
"Mas, sudah pulang?" Andhini membuka pintu sambil tersenyum, meneliti wajah basah suaminya yang kelihatan kedinginan.
"Andhini, Aku sudah bisa menghubungi Karina kembali ada hal yang perlu Aku sampaikan kepadamu tapi tolong tahan dulu emosimu demi kebaikanmu dan juga demi selesainya masalah ini," ucap Radit sesampainya di huniannya saat Andhini menyambutnya di depan pintu dan Radit membuka mantelnya.
Andhini diam menunggu kata selanjutnya dari suaminya, berusaha menahan diri walau tidak tahu apa yang akan di sampaikan suaminya.
"Mas, mau minum yang hangat dulu?"
"Boleh," ucap Radit sambil mengusap punggung Andhini yang bangkit menuju ke belakang di mana biasa bikin minuman.
Dua cangkir minuman hangat tersaji di meja sofa, Radit masih membuka semua perlengkapan di tubuhnya termasuk sarung tangan dan kaus kakinya.
"Sayang kita kecolongan selama ini Karina seperti dikendalikan Ros, semua yang Karina inginkan sepertinya atas masukan dari Ros, Aku jadi khawatir dengan keadaan mereka Karina dan Anakku, Apalagi Bayi itu kemarin agak panas kata Karina dan satu lagi Karina masih tetap pada tuntutan itu tak ingin bercerai, tapi seandainya itu tak bisa terpenuhi ada tuntutan lain yaitu meminta uang kompensasi empat kali lipat baru mau menyerahkan Bayinya," Ucapan Radit tak membuat Kaget Andhini, semua sudah diprediksinya.
"Begitu banyak Mas? sepertinya Aku stop saja tak bisa memberikan apapun lagi buat Karina, bahkan bonus rumah dan kendaraan juga mungkin Aku Batalkan saja, soal Bayi itu terserah Mas Radit juga terserah Karina saja, mau dalam pengasuhan siapapun terserah. Aku sebagai Istri Mas Radit hanya mungkin akan memberi sedikit pelajaran bagi Karina tolong sampaikan sama Karina Aku tak bisa memberikan biaya dengan target yang Dia inginkan kalau Karina meminta Bayi Itu dalam pengasuhannya, Aku akan memberikan biaya sewajarnya saja keperluan Bayi menurut usianya," ucap Andhini seperti sudah di rancang sedemikian rupa.
Kata-kata Andhini datar saja tak terlihat ada kebencian dan emosi walaupun sebenarnya Radit tidak tahu seperti apa perasaan istrinya mungkin sudah anti ******* dari semua masalah yang ada membiarkan semuanya berlalu begitu saja, hanya satu yang Andhini inginkan bertemu dengan Karina dan bicara terus terang seperti apa keinginannya apa Andhini menerima usulan Karina atau menolak, Andhini akan katakan di depan Karina nanti seandainya dia ternyata ingin bertemu.
Radit diam, mungkin berpikir atau semacam menimbang baik buruknya.
__ADS_1
"Tadinya Aku nggak mau membebankan Karina dengan Bayi itu, keinginanku Bayi itu ada dalam pengasuhan Kita," ucap Radit seperti bergumam sendiri.
"Mas boleh berkeinginan, Kita tempuh jalur hukum apa itu yang terbaik? Aku malas menghabiskan banyak waktu yang begitu berharga hanya ingin hak asuh anak dan saling mempertahankan dan ujung ujungnya saling menyakiti biarlah semua apa maunya Karina tapi tak ada kompensasi empat kali lipat semua tidak semudah membalikan tangan apalagi ke depannya tetap Bayi itu akan menjadi masalah di antara kita dan Karina siapapun yang memiliki hak asuhnya."
"Maafkan Aku Andhini, semua jadi begini," ucap Radit kembali pada permintaan maafnya.
"Mas jangan meminta maaf terus Aku juga bersalah dalam hal ini, yang tidak kita perkirakan adalah sikap Karina yang berubah, otomatis merubah segalanya," jelas Andhini kalau dirinya juga berkontribusi besar dalam permasalahan ini.
