Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Bicara serius


__ADS_3

Keluar kamar mandi Andhini melihat Radit tidur di sofa sama sekali belum masuk kamar dan berniat untuk mandiĀ  membersihkan dan menyegarkan tubuhnya.


Mungkin capek dalam perjalanan membuatnya tertidur di sofa, Andhini tersenyum dan membiarkan Radit yang lelap dalam tidurnya.


Andhini turun dan menghampiri kamar Karina yang tidak tertutup rapat membukanya sedikit terlihat Karina sedang melipat kain mukena sehabis shalat ashar.


Andhini mengurungkan niatnya menyapa Karina dan mundur menunggu sampai Karina selesai


"Nyonya ada yang bisa saya bantu? atau paling membutuhkan sesuatu?" sapa Bi Ummah. Mengagetkan Andhini yang sedang berdiri di dekat pintu kamar Karina


"Oh, Bibi? Aku kangen saja keliling rumah Bi dan ingin bertemu Karina ada banyak yang akan aku tanyakan tentang pekerjaannya


"Neng? Neng Rina nih ada Nyonya mau bertemu!"


Karina muncul dan langsung menyalami Andhini yang menatap Karina dengan perasaan yang sulit digambarkan mungkin perasaan sayang atau perasaan kasihan atau perasaan berharap entah apa, yang pasti Andhini begitu ingin memeluknya, tapi kehadiran Bi Ummah di situ mengurungkan niatnya.


"Oh, Nyonya?"


"Iya Karina, kamu betah di sini? juga di pekerjaan kamu itu?" Andhini memegang sebelah pundak Karina yang memegang kerudung karena belum terpasang dengan benar.


"Alhamdulillah Nyonya Aku betah banget, tak terhingga terimakasih yang Aku ucapkan pada Nyonya juga Tuan."


"Syukurlah, nanti malam Aku mau bicara setelah makan malam ya," ucap Andhini menatap muka Karina yang menunduk.


"Baik, Nyonya."


"Syukur kalau Kamu betah di sini jadi kalau Bi Ummah pulang di akhir minggu di sini tidak terlalu sepi."


Karina serasa tak ada kata untuk menggambarkan betahnya tinggal di sini dan bekerja di perusahaan yang sudah kurang lebih 7 bulan di jalaninya.


Serasa hidup kembali dan punya dunia yang berbeda, apalagi di tempat kerjanya mulai banyak yang kenal dan akrab bahkan ada satu laki-laki yang memberinya perhatian khusus walau Karina masih biasa belum memberikan tanggapan lebih.

__ADS_1


Indra seorang salesman satu perusahaan makanan ringan yang setiap Minggu bertemu dengan Karina karena pekerjaan dan penagihan selalu menggoda Karina yang tampak begitu cantik diantara yang lainnya.


Ajakan dan ajakan makan saat istirahat di luar selalu Indra ucapkan, tapi Karina selalu menolaknya dengan halus. Tak ada yang dikejarnya saat ini selain ingin mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk masa depan dirinya dan adiknya, peluang tidak akan datang dua kali mumpung semua masih ada kesempatan dan kesehatan Karina begitu memanfaatkan semuanya.


Masalah yang lain sanggup Karina ke sampingkan pertemuan sebulan sekali dengan adiknya di akhir minggu selalu memberinya kebahagiaan lebih saat melihat senyum Lila dan pelukan kangennya juga sambutan semua penghuni Panti yang selalu gembira menyambut Karina saat berkunjung.


Hidupnya kini semakin berubah harapan baru yang begitu cerah terbentang di depannya, keuangan tak lagi jadi permasalahannya hanya uang lembur yang dirinya pergunakan se-efektif mungkin selain itu semuanya Karina tabung berharap suatu saat sampai pada cita-citanya ingin memiliki tempat tinggal walau sesederhana apapun itulah cita-citanya.


Pacaran dan hidup boros juga menghamburkan uang hasil keringatnya jauh dari kehidupannya hanya ada cita-cita dalam hatinya.


***


Malam hari tiba, Bi Ummah setelah beres semua pekerjaan di malam Minggu biasa pulang Andhini merasa leluasa untuk bicara sama Karina dari hati ke hati di hadapan Mas Radit juga.


"Nyonya biar saya saja yang beresin semuanya," ucap Karina saat Andhini sama Raditya selesai makan dan Andhini membereskan meja makan.


"Rina, sudah makan?"


"Nanti kita ngobrol dulu ya," ujar Andhini sambil ikut ke belakang mengantar piring kotor dan Karina membawa yang lainnya.


