Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Merasa bersalah


__ADS_3

Sepeninggal Radit Karina berusaha memejamkan matanya tapi tak kunjung terpejam, pikirannya kembali ke awal di mana mereka tadi mengawali melakukan hubungan suami istri.


Karina membayangkan satu tubuh kekar begitu rakus menikmati semua tubuhnya tak memberi kesempatan pada dirinya untuk melakukan apapun karena hanya bisa menerima semua yang dilakukan Tuan Radit pada dirinya.


Karina tak ada waktu buat belajar secara naluri memang mungkin seperti itu, karena polosnya Karina dalam bercinta.


Kalau hubungan mereka atas dasar cinta bukan atas dasar perjanjian mungkin Karina akan berada di pelukan seseorang yang telah merenggut kesuciannya tapi kini Karina menikmati rasa perih dengan sendiri di kamar besar yang sunyi itu.


Membayangkan nafas ngos-ngosan di atas tubuhnya yang menindih secara memaksa menggolkan tujuannya Karina jadi bergidik, terasa sesak di selangkangannya.


Saat terakhir Karina sempat menikmati tapi lupa merasakan di mana nikmatnya bercinta, saat Radit turun dari tubuhnya mengusap kepalanya dan mencium keningnya yang berkeringat.


Ada sedikit kelegaan di hati Karina dirinya telah melewati satu fase di mana awal perjalanan dimulai Tuan Radit telah menggaulinya walaupun Karina tidak tahu seperti apa rasa yang sebenarnya. Karina hanya menerima merasakan arti sebuah cinta yang sebenarnya dalam berhubungan suami istri.


Karina mulai mengagumi Tuannya sendiri, ketampanannya, kegagahannya, juga cara bicaranya walau jarang sekali bicara pada dirinya kalau tidak penting-penting banget.


Karina masih belum memejamkan matanya, mengambil pakaiannya dan mengenakannya.


Lalu turun mau ke kamar mandi, suasana begitu sepi ada rasa sakit di daerah intimnya tapi Karina merasa itu hal biasa bagi yang pertama berhubungan.


Balik lagi ke kamar dan membungkus kembali tubuhnya dengan selimut, dalam khayalnya Karina berharap Tuan Radit balik lagi ke kamarnya hanya sekedar menemani dirinya ngobrol karena Karina tahu Nyonya Andhini pasti masih tidur dengan nyenyak dalam pengaruh obat tidur.


Hubungan suami istri yang barusan di lakukannya menimbulkan rasa lain di hati Karina, dirinya mulai suka berawal dari kekaguman pada Raditya, walau Karina berpikir itu sesuatu yang tak boleh terjadi.


Karina sadar diri tak mungkin mencintainya ataupun mengagumi seperti dirinya karena Tuhan Radit adalah miliknya Andini berhubungan dengan dirinya hanya melakukan kewajiban sebagai suami hubungan di atas perjanjian.


Karina sadar dirinya hanya seorang perempuan sewaan sampai batas waktu yang ditentukan akan seperti apa nantinya Karina tidak tahu tapi jauh di lubuk hatinya Karina menginginkan kehamilan.

__ADS_1


*****


Keluar kamar Karina tanpa mengenakan pakaian karena bermandi keringat Radit kembali ke kamar Istrinya menengok Andini yang masih tidur dalam posisi tadi saat ditinggalkan.


Radit menghampirinya mengusap dan mencium kepala istrinya dengan sayang.


'Maafkan Aku Sayang, Aku telah melakukan keinginanmu.'


Radit keluar dan turun tangga lagi membaringkan tubuhnya di sofa ruang keluarga.


Pikirannya melayang ke mana-mana, dan tertuju pada Karina yang begitu ranum, bibirnya tersenyum dalam hatinya mengakui enak juga dalam hal tidur punya istri dua saat yang satu capek masih ada yang satunya lagi, Radit tak bisa membandingkan keduanya, Andhini tetap istri yang sangat dirinya cintai dan Karina atau lebih seorang Istri yang akan melengkapi kebahagiaan rumah tangganya.