Makanya Andhini tidak mau menyalahkan Radit suaminya menjadi seperti ini untuk itu semua Andhini selalu membuka maaf untuk suaminya karena mau tidak mau Andhini akui dirinya yang menuntun suaminya kepada permasalahan ini juga Andhini tidak mau menyalahkan Karina, karena Karina juga manusia biasa yang pasti berubah melihat dan merasakan kenyamanan selama jadi istri siri Mas Radit dan fasilitas yang diberikan dari tiada menjadi seseorang di sampingnya jelas itu perubahan besar pasti Karina merasa terbuai keadaan makanya Karina ingin mempertahankan kenyamanan itu.
"Aku hanya menyampaikan kejujuran itu Andhini, kesalahanku terlalu banyak padamu, tiada keinginanku yang lain selain Aku ingin kembali padamu meniti kembali titian yang pernah ada kembali pada nyamannya rumah tangga kita dan menyelesaikan permasalahan ini, Kamu menerima maafku sudah melupakan kesadaran bagiku dan cambuk yang begitu berarti atas keteledoranku selama ini."
Kenapa tidak kini Andhini istirahat dan banyak waktu menikmati kebersamaan mereka.
"Lakukan keinginanmu Sayang, Aku hanya bisa mendukung apapun pilihanmu, jika itu lebih baik dan merasa nyaman," jawab Radit sambil memandang Istrinya dengan perasaannya sendiri yang sulit di ucapkan.
"Mas, Apa Karina akan datang ke sini atau Mas yang akan jemput Dia? Aku lelah dengan semua ini tolong usahakan biar Aku bisa bicara langsung dan memutuskan semuanya, dan tak sabar ingin segera memulangkan Karina ke Indonesia," ucap Andhini karena terlalu lama dirinya terkungkung dalam permasalahan ini.
"Iya, Aku usahakan besok bisa menjemputnya bersama Rai."
__ADS_1
"Semoga semuanya berjalan lancar," jawab Andhini perlahan.
"Dhini, hanya satu permintaanku seandainya Bayi Itu jadi milik kita dan ada dalam pengasuhan kita, tolong jangan beda-bedakan dengan Anak kita yang masih ada di dalam perutmu itu, walau Bayi itu Anakku dengan Karina," ucap Radit seperti meminta pengertian pada istrinya.
"Iya Mas, Aku akan tetap setia pada janji awalku kalau Bayi itu dalam pengasuhan kita akan Aku anggap Anakku sendiri, Apa Mas masih dengan keraguan pada janin yang ada dalam kandunganku ini?" celetuk Andhini begitu ingin tahu tanggapan Radit suaminya.
"Andhini jangan bicara begitu lagi, Aku sudah meminta maaf padamu juga Anak kita, semua itu hanya emosi dan keegoisanku saja waktu itu, bukankan Aku sudah berulangkali menyentuh dan mendatangimu di beberapa malam ini? itu adalah bukti kalau akuy sudah mencabut keraguan itu, tolong jangan bebani Aku terus dengan perasaan bersalahku," ucap Radit sambil menarik bahu Andhini ke dalam pelukannya.
"Iya Mas, mungkin itu kata dan tanya terakhirku," ucap Andhini sambil melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
Radit menyadari tak cukup kata maaf saja dari istrinya yang begitu berbesar hati membuka pintu maaf bagi dirinya, rasanya tak pantas Radit menerima maaf dari Andhini, tapi Andhini terlalu baik dan sempurna jadi sorang istri.
Radit memeluk semakin erat dan kedamaian itu tak ingin pergi lagi dari sisinya, begitu juga Andhini tak ingin kehilangan dan berbagi lagi cukup semuanya memberi pelajaran kalau pilihannya selama ini salah, menganggap hatinya akan ikhlas dan rela tapi pada kenyataannya dirinya begitu merasa tersiksa.
Kerinduan pada saat-saat dulu kini hadir lagi, serasa suaminya baru pulang dari pergi jauh, sama membawa kerinduan hangatnya sambutan seorang istri.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1