Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Kontraksi awal


__ADS_3

"Pelan Mas, kayaknya itu tempatnya Aku mau makan di situ," ujar Andhini sambil melongokkan kepalanya ke luar kaca mobil.


Radit memelankan laju jalan mobilnya menepi dan meminggirkan mobilnya lalu membelokkan ke arah tempat itu menuju parkiran yang banyak mobil sudah standby di sana.


Andhini membuka sabuk pengaman dan langsung turun, Radit yang melihatnya hanya tersenyum sambil tergesa menyusul.


"Sabar sedikit kenapa? apa laparnya sudah nggak tertahan?" ucap Radit sambil berjalan mengimbangi Andhini.


"Aku memang gampang lapar, kalau sudah merasa enak dengan makanan itu maunya itu aja tak mau yang lain, dari pagi hanya makan apa Aku nggak ingat," jawab Andhini merasa kalau pagi malas mau sarapan.


Andhini melihat lihat semua menu di banner besar di samping etalase makanan, semua tampak enak di matanya Radit langsung mencari tempat duduk dan menarik kursi bagi Andhini mendapat tempat di pojokan.


Andhini datang setelah memesan makanan tanpa bertanya pada suaminya, biasanya memang seperti itu Radit tak pernah bawel atau rewel dengan makanan yang dipilihkan istrinya Andhini sudah tahu mereka selalu sepakat dengan menu yang sama walau terkadang Andhini suka berlebihan memesan di luar kapasitas mereka.


Andhini duduk dan melihat-lihat ponselnya, Radit duduk di sampingnya memandang Andhini yang kelihatan agak kurus diawal kehamilannya.


"Udah pesannya Sayang?" sapa Radit seperti dulu lagi memanggil dengan panggilan Sayang.


Andhini menutup ponselnya dan tersenyum mengangguk pada Radit.


Radit tak ingin membahas apapun saat ini apalagi yang membuat Andhini tidak mood untuk makan, sampai saat menu pesanan datang Andhini begitu lahap makan apa yang menjadi makanan incarannya. Dari menu yang satu ke yang lainnya, Andhini tahu Radit begitu gelisah dan makannya tidak begitu seperti biasanya, mereka penjelajah kuliner enak tapi kali ini Radit seperti tidak selera makan entah ada apalagi yang mau di bicarakan Andhini tak perduli.


Sebentar-sebentar Radit melihat ponselnya yang di simpan di sampingnya. Andhini berusaha tenang mungkin soal Karina pasti tak ada hal lain diantara mereka.


Sore menjelang senja, masuki awal musim dingin semua bersiap dengan kostum pelindung, hal yang baru mereka alami sebenarnya hal yang sangat di tunggu pergantian musim membuat setiap orang bisa melewati momen dengan kesiapan, apalagi bagi pasangan yang baru menikah atau sedang menjalani bulan madu adalah hal yang sangat romantis, bisa berjalan diantara rintik salju sambil berpelukan.


Selesai makan Andhini menatap Radit di sampingnya yang kelihatan seperti bingung.

__ADS_1


"Mas kenapa? makannya sedikit, apa sakit?" ucap Andhini dengan tatapan biasa saja.


"Oh nggak, Aku lagi cemas saja Karina sudah mulai perutnya terasa katanya mulas katanya, barusan mengabari, tapi karena Aku takut mengganggu selera makan kita Aku tunggu sampai kamu selesai baru Aku sampaikan semuanya," ucap Radit. Kenapa setiap ingin bersama Andhini ada saja halangannya, entah di sengaja ataupun tidak sepertinya selalu banyak hal yang tak di perkirakan.


"Oh, ya ampun kenapa Mas tak bicara dari tadi? di sampaikan saja, Aku nggak apa-apa malah kini ikut cemas juga pokoknya sekarang kita langsung bawa Karina ke rumah sakit biar kalau sudah ada di rumah sakit ada yang menangani jadi kita bisa merasa tenang.


Radit memandang wajah tulus Andhini dengan perasaan bersalah yang menggunung di dalam dadanya, Andhini memang begitu baik bukan hanya saat ada keinginan saja terbukti sampai saat ini masih saja baik pada Karina yang telah banyak keluar dari perjanjian awal mereka dan membuat masalah.


