
Terasa ada yang hilang dari hati Andhini, inilah keputusan terberatnya sepanjang hidupnya masalah hati dan perasaannya.
Radit suami yang di cintai dengan sepenuh hatinya pergi memilih lebih memperhatikan Karina istri sirinya demi anak yang di kandungnya.
Rasanya Andhini ingin berteriak sekencang mungkin menumpahkan segala kekesalan hati, sakit seperti terluka, tersayat dan berdarah.
Membayangkan kehilangan Mas Radit dalam hidupnya semua belum Andhini perkirakan seperti apa kenyataannya dan sekarang saat Mas Radit membalikkan badan menghilang di balik pintu seakan semuanya usai sudah.
Jiwanya terasa hampa begitu melayang tak punya pijakan, cinta yang Andhini dan Mas Radit pelihara dari semenjak kuliah dulu dan berakhir indah di pelaminan harus berakhir di antara Karina seorang yatim-piatu yang dirinya angkat martabatnya beri status sosial tinggi bahkan Andhini hargai Karina seperti menghargai dirinya sendiri, di tawarkan masa depan lebih baik, tapi kini semua telah menjadi racun buat Andhini sendiri.
Rumah tangganya berantakan entah seperti apa nasib ke depannya. Bahkan Andhini pun tidak berharap untuk memelihara dan memiliki anak itu, hatinya terlalu sakit Andhini menginginkan dan seharusnya Karina itu menjadi penengah di antara hubungan suami istri Andhini dan Radit, tetapi Andhini melihat Karina begitu berambisi untuk memiliki suaminya walaupun di awal mereka menjalani perjanjian masih biasa-biasa saja dan Andhini juga enjoy menjalani semuanya.
Satu pilihan itulah Andhini ambil keputusannya adalah mereka bisa ranjang sampai batas waktu Karina melahirkan entah seperti apa prosesnya nanti, apa Mas Radit mau menceraikan Karina atau tidak, Andhini tinggal menunggu pembatalan perjanjian diantara mereka.
Satu lagi prediksi Erika menjadi satu kenyataan teringat obrolannya dulu saat Andhini saat mengambil keputusan ini, 'apa lo siap seandainya laki lo nanti berpaling cintanya pada istri yang kamu berikan?'
Andhini menyambutnya dengan tertawa karena Andhini tahu cinta Mas Radit untuk dirinya dan sama Andhini juga menyerahkan hidup dan cintanya untuk Mas Radit.
Kenyataan kini berbanding terbalik Mas Radit memilih istri siri dan anaknya dan Andhini juga sampai berani memberikan pilihan yang sebenarnya harus dipantang dalam sebuah rumah tangga tetapi Andhini apa boleh buat semua adalah pilihannya yang tak perlu disesali semua akan Andhini jalani sampai di mana ujung dari permasalahan ini.
__ADS_1
Tapi hati Andhini tak bisa di bohongi merasa terluka dengan sesungguhnya sampai Andhini ingin berbicara berdua sama Karina ingin melihat sikapnya dan ingin mendengar pandangannya terhadap permasalahan ini.
Melepaskan dan merelakan itu juga keikhlasan, bagi Andhini semua adalah cobaan dalam hidup dan rumahtangganya.
Haruskah Andhini meneruskan terapi dan konsultasi di Rumah Sakit bersama dr Fadli? apa semua itu masih memberikan arti bagi kehidupan dan rumah tangganya?
Mungkin dr Fadli akan sangat gembira dengan keadaan rumah tangganya yang berantakan walaupun itu bukan Andhini inginkan, mungkin akan menjawab semua pertanyaan dan keheranan selama ini kenapa Andhini tidak memperkenalkan suaminya saat acara resmi dan mungkin sekarang sahabat satu paguyubannya sudah pulang diantar Erika sama Mas Rahadian, karena dirinya terlalu lama diskusi dan berdebat sama Mas Radit sampai sekarang Andhini belum keluar dari ruangannya.
Kebersamaan Mas Radit sama Karina selalu mengusik pikirannya terlalu masuk dalam perasaan Andhini, merasa di khianati dan di perlakukan tak adil mereka membuat Andhini marah, tapi selalu mengusap mukanya dan beristighfar untuk kembali memperoleh ketenangan.
