Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Ros Si brengsek


__ADS_3

"Kita fokus ke klinik-klinik saja karena kata Si Brengsek Ros Dia menitipkan Bayinya sambil di rawat, kalau keburu sore dan malam bisa berabe pasti dia mantau terus karena kita belum transfer juga, jangan sampai Ros membawa Bayimu pindah klinik itu yang harus di cegah," ucap Andhini sambil melihat lagi teleponnya, menunggu kabar dari dr Fadli siapa tahu ada kabar baik.


"Karina Apa Ros pernah bicara punya teman atau siapa? dan kamu pernah di kenalkan dengan seseorang temannya?


barangkali pernah bercerita tentang apa saudaranya atau keluarganya di sini?" ucap Andhini lagi pada Karina yang hanya diam memikirkan kesalahannya selama ini.


Karina menggeleng dan mencoba mengingatnya.


"Kak Ros hanya bercerita tentang Biro Ketenagakerjaan dan pernah berkeluarga tanpa Anak tapi gagal," Karina mencoba memberitahukan apa yang diingatnya.


Andhini mencoba berpikir jangan-jangan Biro Ketenagakerjaan yang Dia sebut itu juga fiktif, Di mana suaminya waktu itu dapat Si Ros? benarkah Dia resmi terdaftar di Biro Ketenagakerjaan?


"Rai, Aku curiga Si Ros itu benar apa tidak terdaftar di Biro Ketenagakerjaan yang di sebut-sebutnya?"


"Semuanya terlambat Kak sekarang, yang kita prioritaskan Bayi itu bagaimanapun harus kembali ke tangan kita, tapi sambil boleh kita cari tahu ke Biro itu," sahut Rai melirik Andhini dan Karina yang duduk di belakang.


"Oke Aku telepon Mas Radit dulu sambil kita nunggu juga kabar dari dr Fadli siapa tahu ada diantara dokter temannya yang lain punya jaringan di klinik-klinik di daerah sini."


Andhini meraih ponsel dari dalam tasnya dan langsung memijit satu nomor kontak.


"Halo Mas, di mana sekarang sama Erika?" tanya Andhini diujung sambungan telephon.


"Aku masih di jalan gimana klinik yang dimaksud sudah ketemu?" jawab Radit.


"Belum, sudah beberapa klinik yang Kita datangi tapi tak ada yang di datangi Ros sama Bayi yang di rawat kata petugasnya."

__ADS_1


Andhini melihat di ponselnya ada panggilan lain, dr Fadli memanggilnya sudah beberapa kali selama Andhini menelephon suaminya.


"Ya sudah Mas ke sini dulu nanti kita bicara kagi gimana baiknya," ucap Andhini sambil menutup teleponnya lalu menyambungkan pada dr Fadli.


"Ya dok gimana?" ucap Andhini saat tahu dr Fadli sudah mendengar suaranya.


"Andhini, ada satu dokter yang praktek di satu klinik juga di situ teman dokter seniorku tetapi di klinik itu setelah dicek melalui telepon tidak ada Bayi yang dirawat datang pada hari kemarin sampai hari ini, tapi di sini di rumah sakit ini ada data bayi yang dirawat belum ada namanya yang membawanya seorang ibu-ibu sendiri tapi Aku belum yakin itu orangnya, ini juga lagi pengecekan karena katanya bayinya ditinggal-tinggal!" ucap dr Fadli membuat Andhini, Karina juga Rai terkejut juga.


"Dokter! mungkin itu Bayiku! Ada kemungkinan kalau Ros mengecoh Kita, Dia bilang dirawat di klinik tak tahunya di rumah sakit, Dokter tolong kalau yang datang ke situ perempuan dengan dandanan seperti nanti aku kirimkan fotonya, Bayi laki-laki itu saat dibawa dari rumah berpakaian biru berselimut biru dengan ciri-ciri tidur terus karena sakit, bangun kalau haus dan tidak terlalu rewel, tahan Bayi itu dan sekalian perempuan itu!" ucap Andhini seperti histeris merasa kalau itu beneran Bayi Karina dan suaminya.


"Baik Andhini, Aku akan memberitahukan kabar ini kepada keamanan rumah sakit untuk ditingkatkan kesiagaan, tetapi seandainya ini bukan sasaran yang Kamu maksud maaf. Untuk jelasnya segera datanglah ke sini untuk bisa memastikan," jawab dr Fadli merasa kabarnya bersambut.