Andhini berdiri langsung dan diikuti Radit berjalan keluar menuju parkiran.


"Karina masih di rumah kan Mas? sama siapa?" Tanya Andhini sambil duduk di jok sebelah Radit duduk.


"Iya, tadi Ros yang suka menemani yang kasih kabar kalau Karina sudah dari pagi merasa mulas tapi belum begitu di rasa dan sampai sore ini baru Ros meminta bantuan karena diperkirakan inilah saatnya," sahut Radit sambil menghidupkan mesin mobil.


"Semoga lancar semuanya, dan Karina bisa kuat melewati masa sulit ini, mau ke rumah sakit mana Mas?" tanya Andhini melirik Radit dan Andhini melihat ada kecemasan di raut muka Radit.


"Baiklah, Aku kabarin Erika dulu biar bisa ada persiapan kalau ada hal yang di perlukan." Andhini kelihatan cemas karena menyangkut hidup dan mati, juga perjuangan seorang wanita siapapun itu.


Dalam suasana kini Andhini berusaha harus menahan perasaannya dan ego sendiri walau Karina dan Radit telah membuat dirinya kesal dan marah seakan malah di sengaja membuat hatinya panas tapi semua sudah lewat buat apa harus dipermasalahkan toh semua kini akhirnya mendekati final.


Sampai di kondominiumnya Andhini sama Radit langsung ke tempatnya Karina, tanpa basa basi Radit langsung mengetuk pintu yang tak tertutup rapat.


Ros membukakan pintu dan mempersilahkan Andhini dan Radit duduk. Karina duduk di ruang tengah dengan berpeluh keringat Andhini menghampirinya diikuti Radit di sampingnya.


"Rina, Kamu baik-baik saja kan? mungkin sekarang saatnya Kamu lahiran, kita ke rumah sakit sekarang, Ros persiapkan semua kelengkapan buat Karina, Mas tolong papah Karina berjalan. Jangan pikirkan apapun yang penting semua selamat, biar Aku yang pegang kemudi," ujar Andhini memberi instruksi pada Ros dan Radit suaminya.


Tanpa menjawab Karina hanya tersenyum yang di paksakan kelihatan menahan rasa sakit meringis seperti di tahan setiap sakit dari kontraksi yang di rasakannya.

__ADS_1


Dengan sigap Ros membenahi semua keperluan Karina, di masukkan ke tas besar dari mulai pakaian buat salin, juga perlengkapan bayi yang telah lama di persiapkan Karina.


Radit mulai mengulurkan tangannya merengkuh pinggang Karina dan membantunya berdiri lalu berjalan pelan-pelan.


Andhini melihat pemandangan itu merasa dirinya yang merasakan seperti yang Karina rasakan kini.


"Rina, masih bisa berjalan dengan di topang Mas Radit?" ucap Andhini saat berjalan di belakang Karina dan Radit.


"Bisa Nyonya, Aku masih kuat. Hanya saat kontraksi saja perasaan nggak kuat Ya Allah," jawab Karina sambil berpegangan pada pinggang Radit.


Berempat masuk di lift turun semua tak ada yang bicara hanya diam dan sesekali ringkasan Karina begitu mengkhawatirkan semuanya.


Sampai di rumahsakit sekitar jam 07:00, Karina langsung di daftarkan pada penanganan UGD dan langsung di masukan ke ruang observasi untuk penanganan lebih lanjut.


Radit menandatangani semua berkas dan mengisi data pasien lengkap. Andhini dan Ros duduk di lobby ruang tunggu dengan perasaan masing-masing.


Ros merasa heran dengan sikap Andhini yang terlihat begitu baik dan ikhlas dengan semuanya, mungkin karena keinginannya yang besar akan anak yang di kandung Karina nanti.


Ros tak melihat sikap jelek dari Andhini malah melihat kalau Andhini begitu perhatian Karina seperti pada saudaranya sendiri bukan seperti pada madunya.


Hanya kesimpulan Ros mungkin Andhini begitu baik saat keinginannya belum tercapai, bisa saja hanya mengambil hati Karina dan setelah itu entahlah.


*******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2