
Andhini tidur duluan karena merasa capek, entah jam berapa Radit menyusulnya, tak berani mengganggunya kekakuan di antara keduanya tak bisa dipungkiri dan diakui dalam hati masing-masing semua itu sudah tidak sehat bukan rumah tangga yang sebenarnya.
Andhini sadar dengan keadaannya tetapi semua tak bisa diulang diubah ataupun dibatalkan kecuali mungkin Karina belum hamil masih bisa dibatalkan dan diperbaiki semuanya tapi semua kini berkembang begitu saja bergulir bagai bola liar permasalahan satu demi satu memasuki area rumah tangganya.
Radit juga lebih merasakan semua itu dari masalah ke masalah lainnya, belum yang satu selesai ada lagi permasalahan lainnya.
Semua harus diselesaikan yang pertama harus dengan Andhini dulu, semuanya akan bisa terselesaikan.
Radit merebahkan tubuhnya yang penat, harum tubuh Andhini dengan parfum yang dipakainya hinggap di penciuman Radit, tapi Andhini tak terusik dengan kehadiran Radit di sisinya.
"Aku tahu kamu belum tidur, tak baik tidur seperti itu, membelakangi suamimu," ucap Radit sambil tangannya meraih pangkal lengan Andhini dan menariknya perlahan.
Andhini menjadi telentang tidak ada jawaban atas ucapan yang ditujukan pada dirinya.
Radit mengamati tubuh Andhini dari ujung kepala sampai ujung kaki yang tertutup selimut, diam tak bergerak.
Hanya bergerak menarik selimut dan kembali berusaha memejamkan matanya. Andhini berusaha tak bicara dan membahas soal apapun saat sudah berada di tempat tidur.
"Aku sudah meminta maaf dan kesekian kalinya Aku minta maaf lagi, semua semoga tak terulang lagi." ucap Radit lagi walau Andhini tak memberikan reaksi apa-apa, tapi Radit tahu Andhini mendengarnya.
Mencoba memeluknya, walau tahu Andhini marah. Radit yang merasa bersalah dan semua masalah dirinya yang ciptakan tak ingin membuat Andhini tambah marah lagi dengan sikapnya yang seakan memaksakan diri untuk menanggapi semua pembicaraannya.
Radit tahu, belum pernah sampai sebegini nya permasalahan yang pernah ada dalam rumah tangganya selama ini, walaupun sebelumnya ada masalah tapi kalau sudah di tempat tidur semua akan cair dengan sendiri tetapi kali ini Radit baru merasakan semuanya begitu berat, mungkin Andhini terlalu merasa sakit hati dan terluka.
"Tidur dan istirahat…" Radit membisikan satu kata terakhir di dekat telinga Andhini sambil mencium rambut di kepala sambil menguapnya.
Radit hanya mencium wangi rambut Andhini yang tidur, menumpang kan tangannya di tubuh istrinya dengan pelukan longgar, Andhini tertidur dalam lelah begitupun Radit terlelap dengan sendirinya membawa persoalan dan masalah yang belum terselesaikan.
Sampai pagi menjelang Andhini sadar dan bangun duluan karena tubuhnya terasa berat, Mas Radit memeluknya dari samping masih dalam posisi awal mereka tidur.
Mas Radit tidur masih dengan pakaian yang kemarin di kenalannya, tapi Andhini mencium aroma khas tubuh suaminya yang beberapa malam ini tak tercium dan hilang dari sampingnya. Baru malam ini Andhini merasakannya lagi.
__ADS_1
Kumandang adzan dari ponsel di meja samping sebagai pengingat alarm waktu membuat Andhini merasa malas untuk bangun, mencoba memindahkan tangan suaminya dan menaruhnya ke bawah terasa berat, tapi dengan cara menggeser kan badan akhirnya bisa lepas juga.
Andhini duduk di tepi tempat tidur mengamati suaminya yang masih tidur dengan pulas nya. Ada kerinduan dan rasa kesal dalam hatinya, Mas Radit yang selalu di cintanya dengan sepenuh perasaannya kini rasa itu semakin terkikis dengan segala macam masalah yang datang menghampiri rumah tangga yang telah di bina dengan banyak cinta di dalamnya.
Andhini bermaksud akan berangkat masih pagi walau pembukaan supermarket akan di laksanakan habis Dzuhur tetapi banyak persiapan yang harus di lakukannya.
Walupun ada Erika yang bisa dan biasa di andalkan juga karyawan sudah lengkap tapi Andhini ingin melihat sendiri semua persiapan dan membantu dengan tangannya sendiri.
