
Andhini mengusap air matanya merasa dirinya tidak terlalu bersalah dalam hal ini, rasanya wajar mengingatkan suaminya untuk memperhatikan Karina bukan malah marah seperti itu. Itu juga adalah bagian dari tanggung jawab Mas Radit sebagai calon Bapak.
Andhini merasa memang semua ini adalah rencananya karena dirinya ingin memiliki seorang anak, kenapa tidak Mas Radit juga berkorban sedikit perasaannya demi rumah tangganya. Demi Anak yang selalu diimpikan dan menjadi penantian bagi kedua orang tuanya.
Andhini merasa sedih sendiri, dilema dan serba salah juga sakit hati diperlakukan seperti itu, Mas Radit tak sepantasnya begitu. Seharusnya saling menguatkan kalau dirinya juga sama istri sahnya, seperti memberi motivasi terhadap Karina.
Gelisah sampai larut malam membayangkan hal lain Mas Radit sama Karina semua tak Andhini perkirakan sebelumnya, Semua kejadian barusan terasa mengiris hatinya, berharap Mas Radit balik ke kamarnya dan menenangkan juga memeluknya tapi sampai pagi tak kunjung tiba, alhasil Andhini tak bisa memejamkan matanya.
Introspeksi diri dan berpikir apa salah dirinya, apa menyuruh Mas Radit menengok Karina dan menanyakan sudah makan sebagai bentuk perhatian, salahnya dimana? dan Andhini berusaha menyelami apa maunya Mas Radit membuat Andhini marah dalam hatinya merasa tak dihargai pendapatnya.
Andhini menyadari kekurangannya belum bisa hamil selalu menghibur diri dengan kata belum bisa karena masih banyak harapan di dalam hatinya suatu saat Yang Maha Kuasa memberinya keajaiban walaupun divonis dokter tidak akan pernah hamil tetapi siapa yang bisa melawan kuasaNya?
Tapi dirinya tak bisa menerima perlakuan dan marahnya Mas Radit hanya karena mengingatkan untuk memperhatikan Karina karena Andhini yakin dari bentuk perhatian semua akan berjalan dengan baik dan satu yang tidak boleh dilupakan ada anak yang akan menjadi anak mereka di dalam tubuh Karina sepantasnya sebagai orang tuanya Andhini dan Radit lebih memperhatikan kesehatan cabang bayinya sejak dini.
Andhini tahu begitu bercabang dan banyak pikiran di otak Mas Radit dari mulai pekerjaan yang bertumpuk semakin sibuk saja mereka menjalani rutinitas dengan bertambahnya supermarket baru yang akan dibuka. Otomatis menyita waktu dan perhatian mereka dan yang terakhir datangnya Rahadian ke Melbourne Australia menjadikan kecemasan bagi Radit dan Andhini takut semua permasalahan yang mereka simpan dengan rapi dan di rancang dengan baik terbongkar sebelum waktunya akan terjadi kekacauan yang tidak diperkirakan seandainya Rahadian tahu Kakaknya Radit telah menikah siri dan sekarang istrinya sedang hamil ada di sini.
Kekaguman seorang adik pada Kakak dan sebagai panutan Rahadian pada Radit akan luntur seketika mengetahui semuanya dan itu akan menjadi berita besar yang tidak bisa ditutupi sampai ke Indonesia pada orang tua mereka.
Semua itu membuat hati Andhini dan Raditya begitu sensitif, mudah marah dan cepat tersinggung yang ujung-ujungnya salah faham seperti kejadian malam tadi.
Menjelang subuh Andhini baru bisa memejamkan mata karena lelah menangis sendiri sehingga matanya sampai bengkak dan di rasa begitu perih dan berat.
***
Lain lagi di hunian Karina. Setelah Radit mengetuk pintu Karina merasa kaget tapi senang saat tahu siapa yang datang ke kamarnya.
"Oh, Mas Radit? maaf Aku baru habis mandi," ucap Karina yang tak berhijab hanya ditutupi handuk kepalanya dan memakai piyama mandi diatas dengkulnya
"Aku tidur di sini malam ini." Radit menerobos masuk tanpa di persilahkan dan duduk di sofa.
Karina mengunci pintu dan heran melihat Mas Radit seperti kesal dan lagi marah. Tapi tak ada keberanian untuk bertanya.
__ADS_1
Hanya mengajaknya bicara seperlunya Karina tak ingin terlalu ikut campur urusan rumah tangga Mas Radit sama Nyonya Andhini, karena dirasa Karina bukan saatnya untuk bertanya dalam kondisi seperti itu. Membiarkan sampai Mas Radit bicara sendiri atau tak bicara sama sekali masalahnya jika itu yang lebih baik.
