Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Tetap menyimpan rasa


__ADS_3

"Aku senang Andhini, kamu bisa meneruskan kontrol di sini, bukan apa-apa tapi satu kehormatan bagiku dan rumah sakit ini bisa menuntaskan semua kesuksesan programnya, terima kasih banyak atas kesediaanmu, Aku hanya ingin melihat kamu bahagia," ucap dr Fadli dengan sangat perlahan, tapi jelas Andhini mendengarnya.


"Aku tidak ingin semua menjadi dari awal lagi dok, riwayatku seperti ini semua sudah di ketahui dokter di sini." jawab Andhini menatap sosok dr Fadli yang begitu senang kelihatannya bertemu dengan Andhini.


"Iya betul itu Andhini, jadi kami juga mudah untuk memantaunya, dan kalau ada sesuatu yang di rasa jangan ragu mengkonsultasikan semuanya," ucap dr Fadli begitu menenangkan Andhini.


Andhini yang duduk bersisian dengan suaminya Raditya dengan sorot mata penuh selidik. Dr Fadli tahu tapi berusaha profesional, karena itu dalam suasana dinas dari pekerjaannya.


"Itu salah satu kemudahan ada orang yang kenal di manapun, terimakasih telah menjadi sahabatku dokter," jawab Andhini sambil bangkit dari tempat duduknya menuju tempat periksa dan suster membersihkan menaruh gel yang di perut Andhini agak ke bawah.


Dr Fadli dengan hati-hati menempelkan alat deteksi, Andhini ikut serius melihat di layar monitor juga Raditya yang duduk di kursinya di hadapkan pada layar monitor ke dua dengan jelas melihat ada sesuatu yang masih samar tapi berbentuk lingkaran kehitaman belum berwujud.


"Satu minggu telah terlewati semakin jelas terlihat ada perkembangan walaupun masih berupa satu titik, ini memang sulit dijabarkan penglihatan nyata tapi ini adalah satu keajaiban, kita ikuti perkembangannya cek secara berkala begitu memudahkan mendeteksi semuanya," ucap dr Fadli sambil melirik Radit yang dari tadi hanya duduk mendengarkan apa yang di ucapkan istri dan dokternya.


Andhini dengan hati-hati turun di bimbing suster, dan Radit menyambutnya sambil mengusap punggungnya.


Radit yang mendampingi Andhini merasa penasaran juga, ikut melihat layar kembali dimana hasil USG secara tiga dimensi siap di cetak dari beberapa sisi.


Gumpalan daging tak berbentuk sanggup membuat Andhini meneteskan airmata, semua begitu seperti dalam mimpi, akhirnya dirinya hamil walaupun Andhini belum merasakan perubahan berarti di dalam tubuhnya.


Memang ada juga hamil yang tidak merasakan apa-apa, tapi itu sangat di syukuri bisa menjalani kehamilan dengan hidup sehat tanpa ada merasakan perubahan hormon di dalam tubuhnya.


Betapa ingin Andhini merasakan semua itu, dan melihat respon suaminya saat dirinya meminta hal yang aneh-aneh.

__ADS_1


Andhini tak perduli apapun kini, suaminya, Karina, Anak yang dikandung Karina, dan semua permasalahan yang ada dalam rumah tangganya. Hanya satu keinginannya Andhini ingin bahagia menikmati kehamilannya tak perduli Mas Radit meragukannya. Sudah jelas walau Mas Radit merasakan keraguan juga Mas Radit cenderung hanya mengikuti ego saja dengan menuduh dirinya berselingkuh, dan Andhini sudah kepalang menyanggupi seandainya Anak itu lahir nanti mereka berdua akan sama-sama mengajukan tes DNA, Andhini menganggap itu semua adalah bagian dari jawaban atas tuduhan suaminya.


Andhini merasa enjoy, menjalani semuanya seakan tidak ada beban bagi dirinya hanya kebahagiaan dan merencanakan kapan akan mengabarkan kepada kedua orang tuanya kalau dirinya sekarang sedang hamil.


