Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Sejatinya sebagai sahabat


__ADS_3

"Andhini apa yang terjadi dengan suamimu?" tanya dr Fadli sambil meneliti wajah Andhini di hadapannya, mereka bertemu di kantin rumah sakit dan makan bareng karena dr Fadli memaksa.


"Terlalu panjang Mas ceritanya biarlah jadi cerita dalam rumahtanggaku doakan saja semoga cepat sembuh dan permasalahan yang ada di dalam rumahtangga kami cepat terselesaikan," jawab Andhini pendek saja.


"Andhini Apa Kamu sudah tidak percaya lagi padaku? Kenapa sekedar untuk bercerita saja begitu susah Aku hanya merasa khawatir pada dirimu apalagi dalam keadaan hamil, Aku takut ada yang kurang beres dengan rumahtangga mu," dr Fadli mengerutkan keningnya di hadapan Andhini.


"Tidak ada apa-apa Mas, semuanya kecelakaan biasa mungkin karena kecerobohannya Mas Radit akhirnya terjatuh," sela Andhini membela dan menutupi kebenaran yang ada.


"Andhini Aku seorang dokter bisa sedikit menelaah walaupun Aku bukan dokter bidang khusus kecelakaan, suamimu itu seperti terjatuh atau menjatuhkan diri gitu, Ada apa dengan rumah tanggamu Aku begitu khawatir dengan hal-hal yang tidak disangka kelihatan dari luar harmonis kelihatan serasi tetapi di dalamnya tersimpan ketidakcocokan," jawab dr Fadli seolah menyimpan kecurigaan dan mungkin karena ada rasa lain di hatinya menjadi sedikit perhatian lebih.


"Terima kasih dokter Fadli, Kamu memang terbaik di mataku sangat baik penuh perhatian tetapi untuk hari ini biarlah semua cerita menjadi catatan Kami, Aku bahagia dengan pernikahanku apalagi sekarang Aku sedang mengandung terima kasih untuk segalanya perhatian dan juga cintanya walau semua tak bisa Aku balas mungkin di antara kita yang terbaik menurutku adalah seperti ini," sahut Andhini merasa bersalah juga telah menjadikan dr Fadli teman ngobrol yang begitu nyaman, tapi sebaliknya malah menimbulkan perhatian lebih dan meninggalkan jejak rasa yang tertinggal.


"Ah, Andhini! Kamu semakin membuat Aku penasaran saja terkadang Aku berpikir bukan suatu kesalahan mencintai seseorang tetapi saat kita sudah tahu kondisi orang yang kita cintai itu menjadi salah, sepertinya Aku tidak terima akan takdir ini, tapi melihatmu bahagia mungkin itu bisa membuatku tenang kalau seperti ini membuat Aku semakin ingin dekat dan penasaran," ucap dr Fadli membuat Andhini diam. Lalu bicara menjawab dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


"Dokter, jangan bicara begitu jangan menyesali semua keadaan diri kita masing-masing, tapi Aku lebih berpikir kalau semua ini tetap Aku anggap sebuah cobaan Aku sebagai istri, kalau bisa melewatinya itu suatu kebaikan bagiku, apa Aku bisa meyakinkan diriku sendiri dan suamiku kalau semua akan baik-baik saja. Dan kali ini Aku hanya ingin meyakinkan dirimu dokter kalau diantara kita yang terbaik hanya hubungan seperti ini dan tetap saling menghargai sebagai mana sejatinya seorang sahabat." Pelan tapi pasti Andhini meyakinkan dr Fadli, mengerti isi hatinya juga menekan perasaannya sendiri, kalau semua bagai panggang jauh dari api kalau ibarat kata.


"Baiklah Andhini, ada sekelumit rasa yang Aku simpan jauh di sudut hatiku entah sampai kapan. Biarlah tetap ada dan akan selalu menyenandungkan do'a ketulusan buatmu, apapun akhir dari kisah perjalanan rasa yang salah di hatiku Aku persembahkan padamu sebagai cinta yang jujur." Ungkapan yang panjang dr Fadli membuat Andhini diam. Belum pernah rasanya Mas Radit bicara puitis seperti itu, tapi seorang dr Fadli yang dikenalnya belum begitu lama begitu menyentuh hatinya.


Andhini memahami hati dr Fadli rasa yang salah dan itu tak bisa di pungkiri menjadi beban bagi dirinya juga dan Andhini meyakini kalau Mas Radit yang dirinya miliki jauh lebih baik dengan siapapun juga, Andhini menerima apa adanya kekurangan dan kelebihannya dengan rasa syukur dan di nikmati semua perjalanan dan prosesnya.


"Terimakasih untuk segalanya dokter, Aku menginginkan pulang kembali ke Indonesia suatu hari nanti, karena tak ada tempat nyaman selain dekat dengan orangtua Kami dan memberi kebanggaan kepada mereka dengan meneruskan bisnis yang mereka rintis sejak dulu," ucap Andhini mengalihkan pembicaraan dan bicara hal pribadinya.


"Oh ya? semoga semuanya lancar Andhini, kebahagiaan bagiku mengenalmu di sini dan mungkin kebanggaanku jika sampai pada waktunya Aku bisa menolong persalinanmu mungkin akan menjadi memori yang tak akan terlupakan dan suatu saat nanti kita bertemu di Indonesia kita tetap menjadi sahabat yang baik," ucap dr Fadli dengan senyuman tulus.


Andhini pamit karena meninggalkan Mas Radit sendiri di ruang perawatan, semua berangsur membaik Radit sudah bisa bangun sendiri penyangga leher sudah di lepas tinggal luka di kaki karena ada retakan di tulang keringnya itu yang membuat lama penyembuhannya.


Andhini datang Radit sudah duduk di tepi tempat tidur waktu menunjukkan jam 14:01.

__ADS_1


"Sayang, pokoknya Aku mau pulang hari ini apapun yang terjadi, Aku ingin bertemu putraku mungkin sudah bisa menatapku, Juga kepikiran soal Karina sudahkan Kamu memberikan uang untuk Ros? sebagai gaji dan honor menemani dan mengurus Karina bulan ini?" ucap Radit baru mengingatnya.


"Mau kasih uang bagaimana Mas, orangnya saja baru datang, itu karena ulahnya sendiri mungkin Karina dan Ros melakukan hal seperti itu sudah dengan pertimbangan sepertinya mereka tidak butuh kita lagi atau seperti apa," jawab Andhini.


"Aku tidak berpikir hal lain hanya Anakku Sayang, sebelum semua tuntas mereka tanggungjawab kita," ucap Radit meyakinkan Andhini kalau selama ini karena tetap menjadi tanggung jawab dirinya.


"Iya Mas, nanti Aku komunikasi sama Erika, sekarang Aku menemui dokter dulu semoga haru ini Mas bisa pulang, kalau bisa nanti Aku komunikasi dulu sama Erika biar menjemputnya di sini."


Radit mengangguk, rasa bosan jenuh dan tak bisa apa-apa membuatnya serasa jadi manusia yang paling tidak berharga terutama dihadapan istrinya karena terlalu di layani.


*******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2