Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Karina sakit


__ADS_3

Karina dengan memaksakan diri akhirnya kerja juga hari itu, yang dirasa sakit kepala dan badan agak demam tapi tak memperlihatkan rasa itu dihadapan Radit.


Dari pagi sampai istirahat siang biasanya selalu ceria dan berharap siang bisa makan bersama, istirahat dan bermesraan, tapi kali ini mood nya hilang dengan rasa tubuhnya yang semakin tak enak.


Radit selalu melihat perubahan di raut mukanya istri sirinya takut Karina menjadi keterusan sakit bahkan sekali-kali Radit membantunya di kasir setelah selesai mengecek barang dan menata produk di rak pajangan. Radit ingin mengambil barang kiriman yang menjadi pekerjaan sehari-harinya dibatalkan mungkin besok atau lain hari bisa diambil dengan secepatnya.


"Kamu mau makan apa siang ini?" sapa Radit saat pengunjung minimarket mulai berkurang dan mungkin sebentar lagi Radit ingin istirahat dan menutup rolling door selama 1 jam untuk sekedar istirahat makan dan menunaikan ibadah.


"Aku nggak mau apa-apa hanya ingin istirahat tiduran." jawab Karina sambil memijit kedua pelipisnya.


"Ya nggak begitu dong, apalagi kamu lagi kurang enak badan harus banyak makan biar sakitnya nggak jadi, kalau memang dirasa dari pagi tidak ada perubahan biar nanti kamu ke dokter saja terserah mau diantar Aku apa Andhini?" tanya Radit memberi pilihan pada Karina.


"Aku hanya perlu istirahat saja Mas, besok juga sembuh lagi sepertinya," jawab Karina merasa nggak enak sendiri.


"Udah istirahat duluan, biar Aku yang bereskan semuanya setelah ini biar cari makan dulu, tiduran saja nanti Aku nyusul," titah Radit sambil memegang bahu Karina.


Karina manut mengikuti saran Radit. Pergi ke belakang yang disebut sebagai kantor tempat istirahat kamar mandi seperti satu ruangan kamar yang diperuntukkan untuk keperluan pengelola minimarket itu.


Radit menelepon Andhini sehabis menutup rolling door, mengabarkan kalau Karina sejak pagi kurang enak badan.


"Mas? apa sakit meriang biasa atau ada yang aneh?" tanya Andhini mencecar Radit karena ingin tahu apa merasa ada sesuatu atau memang hanya sakit biasa.


"Maksud kamu aneh apanya?"


"Gejalanya seperti apa?"


"Sakit kepala, meriang badan agak panas dan mual katanya."


"Itu terjadi baru pagi tadi apa ada gejala itu dari kemarin?"


"Andhini Sayang Aku nggak tahu, mending Kamu tanya aja sendiri atau Kamu datang aja ke sini pokoknya Aku hanya tahunya itu tadi pagi saat Aku samper ke kondominiumnya ya begitulah, Dia mengeluh sakit, tadinya Dia nggak mau masuk kerja tapi mungkin dirasa hanya sakit biasa tapi akhirnya pergi-pergi juga," jawab Radit sedikit menerangkan tentang sakitnya Karina.


"Oh alah, kasihan. Nanti Aku kesitu kalau nggak suruh pulang saja biar istirahatnya nyaman di tempat tidur, gimana Mas?"

__ADS_1


"Sepertinya Dia sudah tiduran di belakang sementara Aku mau cari makan biar makan dulu lalu minum obat."


"Eh, Mas jangan di kasih obat dulu sebelum Aku pastikan lihat dan tanya Karina. Aku akan melihatnya dulu ke sana pokoknya tunggu aja kalau mau dikasih makan kasih aja tapi kalau obat jangan dulu." Andhini menangkap situasi lain dan menunggu akan hal seperti ini, kecuali Mas Radit tak menggaulinya tapi sesuatu yang tak mungkin selama lebih sebulan mereka menikah dan kerja satu ruangan begitu banyak kesempatan mereka untuk melakukannya.


"Kamu ini kenapa sih? orang sakit nggak boleh dikasih obat, sangat aneh!"


"Pokoknya aku bilang jangan biar nanti Aku yang melihat kondisinya dulu bila perlu biar Aku yang ngajak dia ke dokter untuk periksa."


"Terserahlah Aku nggak ngerti."


