Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Sandaran sahabat?


__ADS_3

Andhini menyandarkan kepalanya di bahu dr Fadli yang tak berani menyentuh bagian manapun tubuhnya bahkan genggaman tangannya pun dilepas.


Andhini hanya butuh seseorang untuk bersandar sekedar untuk bercerita menumpahkan segala keluh kesah dan permasalahan yang begitu berat di pundak yang menjadi beban di setiap langkah-langkahnya.


Makanan yang tak sempat habis, tersisa begitu saja. Sampai hari menjelang sore baru mereka menyadari kalau mereka sudah lama berada di tempat itu.


Andhini menyadari kesalahannya, dan meminta maaf pada dr Fadli.


"Tak apa-apa Andhini, Aku sendiri malah semakin bertambah simpati kepadamu di luar semua pengorbanan mu Aku telah begitu mengagumimu walaupun sekarang Aku telah mendengar ceritamu, bercerita tentang luka hatimu Aku tidak akan menjadi dokter yang akan mengobati tetapi Aku tetap akan berada menjadi seorang sahabat dimana Aku diperlukan, Aku siap membantu dengan segala kemampuanku, datanglah padaku saat Kamu lelah dan ingin bercerita, saat kamu ingin menghindar dari rutinitas dan permasalahan karena kita bersahabat," ujar dr Fadli memegang pangkal lengan Andhini yang bersandar di bahunya.


"Terimakasih dokter, mungkin dokter akan tertawa sementara Aku masih program kehamilan sedangkan Aku mulai kemarin sore menyatakan pisah ranjang dengan suamiku sampai Karina melahirkan dan keputusan akhir akan diambil entah seperti apa." ujar Andhini sambil menyusut sisa air matanya.


"Aku tak mengira problem kamu seberat itu Andhini," ucap dr Fadli mengeratkan pegangan di lengan Andhini.


"Aku hanya butuh seorang teman."


"Sudahlah, sekarang kita sudah berteman, ayo kita pulang biar Aku yang pegang kendali stir kamu kelihatan lagi labil dan jangan coba ambil risiko," ucap dr Fadli sedikit menegakkan tubuh Andhini.


Andhini menyerahkan kunci pada dokter Fadli dan mereka beranjak setelah Andhini menyimpan uang dan menghitung kira-kira apa yang mereka makan di daftar menu tadi.


Andhini meraih tangan dr Fadli saat mereka mulai keluar dan berjalan dan dr Fadli membiarkan tangannya digenggam Andhini dengan erat, dr Fadli diam saja saat berjalan menuju ke arah parkiran, hanya hatinya begitu panas dingin tak menentu dan debaran yang tak bisa di tahannya, hanya balas menggenggam tangan lembut Andhini di sampingnya.


Kesendirian yang kini menyentuh Andhini telah menghadirkan getaran lain di hati dr Fadli dan entah kenapa Andhini sendiri merasa nyaman, terasa hatinya telah plong saat bercerita apa adanya terhadap seseorang yang belum sebulan ini baru dikenalnya.


Dr Fadli membukakan pintu buat Andhini dan menutupnya secara perlahan lalu dirinya berputar Ke arah pintu samping satunya lagi dan masuk secara perlahan lalu menghidupkan mobil dan mulai berjalan secara perlahan di jalanan mulus empat jalur kota metropolitan Melbourne.


Kebisuan diantara mereka begitu terasa, tapi dr Fadli tal ingin membiarkan suasana tetap seperti itu ingin mencairkan karena semua takut malah menjadi beban bagi Andhini.

__ADS_1


"Makasih ya traktirannya juga tumpangannya, nanti gantian Aku yang traktir," ucap dr Fadli melirik Andhini sambil tersenyum.


"Ah, dokter kenapa harus berterima kasih? harusnya Aku juga berterima kasih pada dokter. Aku telah melewati hari ini dengan perasaan yang seakan terbuka saja jalan bagiku tidak sumpek seperti berada di tempat kerja mungkin karena kita ngobrol ya, tetapi aku merasa senang saja."


"Syukurlah Andhini, semoga kamu bisa melewati hari tersulit dan bisa kembali keluar dari permasalahan dan kembali bisa menata dan menatap masa depan sesuai dengan harapanmu."


"Itu yang Aku sangat senang mendengarnya dokter, selalu ada kata-kata bijak dan harapan support motivasi yang selalu dokter ucapkan begitu membesarkan hatiku tidak melemahkan sama sekali."


"Aku bukan motivator Andhini tapi kalau Kamu sudah kenal yang Kamu dengar mungkin gombalan Aku!" sahut dr Fadli bermaksud menggoda Andhini biar ada senyum manis yang keluar dari bibirnya.


Andhini hanya tersenyum mendengarnya.


