
"Mas silahkan kalau mau pulang, Aku tidur di sini malam ini," ucap Andhini tanpa melihat wajan suaminya.
Radit menarik nafas panjang lalu menghampiri Andhini dan memeluknya dari belakang, walau Andhini diam saja tak memberikan reaksi apa-apa.
Erika datang tak memperdulikan Radit yang lagi memeluk Andhini, menyimpan makanan di meja dan menarik kursi lalu duduk di depan meja Andhini. Memandangi keduanya tanpa malu. Malah Radit sendiri yang mungkin merasa malu pada Erika.
Radit melepaskan pelukannya lalu duduk di ujung meja, Andhini mengambil makanan yang disimpan Erika tanpa bicara apapun makan duluan sendiri.
"Punya lo bawa aja kalau mau pulang, gue ada yang menemani nggak ada juga tetap nginep di sini," ujar Andhini sambil menyuap makanan dalam pandangan Radit suaminya.
"Kamu serius nggak mau pulang? Sayang, besok kan mau pembukaan tempat ini masa nggak pulang dulu mempersiapkan pakaian misalnya?" Radit mengingatkan Andhini kalau ada agenda penting esok hari.
"Apa bedanya ada di sini dan di rumah? Aku tak bisa memastikan ada teman dan ada seseorang di sisiku." ucapan Andhini seakan menyindir suaminya.
"Sayang, Aku tahu kamu marah, tapi aku sudah minta maaf, kita perbaiki semuanya." jawab Radit sambil memegang pundak Andhini.
Mendengar perdebatan alot antara Radit sama Andhini Erika akhirnya memilih pamit, biarin berdua selesaikan masalah mereka, kalaupun nginap di sini juga kalau berdua Erika tak khawatir lagi.
"Dhini gue pulang dulu ya, soalnya Jhon masuk malam Jeanny tak ada yang menemani." Erika beranjak mengambil tasnya.
"Oke, makasih Rika, sampai ketemu besok Jeanny kalau bisa bawa ya, gue kangen!" ucap Andhini sambil tersenyum mengangguk pada Erika.
"Siap, Mas Radit pamit ya!"
"Ya Rika, hati-hati."
Erika membawa makanannya dan keluar dari pintu samping, meninggalkan Andhini sama Radit yang masih pada diam-diaman. Andhini meneruskan makannya tak memperdulikan Radit yang memandangi di sampingnya.
__ADS_1
Radit beranjak mengambilkan minum dari dispenser di pojokan dan menyimpan di depan Andhini yang sudah selesai makannya.
Andhini minum tuntas air di gelas sekali pakai dan tetap bersikap masa bodoh.
"Jalan-jalan yuk! Biar nggak suntuk kita nikmati suasana malam Melbourne di awal musim semi." Radit tetap mengajak bicara.
"Aku lelah, mau istirahat. Kakiku habis keseleo."
Andhini beranjak mengambil ponsel dan memasukkan ke dalam tasnya lalu menyimpannya di sofa dan masuk ke kamar mandi.
Habis akal Radit membujuk Andhini untuk menebus rasa bersalahnya, mungkin hanya kesabaran yang harus dilakukannya.
"Dhini coba aku lihat Kakakmu," ucap Radit sambil menghampiri Andhini.
"Nggak usah, Aku sudah berobat sendiri, yang Aku perlukan hanya istirahat."
"Dhini ada hal yang ingin Aku bicarakan sama Kamu, kita pulang ya." ucap Radit kembali mengajak dan mengingatkan Andhini.
"Baiklah Andhini, ada hal yang harus kita jelaskan pada Rahadian tentang pandangan buruknya padaku, seharusnya kita duduk bersama dalam hal ini termasuk Karina," ucap Radit sambil duduk di samping Andhini.
"Tak bisakah Mas meyakinkan berdua dengan Karina soal itu? Seandainya Aku tak mau?" Andhini bicara sambil memandang wajah Radit yang kelihatan lagi serius.
"Andhini! ini masalah kita! Apapun hal tak terduga selama kita menjalani semua permasalahan ini harusnya kita selesaikan bersama, kamu ini kenapa tak sedikit saja memberi maaf atas semua kesalahanku?" ucap Raditya sedikit emosi.
