
"Lila, sini Sayang kenapa beberapa hari ini kamu kelihatan murung? Apa ada yang kamu pikirkan atau ada yang di perlukan untuk kebutuhan sekolahmu?" tanya Bu Elyana pada Lila yang kelihatan akhir-akhir ini selalu murung tidak ceria seperti hari-hari sebelumnya.
"Tak apa-apa Bu, Aku hanya kangen sama Kak Rina, kenapa nggak ada khabar atau pulang ke sini padahal sudah beberapa bulan sejak kepergian terakhirnya." jawab Lila kelihatan khawatir dan mendung raut mukanya.
"Oh itu, mungkin Kakakmu lagi sibuk jadi tidak sempat untuk mengabari kamu apalagi untuk berkunjung ke sini, tapi kamu jangan murung begitu nanti Ibu cari tahu kabar Kakakmu kalau memungkinkan nanti Ibu akan panggil Lila saat Ibu bicara dengan Kakakmu ditelepon." ucap Ibu Elyana sambil menghampiri Lila yang duduk di bangku kecil depan halaman pelataran Panti yang biasa di gunakan anak-anak bermain dan bersenda gurau.
Kata-kata Ibu Elyana tak membuat ceria kembali wajah Lila, gadis kls 5 SD itu masih saja murung, mungkin pikiran dewasanya sudah mulai tumbuh dan sudah mulai berpikir jauh melihat kondisi kalau kenyataan yang dirinya hadapi sekarang adalah perpisahan dengan Kakak satu-satunya keluarga kandungnya. Satu harapan demi masa depan yang lebih baik itu yang selalu ada dalam pikirannya seperti yang Karina selalu katakan sebagai permintaan pengertian pada adiknya kenapa mereka berpisah .
"Lila, ada saatnya kita harus berkorban dengan perasaan kita untuk satu tujuan. Siapapun untuk apapun tujuan kita pasti ada yang harus dikorbankan termasuk perasaan kita. Seperti contohnya kamu sekarang tidak akan berubah masa depanmu dan masa depan Kakakmu seandainya Kakakmu Kak Rina tetap berada di sini di dekat kamu akan tetap kehidupanmu seperti ini berkecimpung dengan dunia Panti tetapi kalau Kakak Kamu mau mengenal dunia kerja diluar sekarang juga sudah memperlihatkan perubahan yang begitu banyak yang sangat berarti dalam hidup kamu, doakan saja Kak Rina sama seperti Ibu juga mendoakannya semoga apa yang dia kerjakan di sana lancar sukses dan bisa pulang kembali ke sini dengan selamat dengan membawa bekal masa depan yang di cita-citakan nya." panjang lebar Ibu Eliana memberikan pengertian kepada Lila yang mulai ABG dan sudah mulai berpikir tentang kehidupan nya.
Bimbang hati Ibu Elyana apa sebaiknya berterus terang sama Lila kalau Karina bekerja di luar negeri yakni di Australia atau sementara disembunyikan dulu sampai kelihatan Lila siap menerima kenyataan kalau Karina bekerja dengan kontrak yang tidak tahu sampai kapan.
Mungkin sudah saatnya Ibu Elyana menelephon Karina, hanya sekedar bertanya tentang kabar dan mengabarkan juga kondisi adiknya di sini.
Entah kenapa Karina juga tak ada kabar dan mengabari, apa kondisinya baik-baik saja? seperti apa atau memang karena terlalu jauh berbeda negara sehingga menyulitkan untuk berkomunikasi karena mahalnya tarif via telepon?
"Ibu janji, nanti malam akan Ibu telephon Kakakmu ya Lila, semoga saja bisa nyambung tak seperti kemarin-kemarin nada suaranya selalu di luar jangkauan saat Ibu telephon."
