Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Mabuk


__ADS_3

Pertama kali naik pesawat terbang Karina merasa keleyengan, mungkin juga dari rasa takut yang dirasakannya.


Turun dari pesawat Karina langsung meminta istirahat pada Andhini dan Radit, duduk di ruang tunggu menenangkan diri dan merasakan pusing yang luar biasa.


Andhini duduk di sampingnya sambil mengurut tengkuk Karina untuk sekedar membantu merelaksasi dan menenangkan sehingga rasa pusing yang dirasa Karina bisa berkurang.


Radit hanya memandang kedua istrinya kelihatan malah Andhini yang lebih memberikan perhatian pada Karina sejak dari keberangkatan di dalam pesawat Karina yang duduk di belakangnya dan Radit sama Andhini di kursi depan. Andhini selalu saja menengok ke belakang dan bertanya barangkali Karina memerlukan sesuatu.


Karina merasa nggak enak apalagi Andhini sampai memijat tengkuknya, bagaimanapun Andini adalah majikannya walau dirasa Karina mereka kedudukannya sekarang sama dirinya juga adalah sama istri seorang Tuan Radit tetapi yang memiliki kuasa dalam hal apapun yang menyangkut dirinya adalah Nyonya Andhini.


"Maaf Nyonya, Aku jadi merepotkan. Aku memang baru pertama kali naik pesawat terbang mabuk udara ternyata lebih parah yang Aku rasakan tak seperti naik kendaraan darat lainnya." Karina merasa malu harusnya dirinya yang bisa mengurus Nyonya majikannya.


"Nggak apa-apa Karina kita kan sudah jadi keluarga sekarang kamu ada dalam tanggung jawab kami, istirahatlah dulu sampai kamu merasa enakan biar Mas Radit mencari minum dulu." Ucapan lembut Andhini begitu menenangkan hati Karina.

__ADS_1


Datang Radit dengan tentengan minuman dan sedikit makanan menyodorkan pada Andhini, semakin tak enak saja hati Karina diperlakukan begitu manja disayang sama kedua suami istri ini tidak ada pilihan lain selain menurut atas semua keinginan mereka.


"Bukain dong Mas minumnya, Karina kan lagi pusing, biar Aku buka makanannya." Andhini memandang Radit setelah memberikan botol air mineral pada Karina yang hanya di menggenggam tak membukanya dan bersandar di kursi ruang tunggu dengan mata di pejamkan.


Radit mendekat, duduk di samping Karina mengambil botol minuman di tangan Karina dan membukanya. Lalu memberikan pada Karina sambil menggoyangkan tangan Karina yang memejamkan mata.


Karina membuka matanya dan mengucapkan terimakasih, Radit memandang Karina yang meneguk minuman di botol.


Tapi mual malah semakin Karina rasakan, mengambil kantong khusus yang tadi dibagikan di pesawat dan Karina menyelipkan di tasnya.


Karina berjalan ke pinggir tembok ruang tunggu dan istirahat menunggu jemputan dan memuntahkan isi perut dekat tempat sampah yang berjejer.


Andhini mengejar dan memegang tangan dan tengkuk Karina sambil memijat-mijit dan mengoleskan minyak angin di pundak dan lehernya.

__ADS_1


"Ya ampun, kamu parah banget mabuknya ya? biar kalau sudah keluar di muntah kan kamu sedikit enakan jadi nanti bisa istirahat dengan tenang dan minum obat kalau sudah sampai."


"Iya Nyonya maafkan Aku, lumayan agak enakan rasanya kalau ada sekarang mau minum teh manis hangat."


"Iya, tapi di sini rasanya susah untuk mendapatkan teh manis hangat ada juga di lemari pendingin seperti itu minuman dingin, Kamu kuat naik taksi sekarang? nggak begitu jauh biar sekalian istirahat di sana saja bikin minumnya gimana?"


"Hanya lemas saja Nyonya, tapi kuat kok."


"Oke, Mas. Tolong bimbing Karina takut dia jatuh agak lemas katanya," ucap Andhini pada Radit.


Raditya merengkuh pinggang Karina dan Andhini memegang sebelah tangannya, sampai pada kursi tadi, lalu dengan hati-hati Radit mendudukkan Karina mengusap punggung dan berdiri untuk memanggil taksi.


Dalam taksi Karina duduk berdampingan dengan Andhini Radit duduk di depan samping sopir.

__ADS_1


__ADS_2