
Andhini merasa lucu mendengar penawaran laki-laki ini, seperti anak kecil saja yang masih baru belajar naik sepeda, tapi kalau memang sakit apa boleh buat kalau itu salah satu jalan keluar terbaik yang harus diambilnya.
Andhini berusaha menggapai tangan pesepeda tadi dan mulai berdiri menapakkan kakinya yang terasa masih sakit, mungkin jarinya saat jatuh tadi melipat atau tertekuk sehingga ada sedikit kekakuan di jari kakinya, apalagi Andhini ada riwayat jatuh sebelumnya, ya kaki itu juga.
"Oke, nggak apa-apa, jangan malu kalau memang sakit ya harus diobati karena di sini Aku nggak ada alat dan obat jadi terpaksa Nona ikut Aku," ucap laki-laki itu.
Mau tidak mau Andhini naik juga ke sepeda setelah ditapakkan kakinya terasa sakit sebelah kanan.
Pesepeda tadi tersenyum karena penawarannya Andhini terima, setidaknya rasa tanggungjawab dan rasa bersalahnya akan sedikit berkurang.
"Nona tinggal di mana?"
Andhini menyebutkan jalan, Blok dan nama gedung kondominium huniannya.
"Oh, berarti tak begitu jauh dari sini. Apa Nona mau kerja berangkat sepagi ini?" tanya laki-laki itu.
Andhini diam saja, memberi kode kalau dirinya malas bicara.
Laki-laki itu mengerti lalu diam dan tetap mendorong sepedanya yang di naikin Andhini, lalu belok ke arah satu bangunan yang bukan kondominium kelihatannya hanya hunian biasa tapi terdiri dari sekat dan kamar-kamar.
"Sampai Nona, mari Aku bantu turunnya." Dengan telaten laki-laki itu membimbing tangan Andhini untuk turun menuju ke sebelah kiri biar kaki kirinya bisa menapak lebih dulu.
Sampai di tempat Andhini di bimbing pesepeda tadi duduk di kursi santai teras yang ada taman kecil di depannya kelihatan semua daun berguguran.
Andhini melihat ke sekeliling, setiap hari dirinya melewati tempat ini terkadang juga tidak melewati karena banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai ke tempat minimarketnya.
Tak pernah memperhatikan dan Andhini baru menyadari kalau tempat ini juga dihuni sama orang Indonesia bahkan seorang dokter yang lagi memperdalam spesialis kandungan atau SpOG.
"Oke, sekarang Aku periksa luka kamu, tapi sebelumnya kita kenalan dulu biar Aku bisa memanggil nama kamu dan komunikasi ngobrol kita lancar." Laki-laki penabrak Andhini, pesepeda, yang ternyata dokter itu mengulurkan tangannya.
"Kenalan dulu namaku Fadli, orang biasa memanggilku dr Fadli, mau manggil apa saja Aku senang," ucap dr itu sambil tetap tersenyum menunggu respon Andini kelihatan dokter itu sangat menunggu dengan mengerutkan dahinya dan membuka matanya lebar-lebar berharap satu nama indah terucap dari bibir Nona cantik ini. Tangannya tetap terulur lama di depan Andhini.
__ADS_1
"Andhini!" Pendek Andhini menyebutkan namanya menyambut uluran tangan itu. Mereka bersalaman.
"Hmmmmght, Nama yang cantik secantik orangnya, apalagi kalau tidak cemberut dan ketus." Canda dr Fadli tak membuat Andhini tersenyum.
"Dokter mau obati Aku tidak? kok kelihatan begitu sibuk berpikir sih?" Andhini bicara masih dengan nada ketus.
"Maaf, Aku hanya bercanda. Sabar dong orang sabar semakin cantik dengan aura kesabarannya."
Andhini tahu dokter itu hanya bercanda, tapi Andhini sedang tak ingin bercanda saat ini, dirinya diliputi oleh perasaan sakit hati kecewa emosi dan rasa sakit di kakinya saat ini semua seakan mencapai puncak kesempurnaan dari rangkuman kekecewaannya mulai malam tadi sampai sekarang.
Dr Fadli memeriksa semua luka goresan dengan memegang betis putih mulus Andhini, matanya selalu mencuri pandang pada muka Andhini yang meringis menahan perih saat di cuci sama antiseptik, kaki yang sangat terawat seperti seorang aktris saja, jangan-jangan Andhini ini adalah seorang artis yang lagi menempuh pendidikan yang luput dari pemberitaan, dirinya memang jarang nonton berita selebritis di Indonesia karena kesibukan.
Walau sedang meringis tetap cantik mirip Tamara Beli Terasi artis blasteran senior Indonesia, atau sudah lama di Australia sehingga kelihatan seperti bule karena ketularan? dr Fadli mulai mengagumi Andhini.