"Iya Bu terimakasih, Lila cuma mau menyampaikan kalau Lila sebentar lagi hatam Qur'an dan tak lama lagi mau kenaikan kelas, Lila hitung setiap hari mulai Kak Rina pergi terakhir kali sekarang sudah hampir tiga bulan kenapa Kak Rina sepertinya tak punya waktu sedikit pun hanya untuk mengabari?" Ada air mata di bola mata Lila, walau dengan sekuat tenaga ditahannya tetap saja tak bisa di bendung nya. Pertalian sodara yang seakan di tinggalkan sendiri di Panti dan bayangan ketakutan lain seperti ada yang mengadopsi di bawa ke tempat jauh, tak ada seorang Kakak sebagai pelindungnya dan tak bisa menghubungi lagi Kakaknya begitu mencemaskan hati seorang Lila kecil.
__ADS_1
"Sabar Lila, mungkin kakakmu benar-benar sibuk nanti akan Ibu cari bagaimana caranya biar bisa menghubungi dan mendapatkan kabarnya."
Tapi kesedihan Lila tak bisa di sembunyikan lagi, menangis dipeluk Ibu Elyana satu satunya orang yang dekat dan bisa di percaya tempat segalanya, mencurahkan keluh kesahnya.
"Apa uang jajan kamu masih ada?" ucap Ibu Elyana mengalihkan pembicaraan.
"Aku tak pernah jajan Bu, hanya membeli kebutuhan sekolah saja pencil, ballpoint sama buku, Aku kasihan sama Kak Rina semua uang yang Kak Rina kasih dari pertama masih ada, Aku mau jadi adik yang baik tak hanya menghamburkan uang buat jajan sedang Kak Rina banting tulang mencari duit sendiri," sahut Lila masih tersedu dan terbata menjawab Ibu Elyana.
"Astagfirullah Lila, kamu nggak pernah jajan sama sekali di sekolah? haus sekalipun? itu tidak benar Lila, Kakak kamu pasti ikhlas memberikan kepada kamu dan itu sudah menjadi kewajibannya seseorang yang tumbuh menjadi besar duluan sebagai Kakak dan orang tua berkewajiban terhadap adik dan anaknya mengurus dan menyayanginya."
"Aku hanya khawatir Bu, apalagi sekarang Kak Rina nggak ada khabar Aku malah semakin ingin menyimpan uangnya bukan memakainya." jawab Lila
Lila mengangguk ada rona pengharapan di matanya, juga ada senyum walau di paksakan.
Terlihat kebahagiaan di wajahnya.
Bermainlah saat bermain dan belajarlah saatnya belajar duniamu memang seperti itu soal lain biarlah orang dewasa yang menyelesaikannya. Begitulah harapan Ibu Elyana pada Lila gadis kecil yang di titipkan dan menjadi tanggung jawabnya.
"Sudah sore mandilah sana, sebentar lagi ngaji dan belajar."
__ADS_1
"Baik Bu, terimakasih."
Lila masuk ke dalam dan berbaur dengan anak yang lainnya.
Ibu Elyana menghela nafas dalam dalam, sekilas mengingat perjalananan Lila sama Kakaknya Karina yang sudah dirinya anggap sebagai keluarganya sendiri di Panti itu.
Ada keheranan di hati Ibu Elyana kenapa begitu lama Karina tak ada khabar? biasanya kalau lagi di sini selalu menelephon mengabari dan bertanya tentang Adiknya Lila, kalau ada waktu malah datang berkunjung mungkin di jadikan rutinitas selama satu bulan di pastikan akan datang berkunjung.
Tak bisa di pungkiri perasaan Ibu Elyana merasa khawatir juga, pantas saja Lila merasa nggak enak hati dan menghitung hari malah sejak keberangkatan Karina terakhir selalu Lila hitung.
Bu Elyana bangkit karena waktu sudah ashar akan mulai membimbing anak-anak yang masih kecil untuk mengaji dan setelah maghrib dilanjutkan dengan anak-anak yang sudah agak besar, begitulah kegiatan dan keseharian setelah aktivitas yang lain dari pagi hingga sore dan malam menjelang semua mengakhiri aktivitas dengan beristirahat.
Semua itu dulu dibantu sama Karina semasa Karina belum bekerja keluar tapi semua itu sekarang dilakukan seorang diri hanya dibantu yang memasak dan seorang sopir dan yang juga membantu kegiatan yang lainnya.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1