Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Kesal Andhini


__ADS_3

Rasanya Radit mulai tak tega meninggalkan Karina dalam harap dan permintaan sederhananya, Hanya dua jam saja lagi tetap di sini. Itu permintaan sangat sederhana semua orang bisa mengabulkannya.


Radit mencium perut Karina dalam kehangatan pagi, memeluk kembali dan mengusap-usap punggung Karina.


Ada kenyamanan dalam pelukan Mas Radit, Karina tahu semua itu tak akan selamanya tapi biarlah dirinya menikmati semua rasa itu selama bayi ini ada di dalam perutnya, Karina ingin kasih sayang itu, Karina ingin sentuhan seorang Bapak buat dirinya juga Anaknya.


Memberikan kenyamanan pada Karina kenapa enggak? Karina dan bayinya berhak mendapat perlindungan dan kenyamanan.


Seperti biasa kebersamaan Karina selalu pasrah dan memberi pelayanan yang maksimal untuk kepuasan Mas Radit, Karina semakin berani meminta ditemani dan memeluk atau mencium duluan.


Selalu ada ketenangan di hati Karina saat berdua, jiwa mudanya yang begitu haus akan penjelajahan menghadirkan gelegak keinginan yang selalu ingin terpuaskan.


Radit tahu itu, walau Karina masih kelihatan malu-malu tetapi setelah menyandang jadi istrinya walaupun istri siri ada kebebasan tersendiri yang bisa dirinya explore di hadapannya.


Seorang laki-laki disuguhkan pemandangan sesuatu yang ranum di hadapannya apalagi itu sah sebagai istrinya tidak bisa berdaya untuk menolaknya.


Seperti orang baru mengenal cinta saja mereka selalu menciptakan kehangatan dalam peluk cium dan cumbu.


Seperti pagi ini Karina ingin memberi sesuatu yang bisa membuat Mas Radit kecapekan sehingga pulang sampai huniannya tak menyentuh Nyonya Andhini.


Semua sudah di mulai kembali.


"Hati hati Rina, Aku takut mengganggu janin dalam perutmu," ucap Radit menahan sedikit gerakan dan gelinjang Karina.


'"Usia kandunganku sudah mau menginjak 4 bulan sudah kuat menurut dokter, entah kenapa dorongan untuk bersama Mas Radit begitu kuat. Mungkin hormon seorang Ibu hamil yang berubah menjadikan Aku begitu ketagihan menginginkannya, Aku jujur mengatakan ini Mas."


"Aku mengerti, tapi jangan sampai semua mengganggu kehamilan kamu Rina."


"Aku menginginkannya Mas, karena entah kapan lagi Mas Radit bisa ke sini menengok Aku." Karina seperti ikan yang di kasih makan liar ke sana ke mari mencari pegangan dan mengharapkan sentuhan, tak perduli apapun hanya keinginannya yang satu itu terpenuhi.

__ADS_1


"Aku selalu akan mampir kalau ada waktu, tapi akhir-akhir ini Aku begitu sibuk apalagi ada adikku Raditya justru kita harus menjaga pertemuan, Aku akan selalu menjaga kamu dan anak kita Rina."


"Mas, ah..."


Radit semakin menjelajah di sela-sela desah dan panggilan Karina, kuncup yang begitu padat merekah di dada Karina tempat ternyaman Radit menenggelamkan muka dan mulutnya di situ, semua telah di telusuri begitu lama dan terasa semakin nikmat menyentuhnya, menghadirkan gelanyar dalam urat nadi dan persendian Karina. Leher Karina seperti menantang untuk di taklukan dengan ciuman panas, satu ritual Radit selalu mencium perut Karina sebelum penetrasi.


Peluh membasahi keduanya saat Radit turun dengan perlahan dari tubuh Karina yang lemas dalam kepuasan permainan puncak.


Keduanya menetralisir degup jantung yang berdetak begitu cepat sampai semua normal kembali.


Radit bangun dan tersenyum melihat Karina yang kecapekan.


Menyodorkan tangannya membatu bangun, ingin Karina mandi bareng dan merasakan saat berdua di kamar mandi tapi Radit malah berpakaian dan mengenakan kembali celananya.