Skenario yang dirancang sejak awal dalam perjanjian juga tertulis kalau Andhini akan mengabarkan hamil pura-pura pada kedua orangtuanya, saat usia kandungan Karina mencapai 8 bulan harusnya bulan-bulan ini, tetapi karena semua berubah Andhini tak perduli lagi itu akan berjalan seperti sediakala ataupun tidak, Andhini tidak mempermasalahkan tetapi kalaupun Karina konsekuen dan masih bisa kerjasama Andhini akan tetap memegang janji itu, mengambil dan mengangkat Anak suaminya dan Karina itu dan akan membesarkan layaknya Anaknya sendiri. Tanpa ada hal yang membatalkan perjanjian antara dirinya dan Karina.


Andhini juga merasa biasa saja walau terasa asing hidup satu rumah sama Mas Radit yang kebanyakan diam sejak menyatakan keraguan akan kehamilannya.


Harusnya Andhini yang merasa kecewa karena sebagai tertuduh tanpa bisa menolak karena butuh pembuktian, satu satunya jalan setelah bayi ini lahir baru semua kan jelas terlihat bukti sebenarnya.


Andhini juga melihat Mas Radit tidak terlalu banyak waktu keluar seminggu ini, mungkin kalau soal pengambilan barang di kantor ekspor impor dan ekspedisi itu telah mengandalkan Adiknya Rahadian tetapi Andhini melihat untuk menengok Karina juga sepertinya Mas Radit tidak juga entah kenapa dan apa yang ada dalam pikirannya? sedangkan sama dirinya juga seakan perang dingin dan gencatan senjata.


Kadang Andhini menyuruh Radit menengok Karina, takut ada yang dibutuhkan atau keperluan apa, Andhini masih berbesar hati dan masih tetap bertanggung jawab kalau Karina itu adalah tanggung jawab dirinya.


Radit keluar menebus vitamin yang masih ada di lingkungan Rumahsakit, Andhini masih duduk ngobrol sama dr Fadli sambil sesekali Andhini melihat sorot mata aneh dr Fadli, tapi raut mukanya kelihatan bahagia.


"Aku kangen Andhini, pertemuan ini terasa menjadi obat buatku, kalau kamu tak kontrol ke sini mungkin Aku sudah menjadi seorang mata-mata yang ingin melihat kamu dari dekat," ucap dr Fadli sambil mengusap tangan Andhini yang ada di atas meja.


"Kayak paparazi saja dok!" Andhini tersenyum sambil menarik tangannya, takut ada seseorang yang melihatnya.


"Itu mungkin kejujuranku Andhini."


"Dokter jangan bicara begitu, sejak awal Aku sudah katakan siapa diriku ini, jangan datang saat hatiku gelisah, kedekatan kita selama ini telah merubah pandangan suamiku pada kita, Aku ingin memperbaikinya maafkan Aku yang telah sedikit membuka celah diantara kita,"

__ADS_1


jawan Andhini menatap wajah simpatik di hadapannya.


'Kenapa harus ada sesuatu diantara kita Dok?' mungkin itu kata hati Andhini.


Andhini tahu dan merasakan itu, mereka pernah begitu dekat, merasakan getaran rasa yang sama mendamba kehangatan dalam sama sama galau, hangat nafas berpadu memberikan nuansa gelora asmara yang mungkin tidak terkendali, tapi Andhini tahu diri siapa dirinya dan statusnya.


Dr Fadli hanya melihat wajah cantik dengan bibir mungil di hadapannya dengan dada sesak, Kalau boleh protes ingin rasanya dr Fadli protes pada kenyataan kenapa dirinya begitu terpaku pada satu sosok Andhini yang telah mencuri hatinya, rasa itu terus mengungkung mengisi penuh ruang hatinya, rasa itu malah semakin subur dan berkembang, menimbulkan keinginan yang tak bisa terealisasi.


Rasa rindu disaat mengingat adalah rasa yang begitu menyiksanya.


Seandainya dr Fadli tahu Kalau Radit suami Andhini telah meragukan istrinya sendiri mungkin dr Fadli merasa senang, tapi hatinya juga tidak sejahat itu selalu hatinya di ikhlaskan dan harus bahagia melihat orang yang di cintainya bahagia.


"Tak adakah kesempatan buatku Andhini?"


"Kesempatan apa?"


"Bukankah kita begitu banyak kesempatan buat alasan ketemu? tapi Aku adalah seorang istri dok, bukan yang terbaik buatmu."


*******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2