
"Lo nggak di antar Mas Radit Dhini?" tanya Erika yang menyambut Andhini saat datang sendirian ke minimarket yang masih dalam penataan itu.
"Mas Radit nyamper Karina biar mereka bareng dulu ke minimarket sama-sama Karina perlu tahu jalan dan perlu bimbingan sampai dia bisa jalan sendiri," sahut Andhini datar saja.
"Lo tahu nggak? apa yang sedang mereka kerjakan sekarang?" sahut Erika sambil senyum tetap memandang Andhini yang masuk ke tokonya duluan. Erika yang memegang gembok kunci masuk juga.
"Mungkin lagi buka toko dan mulai aktivitas seperti biasanya bersamaku." Kata Andhini sambil menaruh tasnya di meja bakal kasir.
"Mungkin juga lagi buka pakaian mereka dan memulai dengan bulan madu mereka." jawab Erika sekenanya sambil tertawa.
"Stop! lo jangan berusaha memanas-manasin gue Rika! Gue telah begitu lama memikirkan semua ini. Telah mengatur sedemikian rupa sehingga pola hidup gue tidak terganggu dengan semuanya." Andhini sedikit gusar dan marah dengan candaan Erika.
__ADS_1
"Sorry sis, jangan lo anggap serius hanya bercanda Sayang, Gue tahu lo lebih siap dengan semuanya walau gue nggak tahu hati lo yang sebenarnya, tapi yang gue bayangin memang kotor yang ada di otak gue selalu itu-itu saja." Erika merasa kaget dengan jawaban Andhini yang sedikit marah.
"Jujur gue juga nggak rela Rika, sebenarnya istri mana yang mau berbagi suami? yang mau dimadu? yang rela memberikan suaminya bahkan membayar orang untuk menjadi istrinya? tapi lo tahu masalah gue yang sebenarnya seperti apa?" Andhini seperti merasa tersulut ucapan dan candaan Erika. Ada air bening mengembang di pelupuk matanya.
"Astaga, Dhini sorry banget gue hanya bercanda. Sudah, sudah gue nggak ngomong masalah itu lagi, gue mengerti perasaan lo gue serius nggak lagi-lagi," ucap Erika memegang kedua tangan sahabatnya.
"Rika, apa gue juga terlalu sensitif? sebenarnya gue tak ingin perlihatkan kelemahan di depan siapapun termasuk di depan lo tapi semua keputusan gue adalah yang harus gue jalani sekarang itu pilihan." keluh Andhini tentang masalahnya.
"Yang sebenarnya gue rasakan semua ini adalah berawal dari kerapuhan gue sendiri Rika, gue nggak sanggup seandainya harus kehilangan Mas Radit. Makanya gue berusaha menciptakan kebahagiaan buat Mas Radit dengan memberi peluang memiliki anak dari istri lain bukan berarti gue tidak yakin dengan masa depan, akan tetapi bahagia itu harus di jemput seperti apapun caranya. Gue nggak perduli apa kata orang tetapi yang gue rasakan kebahagiaan hidup itu adalah bersama Mas Radit."
"Jalani saja Sayang semuanya kalau itu baik dan nyaman buat hati lo, gue hanya bisa mendukung dan mendo'akan semoga pada akhirnya kebahagiaan yang lo rasakan."
__ADS_1
"Maaf, ya. Terkadang gue emosional hanya satu keinginan gue saat ini dan kedepannya semoga Karina bisa segera hamil, memenuhi semua keinginan dan harapan gue dan semuanya biar cepat berakhir." Ucap Andhini sambil matanya menerawang tak tentu apa yang di pandangnya.
"Oke, Dhini gue akan coba alihkan pikiran lo kalau siang hari akan gue buat lo sesibuk mungkin hingga tak ada waktu untuk memikirkan suami lo."
"Thanks Rika. Lo selalu terbaik buat gue."
"Sama-sama, gimana kalau siang nanti kita shopping kebetulan suamiku libur Jeanny ada yang nungguin, sepertinya penataan ini tinggal beberapa item saja lanjut pengecekan kalau sudah komplit tinggal kapan mau lo resmikan ayo aja."
"Oke Rika, dengan senang hati. Selesai nggak selesai semua pekerjaan ayo aja kita keluar gue mau jalan-jalan dan bersenang-senang."
Mereka berpelukan, Erika begitu senang melihat wajah dan raut muka Andhini kembali ceria seakan melupakan masalah dalam hidup dan rumahtangganya.
__ADS_1
******