"Mas, mau minum apa? biar Aku bikinin. Kopi apa teh?" sapa Karina dalam hening berdiri di hadapan Radit.
"Apa aja!"
Karina membuat dua teh manis sedang karena dirinya juga mau minum teh hangat, sepertinya menenangkan.
Menyimpan dua cangkir minuman dan duduk di samping Radit sambil mengocek isi cangkir tanpa berkata apa-apa Karina merasa bersalah.
"Kamu sudah makan?" sapa Radit saat Karina mau bangun bermaksud mengganti pakaian dan menyisir rambutnya.
Karina jadi melirik suaminya dan mengurungkan niatnya berdiri.
"Sudah Mas, apa Mas lapar mau makan?"
"Aku sudah makan, hanya memastikan kalau kamu jangan sampai telat makan," jawab Radit datar.
Radit tersenyum sambil memegang pundak Karina, lalu mengangguk.
"Nggak apa itu normal dan mungkin biasa bagi Ibu hamil, akan mengalami hal seperti itu."
Makan yang banyak yang sehat biar kamu sehat juga bayinya," ucap Radit berusaha tersenyum manis di hadapan Karina.
"Mas, kenapa ke sini malam-malam? Aku jadi merasa bersalah," tanya Karina sambil menunduk tak berani menantang tatapan tajam Radit yang begitu dekat di sampingnya.
"Itu keinginanku, tak ada yang menyalahkan kamu," jawab Radit sambil membelai mengusap bibir Karina dengan jarinya.
Radit membuka Handuk di kepala Karina, lalu terurai rambut panjangnya, tatapannya begitu liar pada tubuh Karina yang begitu ranum berisi dengan piyama mandi agak terbuka bagian dadanya.
Tangan nakal Radit mulai menyelusuri dan semakin melebarkan belahan piyama itu lalu pemandangan indah di baliknya terpampang di depan matanya, dada padat sedikit mengalami perubahan khas wanita hamil membuat jakun Radit turun naik menelan saliva nya.
__ADS_1
Karina diam dengan menahan perasaannya sendiri, membiarkan suaminya menenggelamkan kepala dan mukanya di dadanya, menikmati sentuhan lembut saat mulut Radit menyentuh dadanya dengan hisapan dan usapan.
Karina menggelinjang kegelian merasakan sentuhan kenikmatan dengan ******* membuat Radit tersenyum dan mengulangnya.
"Mas …"
"Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu Rina." bisik Radit hangat di telinga Karina membuat bulu kuduk Karina berdiri.
Bibir Radit sudah menjalar kemana-mana, dan sekilat Radit membopong tubuh Karina ke tempat tidur dan mencumbuinya dengan bernafsu.
Dua cangkir teh hangat menjadi dingin di meja, berdua menyelesaikan hasrat panas di tempat tidur dan kerinduan Karina akan belaian yang ingin terpuaskan.
"Mas, hati-hati ada anak kita dalam rahimku."
Radit mengerem gerakannya menjadi lebih lambat dengan menjaga jarak dari perut Karina, sejak Karina di nyatakan hamil mungkin Radit hanya beberapa kali berhubungan suami istri dengan Karina dikarenakan kesibukan juga Radit tahu berhubungan dengan wanita hamil muda akan mendatangkan resiko yang lebih besar jadi lebih baik menjaga jarak hubungannya.
Nikmat yang dirasakan Radit tak bisa di pungkiri serasa menjadi laki-laki seutuhnya saat berada diatas tubuh istrinya yang sedang hamil walau belum begitu kelihatan. Sekali kali badannya turun mencium perut Karina.
Dengan penekanan yang dikurangi Radit menyelesaikan semuanya, mencium bibir Karina dan mencium perutnya kembali, Karina merasa geli dan memegang kedua sisi kepala Radit saat mencium perutnya.
"Terimakasih Rina!" ucap Radit sambil turun dari tubuh Karina dan merebahkan tubuhnya di samping Karina sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
Karina balik memeluk tubuh kekar Radit di sampingnya yang masih telanjang. Radit mengusap usap punggung Karina.
Baru kali ini Karina merasakan mungkin akan satu malam bersama Mas Radit, senang banget rasa hatinya, akan merasakan semalaman dalam pelukan Mas Radit.
Karina tersenyum sendiri merasa menang di hadapan Nyonya Andhini. Merasakan sentuhan suaminya seutuhnya di malam hari itulah impian Karina.
*****
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1