"Ya sudah, Aku ngobrol dulu sama Erika gimana baiknya di sini sepertinya lagi sibuk banget."


Telephon terputus. Radit memijit satu tombol off pada ponselnya lalu ke belakang melihat Karina dulu.


"Rina, kamu tidur?" ucap Radit sambil duduk di sebelah atas Karina tiduran di sofa.


Karina memejamkan matanya walau tak lena, merasakan tangan Mas Radit meraba keningnya, mengangkat kepalanya dan menempatkan di kedua pahanya.


Seketika Karina bangun dan duduk bersebelahan dengan Radit. Mukanya tampak kaget seakan tak begitu suka Kalau Radit mengabarkan dirinya sakit dan Andhini akan melihatnya dan menengok  ke sini.


"Kenapa begitu kaget saat Aku khabarin sakit pada Andhini?"


"Aku merasa nggak enak sama Nyonya Mas, Aku merasa tak seperti harapannya jadi orang yang tangguh dalam kerja tak pernah sakit juga mengeluh ataupun putus asa walaupun bagaimana capeknya juga," ucap Karina mengalihkan perasaannya.


"Hahaha …  kamu ini lucu, Andhini itu orang baik nggak seburuk itu anggapannya, kalau seseorang sakit itu adalah sudah menjadi kodratnya kita ini bukan robot bekerja setiap hari hanya libur di waktu hari Minggu setengah hari, jadi biasa saja, emang Aku kabarkan dan telepon tadi karena khawatir sama kamu."


Karina diam  Radit juga mengkhawatirkan dirinya betapa enak kedengarannya. tapi semua itu terasa semu di dalam hati dan pengakuannya.


"Gimana sekarang masih saja pusing?" Tanya Radit sambil menumpang kan tangannya di paha Karina dengan sengaja.


Biasanya mereka melewatkan siang dengan keringat dan senyum puas keduanya setelah saling memberi dan saling mengerti kalau siang adalah waktu mereka bersama-sama.


"A-agak lumayan mendingan Mas."

__ADS_1


"Apa mau di sini saja atau mau istirahat di tempatmu, dan pulang hemght?" ucap Radit memberi perhatian lebih pada Karina


"Menunggu Nyonya saja dulu kalau memang mau ke sini," sahut Karina sambil diam. Saat Radit mengusap punggungnya Karina balik menatapnya seperti menantangnya.


Radit tersenyum.  "Ya sudah Aku beli makan siang dulu, eh tapi takut nanti Istriku Andhini belum makan biar sekalian belinya nanti saja."


Karina hanya diam, di depannya Radit masih selalu bicara tentang Andhini apa di depan Andhini ada pembicaraan tentang dirinya?


"Nggak usah tegang, rolling door di kunci kok, Andhini masih jauh Aku masih bisa memeluk kamu dan kalau Kamu kuat masih bisa mengulang kegiatan menyenangkan kita pagi tadi kalau kamu mau." ucap Radit sambil menarik kepala Karina ke dadanya.


Deg! Karina begitu merasa tersanjung.


'Aku selalu kamu telanjangi Mas tiap pagi kemungkinan masuk angin, tapi itu hal menyenangkan yang selalu Aku tunggu tiap pagi saat kita mau berangkat ke tempat kerja, juga saat siang begini adalah hal yang tak pernah Aku lupakan. Aku merasa di butuhkan dan bisa memberi Mas Radit kepuasan.'


Karina tersenyum menyandarkan kepalanya di bahu Radit dan Radit menyambutnya dengan tersenyum pula.


Mencium pipi Karina yang ada di di sebelah pipinya dan tangannya dengan nakal mencari sesuatu yang menantang.


Karina membalikkan mukanya menghadap Radit dan mencium untuk pertama kalinya bibir yang sedikit atasnya agak kasar dan memulai permainan dengan gejolak dari dalam dadanya sehingga tak bisa membedakan mana meriang dan panas dingin karena sakit atau meriang panas dingin karena hal lain.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



Blurb :


Sebuah kisah tentang kehidupan rumah tangga


Pernikahan Tidak hanya cukup karena cinta tetapi butuh kedewasaan diri dan komitmen panjang untuk saling menghargai dan bertanggung jawab pada keluarga.


Bila salah satu atau semua unsur tadi tidak ada maka bukan pernikahan impian dan kebahagiaan yang kita dapatkan tetapi Neraka dunia.

__ADS_1


__ADS_2