"Oke Kita langsung ke situ dokter, terimakasih!"


"Astagfirullah Ya Allah semoga itu Bayi kita Karina, Rai! pokoknya sekarang jalan, pastikan dulu ke rumah sakit itu karena ciri-cirinya sudah mendekati Astaghfirullahaladzim terima kasih dokter Fadli semoga ini adalah jalan terbaik yang Allah tunjukkan melalui dirimu!" Andhini bergumam sendiri, hatinya tegang dan gelisah akan seperti apa kalau dirinya bertemu dengan Ros Si brengsek itu.


"Karina apa punya poto Ros?" tanya Andini pada Karina.


"Kak Ros tak pernah mau di poto, tapi Aku punya satu itu juga poto Dia hasil mencuri tidak terlalu jelas karena dari samping karena Aku pikir buat kenang-kenangan nanti saat kita berpisah, tak tahunya semua ada dalam rencana busuknya." sungut Karina kini merasa geram pada temannya itu yang awalnya selalu dibela habis-habisan di depan Radit Andhini, Erika dan Rai kalau Ros adalah seorang temannya yang baik.


Di tengah jalan, Andhini ditelepon kembali dan mengabarkan memang bayi itu berselimut biru dan juga masih berpakaian biru muda tetapi dalam keadaan kritis.


Karina langsung pingsan seketika, Rai menghentikan kendaraannya tetapi Andhini menyuruhnya jalan ingin segera sampai ke rumah sakit sambil menepuk-nepuk pipi Karina yang pingsan ke pangkuannya.


Terlalu capek lelah dan lemah, terlalu banyak masalah dan beban pikiran dan terakhir mendengar kabar yang sangat mengejutkan Bayinya kritis akhirnya Karina tak berdaya.

__ADS_1


Terlalu banyak menangis sejak Bayinya di bawa pergi, kurang tidur dan tidak makan akhirnya nge-drop juga.


"Ya Allah, Karina bangun! Kita mau sampai di rumah sakit, Kita akan bertemu dengan Bayimu itu!" Andhini tak henti-hentinya membangunkan Karina dengan berbagai cara tetapi Karina tetap saja dalam keadaan pingsan mungkin terlalu capek dan lemah.


Sampai rumahsakit dr Fadli menyambut Andhini dengan tanda tanya besar, tahu ada yang pingsan langsung menyuruh petugas mengambilkan tempat tidur dorong dan mengkondisikan Karina untuk dirawat dan secepatnya bisa siuman.


"Hati-hati Andhini, Kamu lagi hamil tenang saja semua sudah ada jalannya masing-masing," dr Fadli berjalan duluan diikuti Andhini sama Rai dan Karina yang pingsan sudah dipindahkan ke tempat tidur mungkin juga sedang diberikan pertolongan pertama.


Andhini di bawa ke satu ruangan dan dokter juga beberapa orang petugas sudah ada di situ, Andhini sama Rai heran kenapa semua orang seperti menunggunya?


"Ini Ibu Andhini dok, yang memberitahukan kehilangan Bayinya," suara dr Fadli sesampainya Andhini sama Rai di ruangan itu.


Dokter yang di maksud dr Fadli mengangguk dan tersenyum pada Andhini.


"Apa ada keluarga lain yang di tunggu dan ikut ke sini?" tanya dokter itu.


"Ada suami ku masih di jalan karena lagi kurang sehat, juga Ibu dari Bayi itu sekarang lagi pingsan mungkin sedang diberi pertolongan." jawab Andhini ada sedikit keheranan, Kenapa tidak langsung dibawa ke ruangan di mana Bayi itu dirawat? tapi mungkin itu adalah prosedur rumah sakit.


"Baik maaf Kami sampaikan saja kondisi Bayi Itu sebelum Ibu sama keluarganya yang lain melihat dan memastikan kalau kodisi bayu itu sudah meninggal karena hipotermia kedinginan terlalu lama di udara luar dalam keadaan sakit, terlambat di bawa ke sini dan terlambat di tangani," Ucapan dokter itu bagai petir di kepala Andhini dan Rai, akhirnya Andhini juga pingsan di ruangan itu.


*******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2