
Radit lagi berdua sama Andhini, membereskan dan menata pajangan di rak-rak panjang. Sebentar lagi akan menutup minimarket nya, Radit memeluk pinggang Andhini yang kelihatan menolak karena menurut Andhini mereka masih di ruangan publik. Tapi Radit memaksa setengah meronta Andhini berusaha melepaskan diri. Andhini terlalu sensitif untuk urusan seperti itu kayak nggak punya ruang privasi saja, selalu beralasan begitu.
Lagian kemesraan bukan untuk di pamerkan, tapi di jaga keharmonisannya, semua orang punya cara tersendiri mengekspresikan kebersamaan
"Tolong beri Aku waktu sebentar saja, menyapu sedikit di depan meja Kasir Mas!" ucap Andhini pelan.
"Biasanya lakukan di manapun kapanpun Mas menginginkannya," ucap Radit saat mendapat penolakan Andhini.
"Tapi bukan jadi tontonan orang seperti ini Mas, tuh masih ada yang mampir ke toko kita." sahut Andhini melihat orang membaca papan nama minimarketnya.
"Ini Australia Andhini bukan Indonesia, dimana kemesraan suami istri biasa di pertontonkan banyak orang kenapa kita begitu sulit hanya ingin dekat saja?" Radit seperti merengut mirip anak TK yang tak dikasih uang jajan saat menginginkan sesuatu.
"Jangan dulu banyak yang di bahas, kenapa Adikmu Mas izinkan jalan sama karyawan kita Vira kalau kita menginginkan berdua? bukankah lebih baik mereka di sini menjaga toko?" semprot Andhini sambil senyum sarkas.
"Oke, Aku salah ya? tadinya Aku mau berdua setelah menutup toko ini sepertinya Aku harus banyak menebus kesalahan." Radit jujur dan sadar dengan keadaan.
Radit kembali duduk di meja kasir membiarkan Andhini melakukan apapun, dan membereskan segala yang menurutnya belum pada tempatnya.
Terakhir Andhini menyapu semua bekas struk belanjaan yang pembeli tinggalkan begitu saja.
Radit tersenyum sambil menghampiri kembali, mengambil sapu dari tangan Andhini dan Andhini menjadi keheranan sendiri.
"Lho, katanya mau cepet pulangnya Mas?"
"Kamu tak pantas pegang sapu Sayang!" ucap Raditya sambil tersenyum.
"Pantasnya Aku ngapain?" tukas Andhini sambil memandang wajah suaminya.
"Pantasnya kamu Aku peluk, Kenapa kita begitu jauh ke negeri orang tapi begitu susah payah melakukan segalanya sendiri? biasanya Aku melihat istriku di layani tapi semua di sini di lakukan sendiri Aku merasa paling bersalah di sini Andhini." Radit memperlihatkan rasa sayangnya.
"Aku tidak merasa terbebani melakukannya Mas, Aku senang bisa berdiri diatas usaha rintisan kita, sungguh satu kebanggan buatku saat Aku berhasil merekrut pekerja di perusahaan ini."
Sampai di situ ponsel Radit berbunyi.
'Karina memanggil ...'
__ADS_1
Andhini memandang suaminya karena tak segera menjawab panggilan dalam ponselnya.
"Mas! siapa?"
"Rina."
Deg! Andhini jadi kepikiran takut ada apa-apa, tapi kenapa baru saja sehari tak bertemu sudah menelephon? bukankah semalam bersama? Andhini harus berpikir lain mencari asisten pribadi Karina kalau begitu, untuk bisa menjaga sampai Karina menjalani hamil besar nanti, jangan sampai kehamilan menjadi alasan Mas Radit untuk menjaganya setiap waktu sehingga hilang waktu dan kesempatan untuk bersama dirinya.
Andhini tidak egois tapi karena Mas Radit semalam bersama Karina siang ini Mas Radit jangan bersama Karina, walau itu juga pilihan Mas Raditya sendiri bukan permintaannya.
Seharusnya Karina juga mengerti akan hal itu, tapi kenapa sekarang menelephon Mas Radit?
"Aku jawab ya?" ucap Radit di hadapan Andhini.
"Jawab saja!"
"Ya Rina ada apa?"
