Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Syok Andhini


__ADS_3

Andhini berdiri menghampiri meja suaminya dan menarik kursi lalu duduk di hadapannya.


"Maunya Mas Radit seperti apa sih? tinggal katakan saja jangan main sindir dengan kata-kata yang tak lucu begitu!" ucap Andhini begitu marah.


Kemarahan dari perlakuan Radit di depan Karina tadi membuat Andhini sakit hati. Perasaan gondok di dalam dadanya masih belum pupus.


"Kenapa kamu tak memberitahukan Aku kalau kamu sekarang hamil? apa karena kamu juga ragu itu Anak Aku atau bukan begitu? sehingga kamu ragu memberitahukan kepadaku?" ucapan radit bagai petir ditelinga Andhini, jauh dari perkiraan sebelumnya.


Hati Andhini bergetar, jantungnya serasa loncat terasa lunglai semua persendiannya, Suami yang di cintainya tega bicara begitu dan sudah menuduh juga seakan meragukan janin yang kepastiannya saja belum Andhini yakini.


"Astagfirullah, Mas ini bicara apa? Aku belum membicarakan kehamilanku ini karena Aku merasa ini adalah mimpi bagiku, Aku kelewat bahagia dan belum yakin, hari ini adalah hari di mana Aku akan meyakinkan dengan test juga mendengar langsung ucapan dari dokternya sendiri seperti apa. Aku belum memberitahukan kepada Mas Radit karena kita dalam kondisi tidak baik-baik saja, Aku tidak memberitahukan masalah ini karena kita sedang bertengkar Aku lebih memilih memberitahukan pertama kali kepada keluarga yang ada di sini yaitu Rahadian yang bisa Aku percaya lebih dari suamiku!" jerit Andhini merasa semua tak ada benarnya.


"Oh, jadi lebih mempercayai orang lain daripada Aku suamimu sendiri? baiklah Andhini, Kamu sendiri sudah tak menganggap Aku suamimu, apa salah Aku juga meragukan itu Anak biologis ku?" Andhini seketika melotot, gelap penglihatannya otaknya tak mampu menerima sanggahan dari suaminya, matanya meneteskan airmata tapi tak sanggup lagi bersuara, batinnya syok luar biasa semua diluar ekspektasi nya, hanya seorang Ibu yang tahu itu janin siapa, sedang suaminya hanya bisa meragukan dengan tanpa alasan kuat.


Andhini duduk dengan kaki di tekuk Airmatanya banjir tanpa di undang, kedua tangannya menutup mukanya, pundaknya turun naik menahan isak yang tak tertahan.


Andhini limbung dan pingsan seketika. Erika menjerit dan memanggil Mas Radit dan pramuniaga untuk menolongnya.


Radit juga panik tak di sangka ucapannya begitu menyakitkan di terima Andhini, Radit hanya marah saja melihat kedekatan Andhini dengan orang lain termasuk Adiknya sendiri, juga melihat keakraban mereka. Dalam emosi semua itu bisa saja jadi tuduhan walau jauh di lubuk hatinya Radit juga meragukan kalau Andhini tidak setia, Andhini tak bisa berpaling sama sebenarnya dengan dirinya, tapi keadaan mengharuskan ada kisah seperti ini. Radit menidurkan Andhini di sofa sambil mengusap-usap rambut dan mencium kepala Andhini, Erika menyarankan di bawa saja ke dokter karena mereka tidak tahu apa tindakan awal bagi orang pingsan seperti ini.


Terlalu berat beban bagi Andhini beban perasaan lahir dan batinnya merasa terkuras semua, Terombang-ambing dalam perselisihan dalam pertengkaran dalam tuduhan dan dilema rumah tangga yang ada di hadapannya.


Fisiknya lemah kurang tidur banyak pikiran banyak kegelisahan yang buat Andhini tumbang ditambah lagi tekanan dari suaminya yang begitu tidak mendasar dirasa Andhini begitu melukai perasaannya.

__ADS_1


"Mas Angkat saja ke mobil biar Aku yang pegang setir!" ucap Erika merasa khawatir.


"Baiklah, tolong bukakan dulu pintunya biar langsung bisa masuk!" jawab Radit tak kalah hatinya juga deg-degan, takut terjadi apa-apa dengan istrinya.


