
"Bi, do'ain aku semoga hari ini lancar, aku bisa melewati semuanya tanpa hambatan yang berarti. Ini hari pertama aku masuk kerja, Ya Allah beri aku kelancaran," gumam Karina setelah bantu beres-beres dan mandi lalu sarapan bareng Bi Ummah sambil duduk lesehan di teras dapur. Meminta do'a pada Bi Ummah.
"Semoga suster, suster orang baik punya semangat kerja yang begitu tinggi Insya Allah bisa melewati semuanya dengan baik, Bibi doakan sepenuh hati suster jadi orang yang sukses tidak hanya seperti Bibi hanya
sebatas menjadi art karena sudah terbentur usia mau kerja di pabrik begitu terikat, tidak ada pilihan lain inilah yang dijalani Bibi dan disyukuri saja sampai sekarang. Alhamdulillah punya majikan Nyonya Andhini sama Tuan Radit yang begitu baik, baik pada Bibi juga pada keluarga Bibi."
"Aamiin Bi. Tolong Bi jangan panggil aku suster lagi kan sekarang aku udah nggak merawat Nyonya, panggil saja namaku biar kita sama-sama enak," tutur Karina tersenyum pada Bi Ummah.
"Nggak apa-apa Neng Bibi sudah terbiasa enakan seperti itu tetapi kalau Neng Karina merasa nggak enak mungkin Bibi harus mulai mencoba merubah panggilan pada Neng Karina. Tapi pelan-pelan saja ya." Bi Ummah tertawa merasa kaku dengan kebiasaannya.
"Nah begitu dong Bi, jadi enak kedengarannya."
"Pelan-pelan saja ya sus ... eh Neng Rina."
"Ah Bibi, Bi kelihatannya Pak Budi begitu baik ya Bibi tahu nggak orang yang namanya Pak Budi? walaupun kelihatan matanya intuisi tinggi banget memang seperti itu seharusnya atasan, harus punya penilaian terhadap semua karyawan. pantas Pak Budi menjadi kepercayaan Nyonya Andhini aku melihat sendiri cara kerjanya dan bijaksana tutur katanya.
"Iya Neng Bibi kenal, baik Neng kelihatannya menurut pendapat dan penilaian Bibi tetapi mungkin tergantung kitanya juga di mana-mana sebagai bawahan kita harus mengikuti keinginan atasan dan mengikuti semua peraturan yang berlaku, selain kita bisa harus bisa menempatkan diri bekerja dengan sebaik-baiknya di bagian yang diperuntukkan buat kita," tutur Bi Ummah panjang kali lebar.
"Iya Bi, aku akan berusaha semaksimal mungkin aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan Nyonya yang telah diberikan padaku, tak terhitung banyak yang telah Nyonya berikan kepadaku sampai saat ini, fasilitas dan pekerjaan sungguh aku seperti kejatuhan bintang berada di rumah ini, terlebih mau bekerja di perusahaan Nyonya Andhini dan aku diperlakukan sebagai sahabatnya mungkin aku orang yang paling beruntung ya Bi?" ujar Karina sambil menatap Bi Ummah yang sudah seperti Ibunya saja.
"Harus disyukuri Neng Karina. Tak semua orang mendapat perhatian dan kesempatan begitu istimewa tapi kalau suatu saat Neng Karina sukses jangan lupa Bibi ya!"
"Astagfirullah masa aku lupa Bibi? Bibi adalah orang pertama setelah aku keluar dari panti yang begitu baik setelah Nyonya Andhini jadi gimana aku bisa melupakan Bibi?" sahut Karina mengusap pundak Bi Ummah.
__ADS_1
"Iya Aamiin Neng, semoga semua yang Neng Karina raih saat ini dan nantinya menjadi bekal untuk masa depan Neng Karina sendiri dan semoga keberuntungan ini tidak menjadikan Neng Karina menjadi sombong tetaplah jadilah Neng Karina yang seperti sekarang saat Bibi tahu dari awal mula perjalanan Neng Karina ada di sini..." Ucapan Bi Ummah begitu dalam masuk di hati Karina.