Andhini masuk kamar mandi membersihkan diri, mempersiapkan juga perlengkapan pakaian buat suaminya, di taruh nya di samping meja rias dan pakaian resmi di gantung di hanger di atasnya. Andhini tahu pagi ini Mas Radit pasti berkunjung ke Karina dulu tak mungkin jalan bareng dan pergi bersamanya, jadi Andhini mending pergi sendiri saja.
Mengawali hari dengan kenyataan yang ada rasanya Andini malas melakukan apa-apa pikirinnya tak fokus, hanya satu harapan terbesar dia bisa mengambil kesibukan dari supermarket yang baru akan dibukanya nanti siang.
Menenggelamkan diri dalam kesibukan itu adalah satu pilihan Andini ingin semua berjalan baik-baik saja. Hubungan bersama Karina ingin dijaga dengan baik dan rumah tangganya tetap utuh bisa di pertahankan walaupun perasaannya sampai saat ini jauh dari kata nyaman.
Andhini masih berharap perjanjiannya bisa berjalan kembali seperti semestinya apalagi sekarang sebentar lagi Karina akan melahirkan akan seperti apa nantinya hanya Andhini berpikir dan berharap semoga segala kejadian ini semua bisa dijalani tanpa masalah yang rumit lagi.
Andhini masih konsisten membiarkan Mas Radit mau bekerja atau mau bersama Karina juga itu tidak masalah, asal semua berjalan seperti semestinya.
Selesai mandi berdandan depan meja rias, Radit yang sudah bangun hanya mengawasi istrinya dari samping dirinya masih berbaring.
Andhini hanya melirik dan melanjutkan kembali dandannya.
"Banyak hal tidak terduga dan tak bisa kita prediksi kalau kamu berangkat terlalu pagi, kejadian hari kemarin juga setidaknya membuat Aku khawatir, apa salahnya sih berangkat siang dikit? toh semua sudah ada yang menangani kita tinggal membenahi sedikit-sedikit beri waktu untuk dirimu sendiri!" ucap Radit masih dari tempat tidur.
"Aku banyak yang harus di kerjakan, setidaknya Aku masih menghargai Mas sama Karina, siang adalah waktu untuk Mas dan Karina. Aku tidak bisa kalau tidak konsisten dengan waktu, masalah kepercayaan dan menepati janji adalah mutlak bagiku!"
"Setidaknya kamu lunak sedikit, bukan seperti ini yang Aku harapkan kalaupun pagi ini Aku menemui Karina dulu Aku hanya memastikan dia baik-baik saja, dan lanjut Aku bekerja dan nanti siang ke supermarket itu bukan Aku memaksa Kamu untuk lebih bekerja ekstra untuk apa semua itu? demi ambisi berkeinginan yang tidak akan ada habisnya?"
Andhini diam, memang selama ini dirinya bekerja untuk apa? kalau hanya untuk mengalihkan pikiran dengan kesibukan sehingga lupa kalau Mas Radit lagi bersama Karina, tapi menghabiskan waktu hanya untuk main dirasa Andyini itu bukan sesuatu yang bermanfaat, apa salahnya memanfaatkan waktu itu sendiri untuk hal yang mendatangkan manfaat bagi dirinya dan juga bagi usahanya.
"Maunya Mas seperti apa?"
__ADS_1
"Aku mau sarapan sama kamu, dan berangkat bareng seperti biasanya."
"Oke, tapi Aku juga mesti punya tuntutan seperti halnya Mas menuntut."
"Apa tuntutan Kamu?"
"Sebenarnya Aku bukan tuntutan tapi kembalikan hakku pada yang semestinya, tak ada alasan apapun, Aku telah memberi tapi kenapa aku seolah Mas sama Karina biasa-biasa saja mengambilnya dariku? Karina ingin teman Apa aku juga nggak boleh menginginkan kebersamaan? Aku bisa lebih gila kalau di perlakukan tidak adil!"
Radit turun memeluk Andhini dengan perasaan bersalah.
"Maafkan Aku, Aku yang salah Sayang semua tak akan terjadi lagi."
"Aku pegang janjinya!"
"Cium dulu dong."
"Aaaah Mas mandi dulu bau sana!"
"Aku kangen Andhini...."
"Aku juga."
"Ayo dong!"
"Aku sudah mandi, nggak deh pagi ini, lagian Aku sudah dandan. Mas mandi sekarang Aku tungguin!"
"Jangan salahkan Aku!"
"Maksud Mas apa?"
******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️