Radit membopong tubuh ramping Andhini dan mendekapnya begitu kuat, ada rasa sakit di dalam dadanya juga.


"Seorang pramuniaga berlari duluan membukakan pintu, Erika membawa tas Andhini yang sama sekali belum di buka, Erika masuk di pintu depan dan langsung memakai sabuk pengaman.


Andhini di tidurkan di jok belakang dan Radit memangku kepalanya sambil tak henti-hentinya mengusap dan mencium kening Andhini.


Rasa bersalahnya mungkin tak bisa di maafkan tapi keraguan hatinya tak bisa di tolak juga. Radit dalam dilema tak berujung.


"Ke klinik yang dekat saja carikan biar cepat ditangani Aku khawatir banget." ucap Radit sambil memeluk kepala Andhini.


"Aku hanya tidak terima Erika melihat kedekatan Andhini dengan dokter itu, semalam Aku melihatnya Dia berpelukan di pusat perbelanjaan dan Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri apa pasien dengan dokter akrab itu?" tanya Radit dengan nada setengah menggerutu.


"Mungkin dokter Fadli sama-sama orang Indonesia, jadi saat mereka bertemu tak sengaja spontan saja mereka pelukan karena tidak sengaja," ucap Erika sambil melirik dari spion kaca ke belakang.


"Kamu kenal dokter itu Rika?"


"Aku kenal bahkan satu paguyuban, malah waktu peresmian supermarket juga ada, terus Andhini mungkin cocok di rumahsakit itu ngobrol-ngobrol dan keterusan program kehamilan di situ bahkan Aku pernah mengantarnya juga." tukas Erika meyakinkan Mas Radit. Radit diam tapi sepenuhnya belum yakin dan percaya kalau mereka tidak ada apa-apanya.


Sampai di rumah sakit Erika menelephon dr Fadli dan langsung diangkatnya mengira itu Andhini yang meneleponnya.

__ADS_1


Erika sengaja membawa Andhini ke rumahsakit yang ada dr Fadli praktek biar sekalian Andhini melakukan test, Radit sendiri tidak protes mungkin karena Radit tidak tahu kalau di rumah sakit itu ada dr fadli yang dirinya benci.


Andhini langsung ditangani apalagi Andhini punya member di rumah sakit itu sebagai salah satu yang menggunakan fasilitas dan jasa rumah sakit itu. Andhini mendapatkan prioritas utama.


Radit menemani Andhini di ruang UGD yang langsung di periksa, sedang Erika duduk menunggu di luar sambil menelephon dr Fadli.


"Kenapa sampai pingsan? Aku jadi cemas juga." ucap dr Fadli di ujung sambungan telephon.


"Pokoknya panjang ceritanya, dokter datang ke sini masih di UGD, Andhini masih belum siuman," sahut Erika dengan suara pelan.


"Ya ampun, baiklah. Sama siapa di situ?" tanya dr Fadli sambil mengatupkan rahangnya.


"Aku, sama suaminya Mas Radit yang menemani di dalam." sambungan telephon langsung putus, Erika menghela nafas panjang.


'Ya ampun Andhini kenapa jadi begini? maafkan Aku sebagai sahabatmu belum bisa maksimal memberikan dukungan dan jalan keluar terbaik buat permasalahan yang Kamu hadapi, tapi Aku sebagai sahabat terbaikmu akan berusaha ada saat kamu butuh Aku.'


Erika mengintip dari celah kaca memandang Andhini yang sedang di pasang infus oleh dokter juga suster yang berusaha menyadarkan dengan menepuk-nepuk pipi dan mencium cium kan aroma terapi di hidungnya, dan perawat lainnya menyiapkan oksigen hirup untuk bantuan pernafasan.


Erika sangat prihatin dan sedih menyaksikan kehidupan Andhini sekarang yang seperti itu, tapi Erika tak bisa menyalahkan satu diantara suami istri itu, semua saling punya ego yang menurut Erika terlalu berlebihan terutama Raditya sebagai suami, tak seharusnya memojokkan Andhini dengan tuduhan-tuduhan seakan dirinya paling benar.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2