Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
MP


__ADS_3

Radit berdiri di depan kamar Karina begitu lama, suasana Malam begitu sunyi tak terdengar ada kehidupan di sekeliling karena waktu menunjukkan pukul 23:30.


Apa Karina sudah tidur? Radit hanya ingin mengobrol dan mengakrabkan diri saja. Tapi malam-malam begini mungkinkah Karina masih terjaga?


Aku tidak salah hanya mau melihatnya dan memastikan Karina dari dekat dan berduaan, sekarang atau besok sama saja.


Tak ada yang bisa di tolak, semua ini keinginan istrinya Radit mencoba konsisten dengan janjinya pada Andhini mengiyakan berarti mengikuti semuanya, adakah berhubungan dengan wanita lain adalah bukti cinta pada istri?


Ya, bagi Andhini mungkin seperti itu, walau bagi Radit tak sepenuhnya membenarkan, tapi semua harus di jalani kini. Faktanya Karina kini istri keduanya dengan izin dan restu Andhini istri pertamanya.


Radit mengetuk pintu perlahan, tak ada jawaban lalu membukanya tak di kunci, kamar terlihat terang Karina  terlihat membungkus tubuhnya dengan selimut.


Radit berjalan mendekat. Tanpa diduga Karina bangun dan langsung duduk. Radit merasa kaget luar biasa, Mungkin Karina juga sama tak bisa tidur seperti dirinya. Karina menatap Radit dengan sedikit ketakutan.


Mungkin Karina menyadari kalau kamarnya ada yang membuka dan seseorang masuk ke dalamnya walau dengan cara perlahan.


"T-tuan Radit?" sapa Karina gugup.


"Ssst … kenapa kamu belum tidur?" tanya Radit sama gugupnya.


"A-aku … nggak bisa tidur T-tuan …" Karina menunduk lagi.


"Aku, hanya memastikan dan melihat kamu sudah tidur itu saja."


Karina tersenyum, mengangguk kecil, baru pertama Radit melihat Karina tersenyum dengan pemandangannya Karina tanpa kerudung, Karina memiliki rambut panjang sepinggang yang hitam legam  lurus dengan belah rata di tengah serasi banget cantik cocok dengan mukanya, apalagi rambut yang sedikit kusut menutupi sebagian mukanya.


Radit duduk di tepi tempat tidur masih berjarak dengan Karina duduk.

__ADS_1


"Karina, Aku hanya ingin ngobrol sama Kamu, kenapa kamu mau melakukan hal seperti ini sedangkan kamu masih punya masa depan yang panjang masih bisa bekerja dengan baik?"


"Masa depan perlu modal dan pengorbanan Tuan jadi Aku mantap memilih jalan seperti ini karena Aku meyakini seperti apa yang dikatakan Nyonya Andhini kesempatan tak akan datang dua kali bagiku kompensasi atau imbalan yang diberikan melebihi dari apa yang Aku pikirkan, yang awalnya semua itu hanya mimpi bagiku." Ucapan Karina tak kaku dan terbata lagi.


"Oke, berarti kamu sadar dengan semua ini? juga sekarang sadar kalau kamu adalah istriku juga?" tanya Radit bergeser duduknya dadi lebih mendekat lagi.


"Aku sadar Tuan, kalau Tuan menginginkan kapanpun aku harus siap, Aku telah mengesampingkan semua pikiran tentang apapun, jadi lakukanlah biarkan Aku hamil dan bisa memenuhi harapan Nyonya Andhini." ucap Karina tanpa beban.


Radit diam, Karina membuka gulungan selimut yang menutupi tubuhnya perlahan Karina terlihat memakai pakaian tidur tipis warna ungu muda.


Karina kelihatan begitu seksi juga begitu ranum dalam balutan pakaian tidur yang tipis menggoda siapapun untuk menaklukannya.


Radit menelan saliva nya sendiri, terlihat jakunnya naik, Karina diam, Radit menghidupkan lampu tidur dan berdiri mematikan lampu terang. Karina semakin deg-degan saja, mungkin sebentar lagi dirinya akan merasakan sentuhan pertama seorang laki-laki.


