
"Lo benar nggak pulang? sekarang gue mau pulang, tapi gue khawatir lo hanya sendiri di sini apa lo berani melewatkan malam di tempat seluas ini?" Erika berdiri didepan meja Andhini sambil mengamati raut muka Andhini yang sedang memelototi laptop entah apa yang di lihatnya.
Andhini bergeming memandang Erika sambil menyandarkan tubuhnya di kursi meja kerjanya.
"Apa bedanya bagi gue? ada di sini ataupun di rumah tempat tinggal gue tetap sendiri," jawab Andhini sambil menatap wajah Erika.
"Tapi gue merasa nggak tega dan nggak rela kalau harus meninggalkan lo di sini sendiri setidaknya kita pulang ke tempatku ada Jeanny yang bisa kita ajak bercanda, kebetulan Jhon masuk malam, Ayolah kita lupakan sejenak semua masalah, pulang bersama gue." ajak Erika kelihatan begitu prihatin dengan keadaan dan kondisi Andini saat ini.
"Terima kasih atas penawaran dan perhatian lo tapi gue mau menunggu Mas Radit di sini, gue pengen tahu apa masih ada perhatiannya tidak? tapi kalau sampai malam nggak ada mungkin gue akan tidur di sini atau menelepon dr Fadli mungkin gue minta di temani ngobrol ...." ucap Andhini sambil tersenyum.
"Ya ampun Andhini, stop jangan sama-sama gila! mau seperti apa rumah tangga kalian? mungkin Mas Radit memang benar ketiduran sehingga tidak bisa pulang ke tempatmu dua malam itu." jawab Erika berharap Andhini mengerti.
"Jangan bahas soal itu lagi gue nggak mau dengar! gue biarkan apa maunya mereka! gue nggak tahu maunya si Karina itu apa? juga maunya Mas Radit seperti apa, sampai saat ini gue merasa tak dianggap ada sama mereka! salah gue berada di sini, dan tak mau bertemu mereka?" suara Andhini kedengaran parau.
Erika ikut merasakan apa yang Andhini rasakan, hanya memandang wajah Andhini dengan perasaannya sendiri.
"Dhini, sudah beberapa kali gue tanya dan tekankan pada lo sejak awal lo punya niat berbagi suami, gue telah jauh berpikir kalau lo akan merasakan hal seperti ini saat Mas Radit bersama Karina. Semua ini adalah keputusan lo. Yang merasa kuat elo yang merasa rela elo, tapi lo pada kenyataannya sama saja seorang wanita biasa dengan perasaan sama, tak ada seorang wanita yang berbagi itu ikhlas dengan seutuhnya apapun alasannya, gue tahu dan merasakan hati lo itu tersiksa tetapi karena terlanjur ingin menjalani semuanya."
Andhini diam...
"Bukankah lo sendiri yang dengan sok kuatnya sok ikhlas nya merelakan suami sendiri menikah lagi? setidaknya itu adalah lo yang menyodorkan seorang wanita pada suami lo sendiri." cecar Erika merasa ingin meluruskan dan mengingatkan Andhini kalau semua itu adalah masalah yang diciptakannya sendiri.
__ADS_1
"Tapi gue nggak berharap begini Rika! gue sudah merasa benar dan adil dalam aturan yang menciptakan rasa keadilan, tapi dengan tanpa di sadari mereka telah berkhianat dan mencuri waktu kebersamaan kami, itu yang gue sesalkan." Andhini tak mau kalah dengan jawabannya.
"Salah lo semua itu Dhini menurut gue, menciptakan masalah baru sebelum lo bisa menyelesaikan masalah yang menumpuk di belakang lo itu, masalah dengan Karina belum usai, datang Rahadian adik ipar lo dengan pikiran dan pandangannya sendiri, lo sendiri ngapain bermanja manja sama dokter itu?" Erika mengingatkan.
"Gue harus bagaimana sekarang Rika?"
"Gue hargai keputusan lo mau menunggu Mas Radit di sini, tapi apa lo berani sendirian di sini? kalau Mas Radit nggak datang gimana?" jawab Erika begitu khawatir.
"Gue belum mencobanya, kalau kacau pikiran apapun bisa di jalani, pulang ke rumah lo itu bukan solusi Rika bagi siapa saja yang sedang punya masalah."
