di pintu dan perlahan handle pintu di putar, tapi karena di kunci pintu tidak terbuka.


Radit lompat dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya satu persatu. Tak sempat semuanya di pakai, ketukan di pintu mana Bapak suami istri itu Radit mengambil pakaiannya yang gak sempat dipakai dan bersiap masuk ke kamar mandi.


tok


tok


tok


"Rina pakai pakaianmu dulu lihat siapa yang datang," Radit meraih pakaiannya yang belum bisa di pakai dan masuk ke kamar mandi.


Dengan susah payah Karina bangun menyamping dan berpakaian lalu turun berjalan ke depan membuka pintu dan melihat siapa yang datang.


"Oh, Kak Ros. Mari masuk Kak," ujar Karina tersenyum sambil balik badan dan duduk di ruangan tengah.


"Ssssst... ada suamiku, tapi semua sudah selesai duduklah," jawab Karina dengan kedipan penuh arti.


"Oh, alah Aku jadi ganggu ya, benar sudah tuntas apa nggak gantung karena Aku datang?" Ros tersenyum merasa bersalah, tapi begitu mengerti posisi Karina.


"Biasanya nambah, tapi tak apa kelihatan Mas Radit sudah puas kok," jawab Karina sambil tertawa kecil.


Ros sama Karina sama-sama tertawa berdua, Karina membetulkan pakaiannya yang belum sempurna dikenakan.


"Rina, kelihatan Kamu senang banget kalau habis di tengok suamimu, apa Kamu rela semua itu hilang suatu saat? tentu tidak kan? Apa Kamu sudah tetapkan hati membatalkan perjanjian itu dan mempertahankan bayi Kamu nanti?" tanya Ros sambil memandang wajah Karina.


"Jangan bahas itu sekarang Kak Ros, nanti saja kalau suamiku sudah pergi," jawab Karina sambil melirik ke arah kamar mandi dan Raditya belum keluar.

__ADS_1


"Apa tidak sekalian sekarang kita bahas dengan suamimu?" tanya Ros lagi begitu meyakinkan dan menguatkan hati Karina.


"Jangan dulu lah Kak, sekali lagi Aku coba pikirkan itu." Karina begitu tegas memberikan jawaban pada Ros yang sepertinya ingin segera merealisasikan rencana dan ide yang di berikan pada Karina.


Radit keluar kamar mandi dengan handuk yang di gosok-gosokkan pada rambutnya, menengok ke depan dengan siapa karina bicara.


Radit lega bukan Andhini atau Rahadian juga Erika yang datang ke situ. Radit menghampiri Katina dan Ros lalu Ros duluan menyalami Radit.


"Apa kabar Tuan Radit?" sapa Ros sambil tersenyum, Ros baru bertemu secara tatap muka, begitu mengagumi sosok Radit yang tampan dengan postur seperti bule saja, entah ketularan atau memang seperti itu, pantas Karina jadi jatuh hati dan tak bisa melepaskan begitu saja. Selain tampan dan postur yang sangat ideal laki-laki gagah dan pastinya menjanjikan di atas ranjang kaya pula, jadi sepertinya sekilas tak ada kekurangannya.


"Baik, sepertinya Kak Ros sudah jadi teman baik bagi Karina, baguslah kalau kalian sama-sama cocok jadi Aku bisa mempercayakan Karina aman bersama Kak Ros," jawab Radit sambil tersenyum simpatik.


"Iya, Tuan, Karina juga orangnya baik banget banyak mentraktir Aku, karena kata Karina suaminya juga baik banget, sepanjang Aku di butuhkan Aku siap menjaga Karina Tuan," ucap Ros begitu mengundang simpatik Radit.


"Aku senang mendengarnya, mungkin tak bisa Aku ucapkan apa-apa, hanya terimakasih Kak Ros telah baik pada Karina, ada apa-apa jangan sungkan telepon padaku, juga ada kebutuhan terutama buat Karina." tukas Radit sambil mengusap tangan Karina dan Karina memeluk sebelah lengan Radit.


"Pasti Tuan, karena itu adalah tanggungjawab Tuan Radit, Aku percaya Tuan akan memberikan yang terbaik buat Karina," jawab Ros, Radit tak begitu memahami tujuan kata-kata Ros, tapi berusaha tersenyum saja.


"Kalian belum pada makan? beli dulu," Radit berusaha mengalihkan dan melirik Karina di sampingnya.


"Kak Ros sudah beli Mas, jadi Kita selalu makan bareng, makanya Aku selalu butuh uang cash, tapi buat Mas mungkin nggak di beliin soalnya Kak Ros tak tahu ada Mas di sini," sahut Karina seperti merayu Radit suaminya.


"Tak apa, Aku gampang bisa makan di mana saja."


Radit mencabut dompetnya menarik begitu banyak lembaran uang dollar dan di berikan pada Karina.


"Aku pamit dulu, banyak kerjaan yang menunggu, kalian makanlah."


Radit bangkit diantar Karina, sebelum berpisah mereka berpelukan dulu di balik pintu, sekilas Ros tersenyum melihatnya.


******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️



__ADS_2