
"Andhini, Karina meminta maaf atas segala kesalahannya sampai saat ini dia masih merasakan kesakitan tapi dokter belum mengambil tindakan apapun karena katanya masih bisa lahir normal, di tunggu sampai jam sembilan malam kalau tidak ada peningkatan dan kemajuan mungkin dilakukan tindakan operasi SC," ucap radit diujung telepon saat mengabari Andhini kondisi terkini Karina.
"Ya ampun Mas, Aku memaafkan semuanya, Aku ikhlas semua telah terlewati dan Aku berharap Karina melahirkan dengan lancar tanpa suatu apapun dan kita semua bisa menyelesaikan dengan baik pula nantinya, tanpa ada beban di dalam hati kita masing-masing kita sama-sama ikhlas," jawab Andhini merasa cemas juga.
"Makasih Sayang, nanti Aku sampaikan sama Karina biar dia merasa tenang dan semoga maaf dari Kamu bisa memperlancar semuanya." Jawab Raditya seperti ada beban pengakuan dalam bicaranya.
Andhini menutup telepon dan matanya menjadi segar kembali, hilang semua kantuknya.
Andhini menjadi merenung sendiri setelah Erika sama Vira pulang kelihatan Vira sudah capek dan Andhini menyuruhnya istirahat saja.
Kenapa dirinya begitu kesepian di tengah keramaian? juga di tengah banyaknya masalah dalam rumah tangganya yang silih berganti datang. Terasa ada yang kurang dalam hidupnya, apa ya? mungkin ketenangan dan lingkungan yang damai, mungkin nanti kalau sudah ada bayi akan terdengar tangisan dan semua akan semarak dan berwarna rumah tangganya.
Andhini mengusap perutnya yang masih rata, ada kesedihan setiap dirinya mengusap perutnya, sampai saat ini Mas Radit belum pernah membelai atau sekedar mengusapnya, pernah terbersit saat puncak masalahnya ingin pisah saja, tapi dengan segala masukan dan pertimbangan Erika akhirnya Andhini melemah juga, tapi kalau dipikir sudah begitu banyak masalah yang ada, dan itu di sadari Andhini semua dari pangkal permasalahan dirinya yang menginginkan Mas Radit menikahi wanita lain demi Anak yang akan memenuhi harapan orangtua kedua belah pihak akhirnya Andhini banyak mengalah dan menekan perasaannya sendiri.
Kini semakin mengerucut masalahnya Karina dalam proses melahirkan akankah seperti harapan semua penyelesaiannya?
Andhini sudah melakukan antisipasi seandainya semua berubah haluan, misal Mas Radit tetap tak ingin pisah Karina, Andhini akan tegas dengan pilihannya dan seandainya Karina juga berubah tak menepati perjanjian mungkin saatnya merelakan semuanya berakhir, Andhini hanya punya Anak dari suaminya Radit, tapi jangan harap Mas Radit dapat pengakuan seorang Bapak nanti bagi Anaknya.
Dalam diam Andhini merasa kalau semua permasalahan yang ada adalah datang dari dirinya, termasuk perubahan sikap suaminya, tapi semua sudah di sepakati sejak awal perjanjian itu di buat, di situ Andhini bisa sedikit menghibur hatinya tak merasa sepenuhnya salah dirinya.
Andhini berusaha menjadi contoh yang baik bagi pemegang perjanjian dan konsisten dengan janji yang di ajukan dan di sepakati bersama, semua kewajibannya di penuhi tanpa ada yang kurang, 1M uang saat Karina menandatangani dan siap menikah dengan suaminya, gaji perbulan dengan jumlah yang di sepakati, biaya hidup secara cash tiap minggu, jaminan kesehatan dan kontrol dokter saat hamil, biaya persalinan dan saat serah terima Anak akan ada bonus satu unit rumah cluster siap huni.
Andhini merasa dirinya maksimal dalam memenuhi janjinya pada Karina, kini tinggal menunggu sampai Karina bisa sehat kembali paska melahirkan.
__ADS_1
Adapun permasalahan di luar perjanjian itu yang Andhini sesalkan, Karina dan suaminya seakan jatuh cinta, dan Karina seperti enggan melepaskan suaminya, Andini jelas tak terima dan di satu sisi Mas Radit seakan membela Karina selama Karina hamil.
