
"Rina, kamu sudah baikan dan bisa beraktifitas hari ini?" tanya Radit sambil mandang wajah Karina yang kelihatan masih agak lesu.
Radit mendatangi kondominium Karina melihat kesiapan dan kondisi Karina pagi itu.
Radit menatap dalam-dalam, saat Karina membuka pintu dan Karina mendapatkan Radit suaminya di depan pintu.
"Ya sudah, kita berangkat sama-sama, Andhini sudah berangkat pagi-pagi banget karena banyak yang mesti dibereskan dan dikerjakan bersama temannya Erika, biar minimarket itu sesegera mungkin bisa dibuka." ucap Radit tanpa di tanya sama Karina.
"Aku baik-baik saja Tuan, Aku bisa kok kerja hari ini sambil mengingat jalan dan melihat sesuatu yang belum Aku lihat sebelumnya."
"Nanti kita sarapan di sana saja." ucap Radit lagi sambil tak lepas matanya memandang Karina yang tak jauh dari dirinya dengan wangi sabun masih menyeruak.
"Baik Tuan."
"Rina, bisa kamu merubah panggilan padaku menjadi apa saja selain Tuan? terutama saat kits berdua."
Deg! ada rasa begitu akrab yang di rasakan Karina dari nada bicaranya Tuan Radit.
"Aku sudah terlanjur nyaman begini Tuan, perlu waktu lama untuk penyesuaian lagi," jawab Karina merasa tetap canggung.
"Baiklah Aku sendiri sudah menawarkan kepadamu tetapi kalau dirasa nyaman seperti itu terserah cuman di sini kita adalah suami istri selayaknya ada rasa saling menghargai di antara kita."
__ADS_1
"Aku akan belajar dan mencobanya." Karina tersenyum sambil mengangguk.
"Bagus, Kamu sudah siap?" ucap Radit sambil masuk ke hunian Karina dan melihat sekeliling ruangan walaupun dirinya juga sudah tahu isi situasi dan keadaan di dalam ruangan itu.
Karina menjadi tergagap sendiri, Karina memang sudah dandan tapi belum sepenuhnya selesai tinggal mengganti pakaian saja yang di pakainya masih pakai pakaian tidur tanpa lengan dengan bawahan rok celana pendek di atas dengkul.
Kebiasaan yang sudah dibawanya dari Indonesia mungkin akan tetap menjadi penampilannya di sini yaitu menggunakan hijab makanya tadi pas waktu melihat ada yang mengetuk pintu Karina ragu-ragu membuka tapi ternyata itu adalah suaminya jadi Karina membukanya.
Radit mendekat setelah sebelumnya menutup pintu dan menguncinya.
Karina jadi salah tingkah hanya duduk di sofa mini tanpa meneruskan lagi dandannya.
Radit menangkap kedua tangan Karina dan menariknya berdiri, mendekatkan mukanya dan menyambar bibir itu seketika.
"Karina, apa kamu merindukan Aku setelah malam pertama itu?" ucap Radit dengan nafas memburu.
Bibir dan lidah Karina menjadi kelu tak mampu menjawab apalagi mulutnya penuh dengan mulut dan lidah Radit yang mulai menjalar ke mana-mana.
"Jawablah, apa kamu merindukan Aku?" ucap Radit semakin tak terkendali terus merangsek ke semua penjuru tubuh Karina.
Dari berdiri akhirnya duduk di sofa, mereka bergumul dengan cumbu tanpa Karina jawab satupun ucapan yang dilontarkan Radit. Karina hanya pasrah menikmati dan menerima semuanya.
__ADS_1
prang ....
Satu gelas di meja tersenggol jatuh berantakan, tapi Radit tak memperdulikannya.
Sekilat membopong tubuh Karina ke tempat tidur dan perlahan menarik semua yang menutupi tubuh mereka, pergumulan panas dimulai.
"Aku merindukan saat seperti ini Karina walau Aku terlihat munafik pura-pura tak begitu menginginkan, waktu siang adalah milik kita persiapkan dirimu setiap pagi karena Aku akan datang dan melakukannya." Suara Radit terdengar menakutkan tapi Karina menyukainya.
Tak ada sedikitpun penolakan dari Karina.
"Semoga kamu bisa menikmatinya mulai saat ini."
Satu lingkaran tangan Karina dileher Radit, dan ciuman panas keduanya begitu menggugah hasrat muda mereka, tak bisa menolak semuanya Radit merasakan sensasi berbeda dari Karina dan mulai menjadi candu yang terus membayang di otaknya selalu dan selalu ingin mengulangnya.
Pengalaman pertama Karina juga tak kalah menantang, hubungan suami istri yang kedua kalinya membuat dirinya ingin merasakan kembali kelanjutan dan selanjutnya.
Mulai memberi perlawanan menginginkan lebih dari penyatuan hingga merasakan bagaimana nikmatnya surga dunia, melupakan kalau dirinya hanya istri diatas perjanjian.
******* alami dari pacuan Radit semakin menggila hanya ada nafas dan rintihan kecil yang keluar dari mulut Karina sampai melepaskan satu erangan kenikmatan puncak Radit yang panjang menandakan selesainya kepuasan mereka raih.
Mereka berpelukan dengan keringat tanpa kata tanpa sehelai benang menutupi mereka.
__ADS_1
******