Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Pagi yang baru (bab penutup disesi ini)


__ADS_3

Bangun pagi Andhini terasa begitu ringan, terasa bebannya begitu berkurang di pundaknya walau masih dalam suasana berkabung Andhini merasa telah menyelesaikan masalahnya keluarga dan rumahtangganya.


Andhini sadar melihat Mas Radit yang tidur di sampingnya sudah membuka matanya dan lagi menatapnya, Andhini jadi gelagapan mungkin Mas Radit memandangnya semenjak dirinya masih terlelap tadi.


"Mas? sudah bangun?" tanya Andhini sambil bangun lalu duduk takut suaminya sakit atau merasakan tak enak badan.


"Aku sudah bangun jauh sebelum Kamu membuka mata, Aku ingin menatap dan tak membangunkan Kamu yang lagi istirahat dengan lelapnya," jawab Radit dengan tersenyum pada Andhini.


"Mas tak merasakan apa-apa? maksudnya sakit gitu?" tanya Andhini lagi.


"Aku merasakan sesuatu yang begitu berat selama Aku sakit hampir dua minggu," sahut Radit seakan benar dirinya masih ada yang dirasa.


"Mas masih sakit?"


"Iya," jawab Radit pendek.


"Mas merasakan sakit di mana, masih di kaki yang bekas retak itu?" jawab Andhini polos.


"Ke atas sedikit."


"Di mana? kok jadi ke atas sakitnya? nanti biar ke dokter lagi periksa, takutnya efek dari bawah juga," sahut Andhini meraba lutut Radit yang masih di balut selimut.


"Bukan di situ, tapi lebih atas lagi, persisnya di tengah!" ucap Radit sambil menahan senyumnya tapi Andhini melihatnya suaminya seperti meringis.


"Mas? di mana?" Andhini menyadari ucapan suaminya seperti nge-prank dirinya.


"Iya di situ, Aku menginginkan Kamu Sayang," ucap Radit menahan tangan Andhini di daerah situ.


"Mas, ini masih suasana berkabung, juga Mas masih sakit, apa sudah kuat?" Andhini mengingatkan suaminya.


"Andhini, apa Kita selamanya harus berkabung? tentu tidak bukan? kita berhak menatap masa depan dan menata hidup Kita dan melanjutkan perjalanan ini, Kita berhak bahagia setelah melewati semuanya," jawab Radit.


Andhini diam memang tak seharusnya berlarut dalam suasana duka, semua harus mampu di lewatinya.


"Mas, kan Mas masih sakit, apa kuat menginginkan Aku?" tanya Andhini mengerti apa yang di maksud suaminya.


"Semua bisa di coba!" ucap Radit sambil membuka selimutnya menarik perlahan tangan Andhini dan mereka berpelukan.

__ADS_1


"Mas, terasa Kita baru saja melewati sesuatu yang begitu berat, Apa Aku sudah bijaksana memberi semuanya pada Karina?" tanya Andhini dalam dekapan Radit.


"Ssssst...Kamu lebih dari segalanya Andhini, baik pada semua orang, dan telah memberiku pengalaman lain bersama Karina tapi kini seutuhnya hanya Kita berdua lagi, jangan izinkan Aku menikah lagi ya! Karena Aku akan menolaknya."


"Mas! kalau Aku sekarang menolak?"


"Aku akan memaksanya!"


"Ah, Mas!"


Suasana begitu hening di pagi menjelang siang di kamar Andhini dan Radit. Di luar sana gerimis salju masih saja turun walau sudah tidak sederas di awal musim, masih saja meninggalkan rasa dingin yang begitu terasa, tiada rasa yang nyaman selain berpelukan dan bermesraan bersama pasangan.


Radit dengan sayang mengelus perut Andhini yang mulai kelihatan sedikit membesar.


Menciumi dengan tanpa bosan dan menjelajah semua bagian yang sangat di sukanya. Mengusap dan membelainya dengan kerinduan seperti habis berpisah begitu lama, menghadirkan gejolak yang menggelora, dipisahkan waktu selama Radit sakit dan masalah diantara mereka kini telah usai seakan mereka menemukan kembali rasa yang pernah hilang.


"Aku takut Mas," ucap Andhini sambil menjaga perutnya dengan kedua tangannya.


"Takut apa?" tanya Radit sambil membelai bibir Andhini di hadapannya dalam jarak begitu dekat.