"Aku akan penuhi kewajiban ku untuk pertama kalinya, mungkin percintaan kita tanpa rasa dan cinta itu sendiri, kita harus mencoba menjalani semuanya dengan hati lapang demi satu tujuan yang sama." ucapan Radit terdengar datar


Kata setia akan hilang dengan sendirinya, Apalagi mereka jiwa muda, dalam keadaan sudah sah bisa bebas melakukan apapun.


Bayangan dari kemarin tentang Karina sekarang ada di depan mata Radit dalam kamar tempat tidur yang begitu nyaman, berduaan dalam remang lampu tidur.


Radit membuka kancing piyamanya sendiri sebelah tangannya masih menggenggam tangan Karina lalu melemparkan bajunya asal.


Tampak dada bidang dengan sedikit bulu dan perut kotak kotak begitu kelihatan kekar menantang.


Karina berkeringat dingin dalam diam. Hatinya merasa takut tapi semua rasa itu harus di tepisnya.


Radit meraih dagu Karina dan mendekatkan ke mukanya lalu mencium bibir Karina yang terasa begitu dingin dan bergetar, Radit tak begitu memperdulikannya.

__ADS_1


Mulut Raditya semakin liar merangsek mulut Karina dan menjelajahinya, merangkum bibir perawan tak pernah tersentuh itu dengan bertubi-tubi membuat Karina gelagapan tak tahu harus seperti apa, Radit memberi sedikit foreplay dengan sedikit kasar hingga Radit sadar, mungkin bagi Karina baru pertama kalinya, akhirnya ciuman jadi sedikit lembut.


Radit sadar Karina begitu mentah dalam bercinta, apapun yang di lakukannya Karina hanya diam dan menggelinjang, tanpa menolak dan memberi perlawanan.


Radit yang sudah terbiasa melakukannya begitu sibuk sendiri melupakan segalanya hanya ada satu tujuannya dirinya menginginkannya saat ini.


Saat Radit mulai merambah daerah tutupan Karina dari mulai dada dan yang lainnya ada sedikit malu di wajah Karina terbukti dengan menarik selimut ke dadanya yang sudah terbuka memperlihatkan satu pemandangan lain di mata Radit yang langsung menyentuhnya perlahan dengan nafas tak beraturan dan menenggelamkan mulut, muka dan kepalanya di dada Karina.


Semakin Karina menggelinjang semakin rakus dan liar Radit mengeksplorasi penjelajahannya. Sampai pada titik tak mampu mengendalikan diri lagi dan mulai melakukan kegiatan inti dengan perlahan.


Karina begitu pasrah, dalam keringat dingin yang membanjiri tubuhnya, merinding sekujur tubuhnya saat Radit berada di atas tubuhnya berusaha menembus batas tipis antara mereka.


Cengkraman Karina di lengan Radit terasa kuat, ada jeritan kecil spontan saat Radit sukses dengan gagah perkasa menggolkan permainannya.


Lanjut menuntaskan dengan gerakan teratur diatas tubuh Karina yang meringis dengan suara seperti kepedasan, tak ada kata dari mulut keduanya, hanya sesekali Karina merintih dan menggigit bibirnya sendiri.


Hembusan nafas hangat Radit terasa menyapu wajah Karina hingga akhirnya Radit berhasil menuntaskannya dalam penyatuan sempurna.


Menanamkan benih dalam peluh dan ringisan Karina. Pertama kali Karina rasakan semuanya, penyatuan tanpa cinta, dan semua akan selalu dirinya terima setiap Tuan Radit menginginkannya.


Karina merasakan sakit dan perih di bagian sensitifnya, tapi semua di tahannya. Tubuh bagian lain juga terasa ngilu tapi Karina hanya diam dalam balutan selimut.


Radit berbaring mengatur nafas di sampingnya, matanya menerawang jauh sekian lama, lalu bangun dan meraih pakaian lalu mengenakannya.


"Berpakaian lah lagi nanti kamu masuk angin, tidurlah." Radit mengusap kepala Karina dan mencium keningnya lalu turun dengan telanjang dada dan keluar kamar.


Setitik airmata Karina jatuh dari sudut bola matanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2