Erika datang mengetuk pintu dan langsung masuk dengan muka keheranan ada apa? Andhini kelihatan habis menangis dan Mas Radit keluar dengan tergesa sedangkan Karina baru saja diantar Mas Rahadian ke kondominiumnya.
"Gue resmi pisah ranjang Rika, sampai Karina melahirkan. gue tawarkan opsi pada Mas Radit berusaha masih memberikan pilihan untuk berlaku adil tetapi Mas Radit ingin memberikan lebih kepada Karina. Jelas gue tidak terima walaupun Karina hamil tetapi gue juga istrinya. Gue merasa diabaikan dan merasa terhina, Mas Radit seperti condong memilih Karina, Gue memberikan pilihan pisah ranjang terserah entahlah rumah tangga gue juga akan seperti apa nantinya." Andhini bicara dengan linangan Air mata.
Erika terhenyak, tak bisa berkata apa-apa ternyata dari tadi mereka bicara di sini hanya berdebat dan berantem dan mengakhiri permasalahan dengan keputusan yang menurut hari ke salah mereka pisah rancang sampai Karina melahirkan dan itu akan memupuk rasa masalah Adit untuk nantinya cenderung lebih memilih karena.
"Dhini, Lo mengambil keputusan itu kenapa tak bicara dulu sama gue bukan gue sok akan memberikan pepatah, atau ceramah atau jalan keluar tetapi setidaknya gue bisa memberikan buah pikiran jangan sampai tergesa-gesa memutuskan sesuatu itu," ucap Erika perlahan, sambil menutup mata Andini yang berlinang air mata.
"Laki laki itu diberi peluang dan kesempatan akan mengambilnya tanpa pemikiran panjang dan perhitungan, masalah nanti belakangan keadilan dan kejujuran dalam suatu hubungan sudah bukan masalah lagi sesuatu yang tidak dipikirkan akibatnya, satu kelemahan laki-laki tidak berpikir panjang baru menyesali setelah sadar akan arti sebuah kata kehilangan." Erika memeluk Andhini yang tersedu membayangkan perasaannya membuat Erika sakit hati juga.
__ADS_1
"Gue Bukan sok ngomporin selama ini gue perhatikan melihat sikap si Karina itu diam-diam seperti menyimpan keinginan lain, sudah tidak iklhas lagi menjalani perannya selama ini, gue melihatnya dari tatapan dia walaupun selalu menunduk tapi intuisi gue benar adanya, laki lo akhirnya berpaling lebih memilih Dia." Erika bicara seperti bergumam saja seperti menggambarkan perasaan dan pandangannya selama ini terhadap Karina.
"Sudahlah, sekarang panggil Rahadian suruh ke sini biar dia mengambilkan pakaian gue barang beberapa potong dari kondominium, gue putuskan tinggal di sini." Andhini mengusap airmatanya, Erika menyodorkan tissue.
"Gue telephon aja ya, takutnya dia belum datang mengantar Karina. Tadi kan lo yang nyuruh."
Erika menelepon dan bicara hanya sedikit, terdengar kata di tunggu dan iya, iya. Lalu sambungan telepon ditutup.
Apa rencana lo selanjutnya? apa sih masalah yang sebenarnya itu dan yang lo tidak terima?" tanya Erika serius.
"Gue nggak suka cara Mas Radit mengabaikan gue, cenderung lebih banyak memberikan waktu buat Karina, gue rasa itu tidak adil, gue merasa lebih berhak dari siapapun atas Mas Radit dia suami gue! apalagi saat acara resmi seperti tadi, puncaknya gue merasa tidak mengundang Karina ke sini tetapi Mas Radit bersikeras merasa Karina adalah bagian dari keluarga kita dan selayaknya dia juga ikut ke sini tetapi kan soal Karina tidak semua orang tahu? yang mereka tahu itu adalah Mas Radit suamiku di mana salah gue apa gue salah bersikap seperti itu?" ucap Andhini begitu kesal dan marah.
Andhini bicara seperti berapi-api, Erika memakluminya.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1