Menyisir rambutnya dengan jari tangannya dan mengusap punggung Karina lalu membuka kunci dan keluar.


Semua tak luput dari pandangan Karina yang belum bangun masih di tempat tidur.


***


Radit mengetuk pintu lama tak ada jawaban ataupun di buka, berkali-kali memutar handle pintu dan mengetuknya tapi seperti tak ada kehidupan di dalam sana.


Mungkin Andhini lagi mandi di kamar mandi atau malah belum bangun, lalu Radit menelephon tapi kelihatan ponsel Andhini belum aktif.


Radit hanya pasrah menunggu sambil bersandar di tembok sebelah pintu.


Selang beberapa menit anak kunci di pintu terdengar ada yang membuka, gorden terdengar di buka bagian depannya. Pintu terbuka Andhini sudah berdandan rapi kelihatan cantik bahkan tas selempang sudah di pundaknya, tanpa sepatah kata Andhini menjatuhkan sepatu di tangannya lalu memakainya, Radit memandangnya tak berkedip mengharapkan satu patah kata keluar dari mulut istrinya.


Namun Andhini tak mengeluarkan sedikit pun kata-kata hanya memandang Radit dari ujung kepala sampai ujung kaki tidak juga berpendapat lanjut ataupun berkomentar lalu Andhini keluar dan pergi meninggalkan Radit yang sedang melongo sendiri, Radit mengejarnya dan meraih tangan Andhini, lagi-lagi Andhini hanya memandang Radit.

__ADS_1


"Dhini? kenapa masih pagi sudah berangkat?" tanya Radit sambil menggoyangkan tangan Andhini.


Andhini menarik tangannya perlahan dan berbalik berjalan tak menghiraukan Radit yang memanggilnya.


Radit sadar, dirinya telah menyakiti istrinya, mata Andhini kelihatan memerah dan sedikit bengkak.


Radit memandang punggung istrinya lalu hilang di balik lorong menuju lift turun.


Dengan lesu Radit masuk ke dalam kamar huniannya, ada rasa lengang dan sepi dalam hatinya, kenapa malam Aku begitu keras bicara sama Andhini? padahal Andhini hanya meminta menanyakan Karina sudah makan belum? padahal kalau menelepon pun juga mungkin bisa jadi apa mungkin dengan datangnya Rahadian semakin menambah kecemasannya?


Radit menyandarkan tubuh dan kepalanya di sofa, rasa salah pada Andhini membuatnya malas apapun belum pernah Andhini marah seperti itu, Radit bangkit mau ke kamar mandi hari ini harus bersama Andhini dan minta maaf sampai melihat ada senyum kembali di bibirnya.


Radit mengingat-ingat apa rencana dan agendanya hari ini, yang pasti mengkondisikan dulu minimarketnya samapi pegawai baru datang karena Karina tak masuk kerja mulai hari ini.


Lalu menemui Andhini di supermarket yang akan segera di buka, mungkin bersama Rahadian berharap bisa mencairkan suasana.


Selesai mandi Radit berdandan, memandang muka dan tubuhnya di pantulan cermin.


Begini rasanya punya istri dua, yang satu merajuk yang lainnya bahagia sungguh bukan satu suasana yang di sukanya.


Radit keluar mengunci pintu dan berjalan sepanjang lorong yang mulai ramai dengan orang pada mulai keluar mau beraktivitas, sepintas melirik lorong hunian Karina, Radit melangkah terus ke arah lift sudah sampai bawah ke tempat parkir kendaraannya yang jaraknya lumayan jauh, terasa menyita waktu memang memiliki kendaraan hanya sekedar menuju tempat parkir.


Perutnya terasa lapar bermaksud nyamper Rahadian di hotelnya dan bisa sarapan bareng. Rahadian di kondisikan di minimarketnya sebelum di ajak ke tempatnya Andhini.


Radit tak mau menyia-nyiakan waktu hanya sekedar membangunkan atau menunggu Rahadian bangun Radit cukup menelpon sudah siap dan bangun mau di samper, kalau belum akan dibiarkan dengan sendirinya.


Ternyata Rahadian sulit di hubungi mungkin belum bangun, akhirnya membatalkan untuk mampir, Radit berangkat sendiri ke minimarket dan memulai dengan aktivitasnya di hari itu.


******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2