Waktu menunjukkan pukul 19:12 tapi Mas Radit belum mengabarinya, seperti apa kabar terkini soal Karina,
Kecemasan tetap saja ada dan sambil menerka seperti apa nanti saat Karina menyerahkan bayinya Andhini belum sedikitpun membayangkannya.
Apa baiknya menelepon Rahadian yang berada di rumahsakit? begitu bimbang nya Andhini dan ingin mendapat kabar dan keselamatan Karina tentunya.
Akhirnya ponselnya berdering Mas Radit yang menelephon, Andhini langsung menjawab.
"Ya, Mas gimana?"
"Dhini, ada hal yang harus Aku sampaikan kalau Karina sekarang kritis dan mau diambil tindakan, kalau kamu bisa datanglah ke sini sebentar Rai menjemputmu, Aku butuh tanda tanganmu juga sebagai pernyataan kesiapan keluarga menerima resiko apapun nanti hasilnya," ucap Radit dengan suara perlahan dan bergetar.
"Bukan Dhini, menurut dokter Karina terlalu lama kontraksi tapi pembukaannya lambat, akhirnya Karina lemah sendiri dan tak berdaya," ucap Radit memberi keterangan sesuai yang di terimanya.
"Oh, ya ampun. Ya sudah Aku siap-siap menunggu Rai menjemput."
Radit memutus sambungan ponselnya dan Andhini memasukkan ponselnya ke dalam tasnya dan berganti pakaian dengan pakaian dingin dan lengkap dengan mantel tebal kaus kaki, sarung tangan juga aksesoris lainnya karena tahu diluar cuaca begitu dingin.
Rai mengetuk pintu dan Andhini membukanya. Sekilas menatap wajah Rai yang kedinginan, Andhini menawarkan dulu minum tapi Rai menolak mungkin karena suasana lagi nggak enak.
Andhini selesai berdandan lalu mengambil tasnya dan bersiap keluar, Rai memberi jalan pada Andhini biar jalan duluan.
__ADS_1
"Kak Andhini nggak apa-apa? belum tidur kan?" sapa Rai sambil menunggu Andhini mengunci pintu.
"Nggak kok, Aku malah nggak bisa tidur juga Rai di rumah, hanya berpikir dan menunggu datang kabar baik tentang Karina, padahal di rumahsakit saja ya tadi jangan pulang mungkin bisa lebih cepat Karina di tangani," jawab Andhini sambil menaikkan dalaman kerah sweater nya. Berjalan ke arah lift dan keluar dengan cuaca begitu dingin.
"Diluar tutun salju lho Kak, hati-hati jalanan licin," ucap Rai mengingatkan Andhini sambil meraih tangannya menuntun Andhini ke parkiran.
Rai membuka pintu mobil dan setelah memastikan Andhini masuk dan duduk lalu memutup pintu lalu berputar dan masik dari pintu samping satunya lagi.
Sepanjang jalan yang hanya kurang lebih 15 menit mereka diam sibuk dengan pikirannya masing-masing, Rai fokus ke jalan yang berkabut dengan salju tipis, Andhini sibuk berdo'a semoga Karina selamat dan sehat dua-duanya bayinya juga ibunya.
Sampai rumahsakit Radit menjemputnya di lobby depan, memeluk Andhini dan meminta maaf lagi entah untuk apa, atau untuk kesalahan yang mana Andhini tak mengingatnya hanya ada satu harapan kini keselamatan Karina yang utama.
"Sayang ada hal yang harus di bicarakan sama dokter mari kita ke ruangannya, situasinya sangat darurat," ucap Radit sambil merengkuh pinggang Andhini dan berjalan di lorong panjang menuju ruangan dokter.
Kepanikan dan kecemasan terlihat di muka Radit suaminya, walau semua terbaca Andhini Radit berusaha tegar.
Sesal dalam dada Andhini semua kini tak berarti lagi kalau sampai terjadi hal yang tidak di inginkan pada Karina, saat ini semua hanya pasrah pada keajaiban dan nasib juga takdir yang di peruntukan bagi masing-masing.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1