
Sampai siang merangkak Erika masih saja dengan tanpa bosan melirik ponselnya, berharap Andhini menghubunginya.
Tak bisa di pungkiri, masalah Andhini kini selalu jadi masalahnya juga semua, apa-apa selalu melibatkan dirinya. Erika tak merasa jadi beban bagaimanapun Andhini adalah sahabat yang sudah seperti layaknya saudara.
Banyak dirinya dikasih segala sama Andhini, kebaikannya tak terbatas, tak ada kata perhitungan dan semua di bantu dan di mudahkan segala kesulitannya.
Andhini hatinya lembut tapi terkadang juga beringas tak terkendali kalau sudah emosi, tapi lebih ke bisa mengendalikan diri.
Orang kaya seperti Andhini terkadang Erika juga bingung apa yang diinginkan Andhini? kalau materi sepertinya tak kekurangan suatu apapun mungkin kedamaian, perhatian dan cinta juga ketenangan yang diperlukan dirinya saat ini.
Tak terhitung Radit lagi dan lagi tanpa bosan menelepon, juga bertanya hal yang sama tentang Andhini apa sudah ada khabar atau sudah datang?
Erika yakin Andhini bukan orang bodoh pasti dia sudah mengatur strategi dan rencana lain bahkan untuk dirinya menenangkan diri juga dan memberi syok terapi pada suaminya Raditya. Erika yakin satu kali 24 jam Andhini pasti menghubunginya karena kalau lebih dari satu kalau 24 jam keluarga akan melaporkan itu adalah kehilangan.
Di kota modern seperti Melbourne setiap harinya tak terhitung kejahatan yang melibatkan cyber crime, juga langsung bersentuhan dengan orangnya walau sistem keamanan canggih tingkat tinggi dan penangan kejahatan juga sudah maju semakin maju juga dan beragam modus kejahatan di lakukan.
Ada sedikit kekhawatiran Erika akan hal itu, tapi Andhini orang dewasa dan sangat pintar dalam hal strategi apapun, sepertinya saat ini hanya menenangkan diri saja, setidaknya itu yang ada di pikiran Erika bukan hal lain yang menimpa sahabatnya Andhini.
Erika orang yang paling mengerti siapa Andhini bahkan sudah berkeluarga dan sama-sama berumah tangga mereka tetap saling curhat segala hal sampai ke masalah yang pribadi sekalipun.
Kembali kerja dalam tak tenang hati, Erika melanjutkan tanggungjawabnya membereskan satu per satu pekerjaan di bantu dengan karyawan yang baru di rekrut besok supermarket ini akan di buka.
__ADS_1
Habis istirahat benar saja, Ada satu nomor baru menghubungi ponsel Erika. Erika sudah tahu itu pasti Andini.
"Dimana gue harus temui lo?" Erika to the poin langsung saat menerima sambungan telepon.
"Lo pede amat kalau yang telepon ini gue?" balas Andhini sambil tertawa kecil yang menjadi ciri khasnya.
"Bukan pede lagi, otak lo sudah gue baca, bahkan bau lo dari ujung telephon juga gue tahu," jawab Erika sekenanya.
"Hahaha ... jangan-jangan gue di mana juga dah tahu? ya sudah mending nggak usah gue sebutin dimana gue berada datang aja ke sini!" tukas Andhini berlagak nggak ada apa-apa.
"Heith! kalau itu gue nggak bisa tepat karena gue bukan dukun! mending lo sebutin aja biar gue ke sana sekarang juga." timpal Erika begitu serius ingin memastikan menemuinya.
"Lo jangan main-main ya!" jawab Erika merasa di permainkan.
"Datang aja yuk ke sini, Ini merupakan rumah sakit pendidikan utama untuk perawatan kesehatan tersier dengan reputasi tinggi dalam penelitian klinis. Adapun penelitian klinis nya yang diakui secara internasional yakni dalam bidang onkologi, ilmu saraf, penyakit menular, kanker kolorektal diabetes, dan kesehatan mental. Kenapa gue berada di sini? gue mau menyehatkan mental gue biar siap dengan tantangan dan cobaan hidup!" suara Andhini kedengaran bercanda, tapi begitu serius dan mungkin saja itu benar adanya, apapun tak ada yang tak mungkin Andhini lakukan.
"Oke gue percaya, tapi ngapain juga lo kayak anak hilang tiba-tiba seperti mimpi apa ngelindur datang ke situ dengan permasalahan yang lo tinggalkan? sementara semua orang sibuk mencari lo di sini!" tukas Erika menyampaikan kecemasannya.
"Siapa yang cariin gue? emang ada orang yang cari gue? mungkin lo sendiri yang cari gue yang lain udah nggak peduli!" ada ada ketus di ucapannya seakan adiknya tak ingin membahas tentang masalahnya.
"Jangan bicara sembarangan, memang gue cari lo, suami lo juga panik banget, apa harus gue kabarin Mas Radit biar Dia bisa jemput lo?" Erika bermaksud ingin tahu reaksi Andhini seperti apa
__ADS_1
"Mas Radit sudah nggak butuh gue, biar saja dia dengan kesenangannya! gue juga mencari kesenangan sendiri jangan di kabarin kalau sudah butuh pasti dia cari gue, Gue hanya kasih tahu lo aja kalau gue ada di sini, pagi tadi ada accident sedikit gue ketabrak sepeda sehingga kaki gue keseleo dan sedikit lecet, tubuh gue sudah di asuransikan kenapa tak gue manfaatin? makanya sekarang gue ada di rumah sakit." jawab Andhini tak urung membuat Erika kaget juga.
"Lo jangan bicara begitu Dhini, Gue sayang elo, suamimu juga begitu panik, apalagi tahu lo kecelakaan, yang benar saja pokoknya sekarang gue ke situ ya?" Erika semakin cemas saja walau hatinya meragu akan semua ucapan Andhini.
"Ayo ke sini! sekalian lo checkup, nggak usah pikirkan pekerjaan dulu biarin saja, nggak ada habisnya gue mau santai dulu kalau mau ke sini ke sini aja kalau nggak juga nggak masalah pokoknya gue nggak pulang dulu."
"Memang rumahsakit itu hotel ternyaman buat lo? yang bener saja masa ajak gue bersenang-senang di Rumah Sakit? sepertinya benar mental lo yang harus di perbaiki." jawab Erika tak habis pikir dengan ucapan dan kata-kata Andini seperti bercanda tak masuk akal dan di luar dari kewajaran.
"Ya sudah, kalau mau ke sini ayo, nggak juga tak apa, malam gue pulang kok. Bye!"
Sambungan telephon terputus, Erika bernafas lega, tapi tetap Andhini penuh misteri semua serba tak pasti. Haruskah dirinya kabarin Mas Radit? tapi Andhini melarangnya.
Kalau tak di kabarin gimana juga ya? memang serba salah ada diantara dua konflik rumah tangga, mungkin sebaiknya kabarin saja Mas Radit kalau Andini baik-baik saja ada di suatu tempat. Jujur kalau Erika juga tidak bisa menyebutkan di mana tempatnya.
Sangat pribadi kalau harus bertanya kenapa memilih rumah sakit untuk lari dari permasalahan karena itu juga entah kenapa Andhini pengen mencari ketenangan ada hal yang tidak dimengerti bagi Erika walau semua dipahami sangat dimengerti tetapi di satu sisi dirinya harus menghargai apa yang menjadi keinginan Andhini.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1