"Mas, Aku bosan di dalam terus tapi keluar sudah mau sore menjelang malam, kata orangtua nggak boleh seorang istri hamil keluar di waktu itu, Aku mau makan yang pedas-pedas bisa Mas mampir ke sini tolong bawain?" ucap Karina kedengaran begitu penuh harap.
"Kok bilang dulu? biasanya juga mampir ke sini, Aku mau bertemu Mas Radit di sini."
"Rina, semalam kita sudah bersama dan itu menyalahi, sekarang Aku ingin menebus kesalahan itu, tolong kamu mengerti tapi kalau soal makanan nanti Aku kirim ke situ kita tidak usah berdebat dalam hal ini ya."
Semua jelas di dengar Andhini yang pura-pura masih sibuk, Andhini masih saja diam sampai Mas Radit ngomong sendiri.
"Ayo Mas kita pulang, Aku lelah. Ada apa Karina?"
"Dia minta dikirim makanan karena nggak sempat atau malas turun," ucap Radit tak bersemangat.
"Dia mau apa? kirim dan beli Mas aja nanti mampir ke sana."
"Kamu nggak apa-apa kan Sayang?"
"Nggak apa-apa, dalam tubuh Karina ada anak kita nanti."
__ADS_1
"Ya sudah kita pulang sekarang."
Tanpa banyak kata Radit menutup rolling door, karena Dion yang biasa jaga sampai sekitar jam 21 malam berhalangan masuk dan salahnya Vira di izinkan pulang lebih awal dan jalan sama Rahadian biar Rahadian punya teman selama liburnya.
"Andhini maafkan Aku! Aku tidak bisa adil dengan semua ini, Aku egois mengikuti amarahku sendiri."
"Mas masih bisa menyadari itu Alhamdulillah, tapi jangan di ulang. Oke Karina dalam kondisi hamil tapi bukan berarti lupa akan perjanjian, jujur Aku menunggu Mas malam tadi tapi malah seperti kalian memenangkan semuanya."
"Aku tahu Sayang kamu marah, tapi Aku masih melihat kesabaran dan kelembutan kamu, Aku tak akan mengulangnya lagi," tutur Radit sambil berjalan di trotoar memepet Andhini. Berusaha memeluk pinggangnya mengimbangi Andhini yang berjalan sedikit cepat.
"Beli dulu makanannya di sana, nanti Aku tungguin di sini." Andhini menunjuk bangku kecil di bawah pohon yang daunnya berguguran.
Andhini duduk di taman depan gerai makanan siap saji, Radit mampir ke dalam toko makanan itu dan langsung memesannya.
Setelah selesai lalu menghampiri Andhini yang lagi melihat-lihat ponselnya.
Lalu mereka berjalan walau tanpak kemarahan tetap saja Andhini bisa bersikap baik terutama di hadapan suaminya berharap hanya pengertian dari Radit.
"Aku mampir sama kamu juga ya?"
"Mas aja, Aku langsung pulang soalnya sudah pesan makanan diantar ke kamarku, kita makan bareng habis mandi." tolak Andhini, yang sebenarnya tak ingin melihat kebersamaan suaminya sama Karina betapapun itu adalah keinginannya, tapi hati kecilnya selalu bertolak belakang dengan keputusannya.
Keinginan memiliki anak itu motivasi terbesarnya mengikhlasan Mas Radit menikah dengan orang lain, pada akhirnya sampai juga Andhini pada perasaan perempuan yang sebenarnya tak ingin berbagi, tapi semua sudah terlanjur Karina telah hamil dan satu lagi Andhini tak bisa menerima ketidakadilan yang dilakukan suaminya hanya karena marah sedikit lalu minggat ke tempat Karina.
Radit masih berusaha menenangkan Andhini dengan memeluk dan menciumnya di dalam lift saat naik di gedung kondominium di mana mereka tunggal karena mereka kebetulan berdua di dalamnya kalau Andhini menyambutnya begitu dingin.
Sampai mereka berpisah di lorong panjang, Radit berjalan ke arah lorong Karina tinggal dan Andhini meneruskan langkahnya ke arah tempat tinggal huniannya.
Ada sepasang mata yang mengamati mereka dari kejauhan dan sampai mereka hilang masuk lift, tapi mendapati Raditya berbeda arah sama Andhini, menjadikan keheranan bagi Rahadian.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1