"Baik, Nyonya."


"Simpan saja sebagian makanan di kulkas, dan yang lainnya di meja makan belakang ya, tolong Mas Radit bikinkan kopi susu setelah selesai ya."


"Iya, Nyonya."


Andhini masuk ke dalam dan duduk di teras depan bersama Raditya, menikmati angin dan malam dengan semilir angin yang begitu segar.


"Nyonya, Kopi Tuan di simpan di mana?" Suara Karina dari dalam membuat Radit berdehem dan Andhini melirik ke arah datangnya suara.


"Di dalam saja Rina, Aku juga sama Mas Radit mau masuk."

__ADS_1


Andhini masuk diiringi Radit di belakangnya lalu duduk di ruang keluarga.


Karina yang berdiri di suruh duduk juga walaupun kelihatan canggung dan begitu kaku.


"Duduklah, kita ngobrol yang sangat penting dan pribadi."


Karina duduk dengan ragu di sebrang Andhini juga Raditya, Andhini pindah ke samping Karina mereka duduk berdekatan.


"Karina, Aku sama Mas Radit pulang ke Indonesia karena ada hubungannya sama kamu, Aku mau minta bantuan yang sebelumnya minta maaf yang sebesar-besarnya jika Aku terlalu berani meminta bantuan sama kamu," ucap Andhini sambil tak berkedip memandang wajah Karina yang sesekali menunduk sesekali menatap pada Andhini.


"Apa yang bisa saya bantu Nyonya?"


"Kiranya sudi kamu mendengar sedikit penuturan ku. Begini Karina, Kamu tahu Aku menikah sama Mas Radit kurang lebih mau enam tahun dan sekarang mau menginjak tujuh tahun, tapi sampaikan sekarang Aku belum di beri kepercayaan seorang anak lewat kamu Aku ingin meminta bantuan kamu tolong selamatkan rumah tanggaku dengan jalan kami akan menitipkan dirahim kamu benih Mas Radit," ucap Andhini sangat hati-hati.


Karina mengerutkan keningnya tanda belum mencerna kata-kata Andhini


"Intinya begini Karina menikahlah secara siri selama 6 bulan sama Mas Radit Aku yang memilihkan kamu dengan segala pertimbangan, tetapi seandainya kamu tidak hamil selama 6 bulan semua akan berakhir tapi seandainya kamu hamil pernikahan siri itu lanjut sampai kamu melahirkan kurang lebih seperti itu bisa kamu mengerti?"


"Ny-nyonya? S-saya sama sekali nggak mengerti."


"Tenang, kamu pasti kaget mendengar ucapan ku tadi, tak perlu jawaban sekarang pikirkan dulu baik buruknya. Aku sama Mas Radit tak akan merugikan kamu Karina. Hidup kamu sama Adikmu akan Aku jamin, ada uang 1 milyar saat kamu bersedia menikah dengan Mas Radit dan bonus satu unit rumah kalau kamu sampai hamil dan melahirkan anak itu untuk kami, menikah siri dengan Mas Radit dan kamu pindah bersama kami ke Australia."


Deg!


Hati Karina jadi panas,juga sesak, semua lidahnya jadi kelu seluruh persendiannya menjadi lunglai seperti tak bertenaga. Apa yang diucapkan Nyonya Andini barusan seperti sebuah dongeng belaka.


Menikah siri enam bulan dengan Tuan Raditya? kalau tidak hamil semua selesai tapi kalau hamil akan lanjut sampai melahirkan, ada uang 1miliar dan bonus satu unit rumah, gaji bulanan tetap kamu akan terima dan fasilitas lainnya yang akan kamu terima selama di Australia.


Pikiran Karina menjadi oleng, seumur hidup dirinya bekerja mungkin sampai akhir hayat belum tentu bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, satu rumah sebagai bonus kalau dirinya bisa sampai hamil dan melahirkan anak juga jaminan masa depan bagi dirinya juga adiknya serta gaji bulanan tetap selama menjalani kehidupan di Australia.


Tak terbayangkan sebelumnya Apakah semua itu kesempatan atau semua adalah awal malapetaka? tapi mengingat semua kebaikan Nyonya Andhini dan Tuan Radit selama ini apa pantas dirinya menolak semua keinginannya? tapi untuk menjadi istri seorang Tuan Radit apakah dirinya pantas? kenapa Nyonya Andhini memilih dirinya dan kenapa Nyonya Andhini begitu rela membagi suaminya bersama wanita lain?"

__ADS_1


******


__ADS_2