
"Mau apa Mas Radit ke sini? kan sudah tahu gue tidur di sini!" jawab Andhini dengan ketus.
"Andhini, Mas Radit itu suami lo, wajar kalau dia menanyakan dan menengok lo, juga memastikan lo ada di sini. Tolong jangan tambah rumit masalah rumah tangga lo kalau bisa jadikan masa-masa pisah seperti ini sebagai bahan introspeksi diri masing-masing bukan malah mencari kesempatan semuanya! pokoknya gue pusing melihatnya!" sungut Erika merasa masalah Andhini sama Radit semakin membuatnya dilema.
Banyak hal sepele dan harusnya semua terselesaikan tetapi semua malah tambah berlarut-larut.
Di satu sisi Radit dengan pilihannya yang dirasa menurut pendapatnya semua biasa saja, dan di sisi lain Andhini mencari kesenangannya sendiri sebagai pelampiasan rasa sakit hati nya.
Kelihatan dua-duanya sama-sama keras kepala, tapi Erika bukan berarti membela sahabatnya Andhini tetapi Erika cenderung menyalahkan pihak Radit karena menurut Erika diantara keduanya yang paling tidak konsekuen adalah Radit sebagai suami.
Andhini hanya seorang yang sakit hati lalu mencari seseorang yang bisa menjadi sandarannya itu mungkin saja dilakukan siapapun dengan keberanian tinggi tetapi Erika yakin Andhini tidak akan sejauh itu keluar dari batas norma hanya sekedar mencari kesenangan sebagai hiburan hatinya yang akhir-akhir ini banyak di kecewakan.
Andhini merasa mungkin kalau dirinya mampu juga mencari seseorang yang sepadan dalam hal apapun, mungkin itu hanya sebagai pembuktian diri terutama pada dirinya sendiri, tapi kalau sudah ingin membuktikan di hadapan Mas Radit itu akan sangat berbahaya karena akan menghadirkan konflik yang semakin berbelit dan panjang tak terselesaikan.
"Katanya kalau malam nanti Mas Radit mau ke sini lagi," ujar Erika sambil membereskan berkas di mejanya.
"Mau apa?"
"Ya gue nggak tahu, mungkin membawa barang dari kantor ekspedisi," ucap Erika sambil meraih tasnya, bersiap mau pulang.
"Lo mau pulang?"
"Ya, gue orang normal. Pulang lah ngapain kerja 24 jam? ada suami dan anak yang nunggu gue, ini juga sudah kemalaman, istirahat dengan baik karena lo yang menginginkan sendiri pisah ranjang, jadi nikmati semuanya sendiri di sini, kalau merasa nggak mampu sendiri tahan suami lo kalau nanti ke sini," ujar Erika sambil memanyunkan bibirnya pada Andhini.
__ADS_1
"Ada lagi orang yang cari gue hari ini?" tanya Andhini menahan langkah Erika.
"Rahadian ke sini tadi, tanya lo ke mana. Gue jawab sama seperti ke suami lo, pokoknya gue berharap lo harus lebih hati-hati dalam bertindak apapun walaupun rumah tangga dalam keadaan kisruh begini gue nggak mau lo memanfaatkan suasana, kelihatannya Rahadian menjadi mata-mata yang tak bisa lo abaikan," ucap Erika seperti mengingatkan sahabat Andhini yang di dalamnya ada pesan jangan sama-sama gila, Mas Radit seperti itu jangan dibalas Andhini dengan saling menyakiti.
Andhini diam, Erika melakukan kiss bye dan keluar mau pulang dan menutup pintu.
Andhini berjalan ke ruang tidurnya yang tak begitu besar hanya di sekat bagian kantornya yang tadinya diperuntukan buat sekedar istirahat. Setelah mengunci pintu Andhini berpikir, ada satu hal yang lupa ditanyakan pada Erika agenda hari ini yaitu penerimaan Satpam di efektifkan mulai kapan? satpam sebagai rekrutmen karyawan lengkap juga lupa bertanya pada Erika jam berapa tadi supermarket nya tutup.