"Takut Bayiku kenapa-kenapa," jawab Andhini dengan perlahan.


Andhini mengangguk perlahan dan senyum Radit begitu mengembang. Radit akan terbang seperti Karina yang kini mungkin sedang terbang juga menuju masa depannya sedang Dirinya bersama Istrinya terbang menuju kebahagiaannya.


"Tapi Aku minta satu hal pada Mas mulai sekarang boleh?" pinta Andhini dengan perlahan.


"Minta apa? katakan Aku merasa semua telah usai, kecuali masih ada ganjalan yang membuatmu tak tenang," jawab Radit memandang mata Andhini sambil mengerutkan keningnya.


"Cukup sampai di sini jangan bahas tentang Karina di manapun dan kapanpun terlebih ditempat tidur Kita, semuanya kita tutup lembaran buku mulai pagi ini, hanya ada Aku Mas dan calon Anak Kita!" pinta Andhini sambil mereka saling tatap.


Radit mengangguk dan memastikan juga mengiyakan tanda setuju sambil mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya dan menutup pembicaraan mereka berganti dengan kegiatan lain.


Mereka merasakan kehangatan kembali setelah terbagi dan pernah hilang, dan Radit merasa telah begitu sehat walau semua dilakukan dengan hati-hati.


Pagi yang baru mereka rasakan dan akan seperti itu selamanya sampai siang menjelang mereka masih saja di tempat tidur bergulung dengan selimut dengan pakaian entah di mana.


rrrrrrrrd rrrrrrrrd rrrrrrrrd suara notifikasi ponsel Andhini berbunyi hanya getaran tanpa suara.

__ADS_1


"Biarkan saja tanggung Sayang," bisik Radit sambil tetap meneruskan kegiatannya.


"Ah, Mas takut orang yang penting, tolong ambilkan sebentar, itu terjangkau di atas kepalaku!" desah Andhini di bawah Radit.


"Mau tidak mau Radit meraih ponsel itu tanpa menghentikan babak ke dua keinginannya menguji semua rasa sakitnya yang sudah semakin pulih dan bisa dengan gagahnya kembali menjadi laki-laki seutuhnya bagi istrinya.


"Ya, halo Rai?"


"Kak Andini di mana?"


"Oh, eh Aku masih di rumah. Gimana Rai?" sahut Andhini sambil menarik sedikit selimut ke dadanya. Seakan merasa malu bicara lagi ditempat tidur walau tidak kelihatan sama Rai.


"Aku sama Vira telah mengantar Mbak Karina ke bandara dan memastikan telah terbang, boleh hari ini Aku sama Vira libur? boleh ya Kak, karena kan masih dalam masa berkabung!" suara Rai di sebrang sana.


"Boleh Rai tutup saja Rai ah," suara Andhini membuat Rai heran.


"Kak? kenapa?" tanya Rai merasa khawatir, takut Andhini merasakan sesuatu yang tak di harapkan.


"Oh, eh tak apa Rai, mainlah sama Vira!" sahut Andhini, dan Radit tak perduli Andhini yang lagi menerima menelepon, asyik saja sendiri serasa baru saja merasakan kembali semuanya setelah semasa sakit absen dan masalahnya memuncak.


"Kak, maksudnya main apa? Aku belum menikah sama Vira?" suara Rai kedengaran seperti anak kecil yang sok polos di dengar Andhini.


"Maksudnya boleh jalan-jalan Raaaaai!" Andhini menutup teleponnya saat Radit mengakhiri permainannya dan tepar memeluk dirinya dengan nafas ngos-ngosan dan tersengal takut terdengar di sambungan telepon makanya Andhini langsung menutup teleponnya.


Andhini menatap mata puas suaminya sambil mengelap keringat di keningnya.


"Udah ya Mas, udah dua kali pagi ini," ucap Andhini sambil menarik tangan suaminya yang masih di mengusap-usap perutnya dan dadanya.


"Nanti siang satu kali lagi! karena barusan Aku kerja sendiri," sahut Radit sambil tertawa.


"Mas...!" Andhini mencubit pinggang Radit


SELESAI...


Sampai jumpa di kelanjutan kisah Andhini & Raditya juga Rahadian & Vira.


*******

__ADS_1


Sampai jumpa di novel selanjutnya. Rekomendasi masih karya Enis Sudrajat dengan cerita yang berbeda di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_2