"Mau mampir ke tempat tinggal ku? hanya menawarkan biar tahu saja, sepertinya tak terlalu jauh dari tempat kita kecelakaan waktu itu sepedaku lancang menabrak orang cantik sepertimu," goda dr Fadli dengan senyuman yang paling menawan Andhini. Ada harap semua sandaran tadi bisa berlanjut jadi sentuhan lembut yang mendebarkan.


Andhini tersenyum melirik dr Fadli dan mengangguk. Dalam pikirannya ingin menghabiskan waktu sampai malam di luar dan pulang hanya untuk tidur dan besok memulai rutinitas yang biasa dilakukan.


Berjalan bersisian tak seorangpun mengira kalau mereka beda status.


Dr Fadli menyapa setiap orang yang di temui nya mungkin rekan di Rumah sakit atau di kampusnya.


Membuka pintu dan mempersilahkan Andhini masuk ke ruangan yang lumayan luas hanya di huni seorang diri, fasilitas begitu komplit dan memadai hidup di kota metropolitan Melbourne Australia, Andhini tidak mengagumi tempat dan fasilitas yang ada, tetapi mengagumi atas prestasi dr Fadli sendiri yang bisa meraih semuanya di tempat ini.


"Sebentar lagi musim semi kelihatan cuaca masih tetap dingin, sudah berapa musim yang kamu lewati di sini?" tanya dr Fadli sambil membuka kulkas dan melirik Andhini yang melihat-lihat poto dokumentasi medis dan traveling dr Fadli selama di sini.


"Sepertinya baru dua musim, dan Aku begitu betah walau adaptasi perubahan iklim begitu terasa di awal-awal kedatanganku ke sini."sahut Andhini melirik dr Fadli yang lagi memilih minuman.


"Aku sudah mengalami perputaran keempat musim bahkan mungkin tahun ini adalah periode kedua tetapi aku masih setia dengan ke-jombloan ku!"

__ADS_1


Andhini menghampiri dr Fadli dekat kulkas dan membungkuk melihat juga ikut memilih minuman yang di sukanya.


Tangan mereka bersamaan mengambil satu minuman dan mereka tertawa bersama sambil tetap menggenggam kaleng itu bersama-sama karena dr Fadli tak melepas tangan Andhini.


Kulkas tetap terbuka mereka duduk di sofa dengan satu kaleng minuman, menyimpannya di meja biar tidak terlalu dingin, dr Fadli meraih tissue dan menyodorkannya pada Andhini dengan maksud biar mengelap tangannya, tapi Andhini duluan menarik tangan dr Fadli sehingga tubuhnya begitu dekat ke tubuhnya.


Andhini tak bisa memungkiri pesona doker tampan ini, dengan tersenyum mengusap dadanya dengan pengalamannya. Membuat dr Fadli gelagapan.


Dr Fadli meraih tangan Andhini dan menciumnya dengan perlahan, mengerti kesepian Andhini. Hatinya seperti bertalu-talu semua terjadi di luar dugaan dr Fadli.


Andhini seakan lupa kalau dirinya sedang bermasalah dalam rumah tangganya, tetapi ingin melapangkan hatinya dengan menebus rasa sakit dari swmua problemanya.


Andhini menatap wajah simpatik di hadapannya yang hanya berjarak centimeter, kelihatan bule dan tampan juga gagah, nafas panas menerpa wajahnya menghadirkan gelora asmara jiwa muda.


Andhini tahu dr Fadli masih lajang, tapi Andhini tidak menjamin belum melakukannya, di zaman modern seperti sekarang ini begitu banyak eksperimen yang bisa dilakukan apalagi di kota bebas metropolitan Melbourne Australia apa yang tidak ada? termasuk s*x. Andhini hanya ingin tahu dan memancing saja tetapi respon suka dari dr Fadli begitu terlihat besar di pandangan Andhini.


Sekilat tangan Andhini di kalungkan di lehernya dengan muka seakan tak berjarak lagi Andhini merasakan panas nafasnya sendiri beradu dengan dr Fadli yang tak bisa lagi bohong pada dirinya kalau Andhini begitu menarik untuk menolak sentuhannya


Andhini merasakan sentuhan yang begitu lembut dan hati-hati di bibirnya, terasa melayang keduanya merasakan kehangatan dekapan dalam ciuman.


Aku telah membalas sakit yang kurasakan, bathin Andhini begitu sibuk mengatur nafasnya sendiri, karena mulutnya menyatu dalam pagutan.


"Andhini! Aku tak bisa lepas dari pesonamu, kenapa kamu memberikan sinyal kuat padaku? sehingga Aku tak bisa kalau tak menyentuhmu?" ucap dr Fadli dengan nafas memburu.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2