"Tapi setidaknya lo punya teman ngobrol gue kalau sekarang kita pulang bareng tapi kalau lo masih tetap di sini oke gue akan temani sampai batas waktu yang lo inginkan, kita ngobrol yang lain saja lupakan semua masalah itu, kita ngobrol dengan ganti topik yang lain yang mungkin bisa membuat kita bahagia."
"Sebenarnya gue lelah Rika, gue malam tadi hampir nggak tidur, satu kesalahan gue menyiksa diri sendiri, makanya gue juga mencari kesenangan sendiri berpikir terus otak gue nggak bisa seiring dengan harapan dan kenyataan, semua bikin mumet dan emosi." jelas Andhini tantang keadaannya,
"Gue merasa bosan aja Rika, sampai gue dengar apa yang dr Fadli katakan, ada secercah harapan yang gue dapat dan di berikan semacam motivasi tapi dengan bukti nyata ada terapinya ada pengecekan kesuburan dan segala macam metode yang paling terbaru yang dia pelajari dr Fadli di sini. smSetelah sekian lama gue bosan dengan cek rutin di rumah sakit sebelumnya, sekarang gue mau mencoba yang lain yang menurut ilmu pengetahuan sudah teruji secara ilmiah banyak yang berhasil dipresentasikan sama dr Fadli gue memang tidak ada masalah setidaknya itu saja yang membuat gue pengen dekat dengan dr Fadli. Selebihnya gue nggak tahu itu masalah dia sendiri kalau soal perasaan dia."
"Gue percaya sama lo tidak akan mengambil keputusan konyol, gue merasa tenang setelah mendengar pendapat dan pemaparan loh setidaknya apa yang bisa gue bantu untuk menyelesaikan masalah lo? karena semua justru terlanjur dijalani keinginan gue hanya satu bereskan dulu masalah, tolonglah bicara apa adanya di hadapan adiknya Mas Radit hanya itu yang bisa membuat lo bisa tenang." Erika tersenyum.
"Itu sebenarnya tanggung jawab Mas Radit sama Karina mereka berdua bisa berterus terang di hadapan Rahadian dia hanya perlu penguatan gue saja."
"Tidak bisa begitu juga, karena semua ini erat kaitannya sama lo saran gue selesaikan dulu satu-satu sekarang Karina sudah mau mencapai
__ADS_1
lima bulan? menurut gue alangkah lebih baik Kalau Rahadian lo rangkul menjadi baking lo menjadi kekuatan biar di sisi lain Mas Radit bisa lebih adil lagi dalam memperlakukan lo sendiri."
"Kalau di rasa itu yang terbaik akan gue rangkul tetapi gue pengen lihat dulu sikap Mas Radit berubah apa tidak setelah ini?
"Dhini, gue tahu lo terlalu mencintai Mas Radit gue juga tahu Mas Radit sangat mencintai lo, pernah pas suatu hari bilang sama gue semenjak Karina hamil hatinya selalu diliputi dengan ketakutan was-was dalam hal apapun dan tak bisa mengabaikan Karina begitu saja dalam keadaan hamil setidaknya itu pendapat dia."
"Tapi bukan berarti mengabaikan gue dong, semua ada waktunya kehamilan tidak menjadi masalah gue mengerti itu, gue sabgat mengerti tapi apa tidak cukup kebersamaan mereka saat siang saja? jadi di mana kata adil yang sudah kita bicarakan sejak awal perjanjian itu? mungkin kalau Karina menginginkan kebersamaan mereka adalah malam gue juga tidak akan mengizinkan mereka bisa bersatu karena gue tak bisa melepaskan pikiran dan melepaskan suamiku begitu saja."
"Baiklah, gue tangkap omongan lo tapi semua berjalan seperti itu sekarang, Apa besok jadi teman satu paguyuban pada datang ke sini?" Erika berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, gue undang juga dr Fadli sebagai tamu istimewa."
"Semoga hanya teman baik Dhini."
"Kita lihat saja nanti!"
"Lo seperti bermain-main dengan perasaan lo sendiri, Dhini!"
"Lo aja kelewat perhatian sama gue, jadinya pemikiran lo negatif melulu."
******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️