"Ya ampun, makasih tak terhingga Bi, mungkin kalau tidak ada Bibi yang merangkul aku dari awal keberadaan ku di sini, teman segala curahan hatiku, mungkin Nyonya juga tidak akan berpikiran untuk menempatkan aku di salah satu perusahannya. Sekali lagi makasih ya Bi telah banyak membantu aku, terutama meyakinkan Nyonya Andhini."
"Iya Neng hanya doa terbaik dari kita buat Nyonya Andhini juga tuan Radit semoga cita-citanya tercapai bisa sukses seperti di sini dan juga bisa sukses juga di luar negeri dan bisa pulang dengan membawa harapannya yang sudah terkabul yakni ingin memiliki keturunan."
"Aamiin Bi."
"Ya sudah, takut kesiangan ngobrol terus kita ini, jangan mengabaikan masalah yang kecil datanglah tepat waktu ke tempat kerja walaupun itu tidak dilihat oleh atasan kita, itu namanya disiplin seperti yang dilakukan Bibi di manapun kerja kita, harus bertanggung jawab pada diri sendiri dan juga pada perusahaan yang memberi kita penghasilan."
"Iya Bi, aku berangkat dulu ya Bi."
"Iya Neng ...."
Cantik, bersih dan kelihatan semakin mempesona dengan tubuh langsingnya.
Bi Ummah berharap semoga Neng Karina menjadi orang yang berhasil dalam cita-citanya walaupun sebenarnya mereka hanya kenal di sini tetapi ikatan antara keduanya karena saling bersama-sama mengobrol curhat tentang kehidupan masing-masing akhirnya mereka menjadi dekat.
*****
Karina menyetop angkot yang hanya satu kali naik menuju tempat kerjanya, hari masih tidak terlalu pagi juga tidak terlalu siang walaupun kerja dimulai jam 07.30 tetapi k
Karina sudah berangkat dari setengah tujuh.
__ADS_1
Kata-kata Bi Ummah yang baru saja diucapkan sebagai nasehat yang begitu berarti bagi Karina.
"Ya sudah, takut kesiangan ngobrol terus kita ini, jangan mengabaikan masalah yang kecil datanglah tepat waktu ke tempat kerja, walaupun itu tidak dilihat oleh atasan kita, itu namanya disiplin seperti yang dilakukan Bibi di manapun kerja kita kita, harus bertanggung jawab pada diri sendiri dan juga pada perusahaan yang memberi kita penghasilan."
Karina hatinya begitu bahagia walaupun begitu deg-degan apa yang akan dirinya terima nanti sebagai pekerjaan awalnya. Akan ditempatkan di mana dan sebagai apa itu yang menjadi kebimbangan dan pikiran Karina saat ini.
Akankah dirinya mampu? tetapi tak mungkin sebagai atasan Pak Budi memberikan pekerjaan yang belum dirinya kuasai pasti memberikan pekerjaan yang tahap demi tahap akan dirinya pelajari.
Sampai kantor perusahaan Surya Group masih terlalu pagi tetap Karina sudah standby di tempat.
Akhirnya satu persatu karyawan mulai bermunculan dan yang Karina tunggu yaitu Pak Budi datang dengan menyapa pada Karina.
"Sudah begitu siap kelihatannya Karina?:
"Iya Pak, Insya Allah. Daripada kesiangan lebih baik kepagian." Pak Budi mengangguk.
"Mari masuk!"
"Karina menguntit di belakang Pak Budi, dengan perasaan yang masih campur aduk, matanya menyapu pandang sekeliling ruangan Pak Budi yang begitu luas dengan meja terpisah dari meja-meja lain.
Mungkin aku akan diberi pengarahan dulu sebelum ditempatkan di salah satu supermarket yang dimiliki Nyonya Andhini mungkin, atau sebagai tenaga kebersihan atau juga sebagai orang yang beres-beres di gudang atau mungkin akan jadi pelayan di salah satu supermarket yang entah akan ditempatkan di mana.
Hati Karina begitu sibuk menebak-nebak.
__ADS_1
*****