"Jangan membentak dan menggertak Aku Mas! Aku bisa balikkan semua fakta kalau Aku mau, Aku juga butuh seorang yang mengerti tapi Mas sendiri telah mengabaikan Aku! Bisa saja kita bubar dan batalkan semua perjanjian ini kalau Mas sendiri tak bisa konsekuen, Aku juga punya perasaan yang ingin di mengerti!"
"Andhini! sejak awal Aku menolak semua ini tapi demi memenuhi keinginanmu Aku bisa menerima, karena Aku rasa semua akan saling menyakiti akhirnya, kini jadi kenyataan Aku selalu berada di pihak salah dan serba salah!" Radit bicara dengan keras.
__ADS_1
Radit menggebrak meja, Andhini mengusap air mata. Sekali lagi Andhini berpikir seandainya waktu bisa diputar ulang rasanya tak ingin berada pada posisi masalah seperti sekarang ini, ada sesal dalam hatinya tapi semua tak bisa diputar ulang lagi.
"Sekarang apa yang kamu inginkan?"
"Mas sadar tidak dengan tindakan Mas sendiri? Mas Radit sendiri yang membuat tidak nyaman kehidupan kita selama ini, sejak awal Aku telah ikhlas dengan menekan perasaanku sendiri demi satu tujuan dan harapan. Mengorbankan segala macam yang Aku punya, cinta, dan materi demi tercapai cita-cita itu, hanya satu Aku menginginkan anak dari hasil yang sah dari darah daging orang yang Aku cintai, tapi kenapa Mas seakan lupa diri dari hakikat yang Aku berikan segalanya untuk Mas Radit? Aku hanya tak ingin kehilangan malam kebersamaan kita demi utuhnya rumah tangga ini! itu saja tuntutanku Aku rasa tidak berlebihan dan tidak terlalu sulit juga untuk dijalani." Andhini panjang kali lebar bicara mengeluarkan semua uneg-unegnya.
"Oke, Andhini kalau kamu menguji cinta dan kesetiaanku Aku tetap mencintaimu dan tak terganti, tapi tidak bisa dipungkiri Aku merasakan perkembangan lain dari perasaanku walau itu tidak aku namakan cinta pada Karina, mungkin hanya perasaan kasihan dan selama dia hamil mengandung anakku itu adalah bagian dari tanggung jawabku, itu saja, selebihnya Aku minta maaf dan kedepannya akan Aku perbaiki kita jalani seperti dari awal kembali."
Andhini bangkit berjalan duduk di kursi meja kerjanya lagi menaruh kepala ber-bantal kedua tangannya, hatinya gamang dengan masa depan rumah tangganya yang seperti ini.
Radit duduk di ujung sofa memandang Andhini dengan hati terkoyak juga, kenapa semua ini harus terjadi? Seandainya Andhini sejak awal tidak menginginkan anak biarlah mereka jalani apa adanya mungkin tidak akan seperti ini, mereka dihadapkan pada permasalahan yang tak terduga sama sekali dengan berakhir seperti ini. Akhirnya kekecewaan pada hati mereka masing-masing terluka dengan permasalahan yang ada.
Hati Radit melunak, tak guna semua dijalani dengan sama-sama emosi, hatinya meleleh melihat Andhini istrinya tersakiti seperti itu, walau tak bisa keluar dari permasalahan yang ada, semua di paksa menghadapi sampai tuntas masalah ini.
Satu kesalahan seandainya Dirinya menyalahkan Andhini, tapi Radit juga punya alasan yang bisa dijadikan untuk bela diri.
Andhini yang dirinya cintai dengan sepenuh hati dan jiwa raganya harus tersakiti oleh perasaan cinta itu sendiri, saat cinta dan keikhlasan tak sepenuhnya bisa dipercayakan pada orang yang dicintainya.
"Sayang, sekali lagi maafkan Aku, Aku tetap mencintaimu apapun yang terjadi dan sampai kapanpun. Kalau tak mau pulang tidurlah di sofa ayo," ucap Radit perlahan sambil memegang pergelangan tangan Andhini.
Dengan perasaan berat Andhini mengangkat kepalanya, Radit meraih dua sisi muka Andhini yang memerah karena menangis, mengusap air matanya yang masih saja menetes dari ujung bola matanya.
Radit memeluknya sambil berdiri, mengusap kepala dan punggung Andhini membimbingnya ke arah sofa tanpa bicara sepatah katapun.
Andhini menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan airmata yang di usap tangannya, sesekali Radit menghela nafas berat sambil memandang Andhini yang diam seribu bahasa.
******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️