Membayangkan Karina yang terengah-engah Radit merasa begitu berhasrat menuntaskan semuanya, dan jeritan kecil Karina dengan spontan berarti Radit merasa dirinya telah dengan gagah sukses melakukan kewajibannya.


'Haruskah Aku malam ini tidur di kamar Karina? Ah jangan! pasti tak akan membuatnya tidur, kasihan Aku biarkan Kedua istrinya beristirahat.


Radit memutuskan tidur di sofa saja entah dengan alasan apa. Lama termenung dan melamun pikirannya melayang-layang sampai akhirnya menjelang subuh baru bisa tidur.


Suara decitan pagar pintu gerbang rumah depan saat Satpam membukakan pintu bagi Bi Ummah kembali setelah pulang di akhir pekan seperti biasa.


Yang pertama didatanginya adalah kamar Karina tetapi Bi Ummah mendapatkan kamar Karina kosong tak berpenghuni juga pakaiannya hampir semuanya tak ada lagi di lemari Bi Ummah merasa kaget dan heran kemana perginya Karina?


Bertanya juga pada Pak Satpam tetapi Satpam mengatakan Karina ada di dalam dan pasti maaih tidur di kamarnya.


Bi Ummah membuka pintu masuk ke dalam karena kunci dirinya yang pegang, kaget mendapatkan Tuan Radit tidur di bawah di ruang keluarga tanpa memakai pakaian hanya memakai celana piyamanya.


Bi Ummah mundur tak ingin mengganggunya, menutup pintu kembali menunda mau bersih-bersih dan beres-beres.

__ADS_1


Sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya Tuan tidur sampai pagi di sofa keluarga.


Yang pertama bangun adalah Andhini mungkin sudah saatnya bangun, Andhini mengingat semuanya saat sebelum tidur. Dimanakah Mas Radit? apa masih di kamar Karina?


Teringat kalau setiap hari Bi Ummah suka masuk ke semua sudut rumahnya Andhini tak ingin Bi Ummah menemukan Mas Radit berada di kamar Karina, Andhini bergegas turun tangga seperti berlari untuk menuju ke kamar Karina suaminya.


Pandangannya tertuju pada kursi sofa keluarga di situ Mas Radit tidur.


Andhini mengamatinya Mas Radit begitu lelap dalam tidurnya tanpa pakaian. Mungkinkah Mas Radit sudah melakukannya semalam?


Andhini sedikit menggoyangkan tangan suaminya. Radit bangun membuka matanya dan mengucek nya lalu meluk Andhini dengan perasaan bersalah.


Andhini balas memeluknya dengan linangan air mata, Raditpun sama ada rasa sedih di hatinya mereka berpelukan sambil ber-tangisan.


Karina yang mau keluar mundur lagi dan menutup pintu dengan sangat perlahan menyaksikan dalam terang remang lampu ruangan Nyonya Andhini sudah bangun dan sedang berpelukan dengan Tuan Radit di sofa ruang keluarga.


Hati Karina tak bisa di pungkiri merasa bersalah tapi apa daya semua adalah kemauan Nyonya Andhini sendiri.


"Mas, maafkan Aku ya? Aku telah membawa Mas Radit pada permasalahan pelik dan pilihan sulit, tapi percayalah Aku tak sedikitpun ingin merubah perasaan kita masing-masing, Aku hanya rela beberapa bulan saja membagi Mas," ucap Andhini sambil bercucuran air mata.


"Maafkan juga Aku Sayang, semua telah aku lakukan semalam karena Aku ingin memenuhi keinginan kamu." Radit mengusap airmata Andhini yang terus mengembang dan menetes.


"Aku tak mau kehilangan malam kebersamaaan kita lagi."


"Iya, Sayang kita ke atas lagi yuk?" Radit mengajak Andhini berdiri dan merengkuh pinggangnya, naik tangga perlahan.


"Kenapa Mas tidur di sofa semalam?"

__ADS_1


"Aku begitu menjaga perasaan kamu juga Karina, sungguh Aku ingin memeluk kamu dari semalam Sayang, tapi kamu tidur dengan pulas nya.


******


__ADS_2