
Taksi berhenti di deretan kondominium yang menjulang, sepanjang jalan Karina hanya mengagumi keindahan bangunan-bangunan serta pemandangan lainnya yang baru pertama dirinya lihat dan di jejaki.
Banyak hal baru dan pengalaman baru yang Karina lihat semua serba mengagumkan mungkin dirinya akan begitu betah di sini walaupun sepertinya akan berpusar di permasalahan.
Karina berpikir mungkin tak hafal sebulan mungkin mengingat jalan tempat tinggal, dan juga yang lain-lainnya. Perlu adaptasi yang serius yang harus dilakukan berada di Kota metropolitan Melbourne Australia ini.
Andhini menuntun Karina berjalan ke arah lift lantai dasar, ada sedikit antrian mungkin karena banyaknya penghuni satu kondominium yang terdiri dari puluhan lantai itu.
Tak lupa Andini berbicara dan ngasih tahu dari mulai naik lift nama kondominium dan lantai yang akan mereka naikin.
Jalan dan alamat Kondominium yang mereka tinggali. Juga semua arah yang paling penting juga utama yang harus lebih dulu dikenal dan dikuasai oleh seseorang yang baru tinggal di suatu daerah termasuk arah, Utara, selatan, barat dan timur dan kita berada di posisi mana itu untuk memudahkan dan untuk melancarkan segala aktivitas mencegah kita tersesat nantinya.
Semua masih samar di tangkap dan di cerna Karina, sedikit menghafal selebihnya blank tak masuk di otaknya hanya pusing yang di rasakannya.
Karina menempati satu kamar kondominium yang masih satu lantai dengan Andhini juga Radit semua fasilitas sudah ada di dalam semua tinggal memakai.
__ADS_1
Andhini masuk duluan dan menepatkan barang Karina satu tas lumayan besar, membuka jendela dan gorden. Radit yang berdiri dekat jendela memperhatikan sepertinya Karina masih merasakan pusing dan mabuk dalam perjalanan udara.
"Rina, dari lift tadi itu terdiri dari beberapa gang di lantai ini Aku menempati lorong ke 5 dari kanan lift nomor kamar 20, sedang kamar kamu ini lorong ke 3 dari kiri lift nomor 10."
Karina mengambil ballpoint dan kertas menuliskan sendiri lantai sekian lorong sekian juga hunian Andhini sama Radit.
Andhini tersenyum mengerti Kalau Karina belum bisa menangkap sepenuhnya apa yang diucapkan Andhini. Inisiatif luar biasa mau menuliskan itu adalah suatu hal yang dapat dijadikan pegangan seandainya nanti Karina sudah bisa keluar.
"Patokannya gampang naik lift lantai ini, jalan ke kiri cari nomor kamar ini bisa kan?"
"Ya, harusnya seperti itu. Ini hanya sekedar gambaran saja memberikan petunjuk termudah untuk mencari hunian di dalam satu lingkup bangunan yang begitu besar dengan begitu banyak penghuni."
"Iya Nyonya."
"Silahkan istirahat nanti Mas Radit yang akan mengirimkan teh hangat, kalau nggak Aku saja yang bikinkan."
__ADS_1
Radit duluan keluar diikuti Andhini meninggalkan Karina sendirian di ruangan yang lumayan cukup besar dan komplit ada sedikit ruang tamu kamar ruang tengah dapur dan kamar mandi.
Andhini sama Radit berjalan ke kamarnya tanpa bicara, masuki kamarnya dan Radit langsung melempar tubuhnya ke sofa.
Andhini menyalakan dispenser mau membuat teh manis setelah menyimpan bawaannya, hatinya agak khawatir takut Karina sakitnya berlanjut.
Andhini melirik Radit yang terpejam di sofa "Mas mau teh hangat nggak?"
"Boleh."
"Di meja ya, Aku antar dulu buat Karina."
"Makasih."
Terdengar Andhini mengocek teh, lalu keluar membawa teh manis.
__ADS_1
Dunia sudah terbalik seorang majikan melayani pegawainya dan itu atas keinginannya sendiri.