"Hanya luka gores saja, kalau luka di betis ini, sudah Aku cuci dan di obati, sekarang Aku periksa jari kakinya ya?" ucap dokter Fadli sambil tetap tersenyum.
Andhini menjulurkan kakinya dengan posisi searah dokter Fadli duduk, dokter itu mulai memeriksa satu persatu jari yang sedikit agak lecet dan baru saja dipegang Andhini merasa kesakitan.
"Kelihatan hanya keseleo sedikit, tidak ada yang serius, tapi perlu Aku luruskan kembali semua seperti sedia kala, Aku tempatkan pada tempatnya kembali sambil diurut dengan minyak pelumas ini, kamu boleh mengatupkan bibir atau berpegangan pada apapun untuk menahan sedikit rasa sakit yang akan di rasakan." ucap dr Fadli memberi sedikit gambaran karena akan ada rasa sakit walau sesaat.
"Nggak bisa pelan apa?" Andhini berteriak kelihatan setengah marah sambil menahan sakit.
"Udah itu, coba injakan kaki Kamu pasti bisa jalan lagi sekarang." Dokter menyodorkan tissue karena Andhini sampai mengeluarkan air mata.
Tanpa dikomando Andini menginjakkan kakinya perlahan seperti disulap saja sakitnya memang masih ada sedikit sakit tetapi rasa sakit saat ditekan juga diinjakkan sudah hilang kini.
Andhini menghela nafas lega, hari sudah terang walaupun matahari belum menampakan diri, terasa berkeringat tubuhnya walaupun di cuaca dingin dan semilir angin yang menerpa wajah dan tubuhnya.
"Maaf lho, jadi mengganggu perjalanan dan aktivitas Nona Andhini, sekali lagi maafkan ya, untuk menebus rasa bersalahku gimana kalau Aku traktir Kamu sarapan pagi ini? tak baik menolak mau ya?" dokter Fadli seakan memaksa bertanya dan menjawabnya sendiri.
Andhini bimbang, haruskan dirinya hai hei sama laki-laki lain juga sarapan bersama? walau hatinya kini lagi diliputi oleh perasaan kecewa oleh suaminya sendiri mungkin tak apa hanya sekedar menerima perkenalan siapa tahu ada manfaatnya sampai di situ Andini berpikir dan mengangguk mengiyakan penawaran dr Fadli.
__ADS_1
"Begitu dong, biar Aku tak merasa bersalah banget telah mengganggu perjalanan pagi Kamu, tunggu sebentar Aku ambilkan minum dulu dan Aku pakai motor saja karena kelihatan kaki Kamu masih agak sakit pastinya."
Andhini mencoba berdiri dan berjalan dengan langkah pendek, memang masih ada sedikit rasa sakit tetapi tidak sesakit tadi, sepertinya tidak akan mengganggu aktivitasnya hari ini.
Andhini tersenyum kini melihat kakinya yang berminyak bekas diurut lalu mengambil tissue dan mengelapnya.
Dr Fadli menyodorkan minuman satu botol air mineral pada Andhini lalu mengeluarkan motor dan menghidupkannya.
Andhini mengawasinya sambil minum, Ganteng banget dokter itu, dokter SpOG lagi apa sudah beristri? kenapa memilih SpOG? tak adakah jurusan lain yang tidak berurusan dengan cewek pria seganteng dokter Fadli pasti banyak penggemarnya, misal spesialis jantung, atau penyakit dalam.
"Yuk!"
Andhini menghampiri motor yang sudah di naikin dr Fadli lalu Andhini menaikinya di belakang.
Motor berjalan entah ke arah mana, Andhini tak perduli kini mau sampai siang atau sore dirinya tak harus berada di tempat supermarket yang beberapa hari lagi akan segera di buka. Andhini tak perduli!
Andhini begitu menikmati perjalanan dengan motor yang melaju perlahan tanpa pembicaraan diantara mereka.
Hingga tak terasa mereka sampai di tempat yang di tuju dr Fadli membawanya dan berhenti di satu gerai makan akhirnya mereka turun dan masuk bersama-sama.
"Sebenarnya Kamu Andhini kerja apa masih kuliah di sini?" Dr Fadli memulai pertanyaannya setelah mereka duduk menempati tempat masing-masing dan mereka duduk berhadapan.
"Aku kerja, tepatnya usaha sendiri di bidang retail, Aku sudah berumahtangga." Andhini merasa tak enak untuk menutupi statusnya.
"Wow, Aku sudah mengiranya gadis cantik seperti kamu mustahil belum ada yang memiliki, apa Aku salah berada di hadapanmu kini?"
"No problem!"
"Oke, Aku seorang dokter yang memperdalam SpOG di sini, Aku masih lajang, tapi tetap terbuka untuk berteman kalau Kamu tidak keberatan dan tak menjadi masalah buatmu, tapi kenapa pagi-pagi kamu berangkat sendiri? di mana suamimu?"
*****
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️