Andhini melempar tas ke tempat tidur single dan masuk ke kamar mandi, hanya ada beberapa potong pakaian saja yang ada di lemari kecilnya, karena kemarin mau ambil pakaian berujung percekcokan dan pertengkaran. Andhini makai baju seadanya dan merebahkan tubuhnya.
Andhini tak merasa takut walaupun belum ada satpam yang menjaga supermarket nya karena kawasan itu sudah dijaga satpam umum siang malam dan dikontrol keliling dengan mobil patroli setiap berapa jam sekali.
Andhini meraih ponselnya sambil berpikir apa benar Mas Radit akan datang ke sini menurut pesan Erika tadi?
Walaupun setiap bertemu dengan Mas Radit selalu bertengkar berbeda paham berbeda prinsip dan memang semua yang dilakukan Mas Radit seakan sengaja membuat dirinya marah dengan alasan yang menurut Andhini dibuat-buat dan disengaja, tapi jauh di dalam hatinya begitu merindukan kebersamaan.
Andhini tak bisa membayangkan kalau saat ini Mas Radit bersama Karina, dan melakukan segalanya, rasa panas di dalam dadanya semakin membuncah sampai akhirnya Andhini sendiri sadar semua itu dirinya yang mengatur dan merencanakan, Andhini hanya bisa menghibur hatinya sendiri kalau semua itu akan berakhir tidak kurang dari dua bulan lagi dan bulan besok dirinya harus duduk bersama antara Mas Radit dan Karina karena episode terakhir dari perjanjian itu Andhini yang akan menjadi hamil pura pura dan akan dikabarkan pada kedua orang tuanya.
Andhini masih bisa menahan diri semua perasaannya ditekan sampai sedalam-dalamnya, walaupun perjanjian sejak awal sudah berjalan tidak sempurna lagi tetapi Andhini masih bisa berharap perjanjian ini masih bisa diselesaikan sesuai rencana awal.
Andhini menimbang-nimbang memandang nomor kontak di ponselnya Mas Radit yang kelihatan lagi online lalu menggeser jarinya mengusap di ponselnya dr Fadli sama lagi online juga.
Dengan segala pertimbangan Andhini memijit nomor ponsel dr Fadli.
__ADS_1
Dengan berpikir Andhini menunggu ponselnya nyambung dan di terima.
"Halo Andhini Sayang, Aku sudah memperkirakan kalau Kamu akan menelpon dan tak bisa tidur!" ucap dr Fadli saat tahu Andhini menghubunginya padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertatapan, saling bersentuhan dan berciuman dengan penuh perasaan, lalu berpisah yang hari itu mereka torehkan sesuatu yang tak akan terlupakan.
"Kayak dukun aja bisa menebak, dokter hebat kalau begitu," ucap Andhini kedengaran begitu menggoda.
"Andhini, kenapa kamu menebar pesona ragamu di hadapanku? jujur Aku tak bisa fokus apapun hanya memikirkan kamu!" dr Fadli tak bisa menyembunyikan rasa tertariknya.
"Kenapa dokter salahkan Aku? apa dokter tidak menyadari kalau dokter juga begitu menarik dan menggoda?" tukas Andhini dengan suara empuknya.
"Ah, Andhini kamu begitu bisa menepis, rasanya Aku mau terbang saja ke hadapanmu kini." suara dr Fadli yang begitu mendamba kedengarannya seperti satu harapan yang begitu besar telah menantinya.
"Jangan, sekarang Aku mau tidur. Kita tidur bareng sekarang memimpikan satu keindahan yang sama, berharap mimpi kita sama dokter," ucap Andhini dengan tawa renyah.
Dr Fadli seperti tersihir atau terhipnotis sendiri merasakan semua rasa yang berbeda pada Andhini.
Lama mereka diam dan Andhini telah tidur dalam lelahnya.
"Halo, Andhini? ya halo? Andhini apa kamu masih di situ?"
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1