Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Amarah pemaksaan


__ADS_3

"Aku sudah mandi, nggak deh pagi ini, lagian Aku sudah dandan. Mas mandi sekarang Aku tungguin!" ucap Andhini sambil tersenyum pada Radit yang masih di tempat tidur.


"Jangan salahkan Aku!"


"Maksud Mas apa?"


"Aku kangen Kamu, biasanya tak ada kata penolakan seperti itu, Kapanpun di manapun Mas menginginkannya lakukan! Sepertinya Karina sekarang yang punya kata-kata itu!" jawab Radit agak ketus dengan alasan Andhini yang seolah menolak keinginannya.


Andhini sekilas memandang suaminya dengan surat mata yang berkilat-kilat.


"Jangan pernah menyamakan Aku dengan siapapun! apalagi membanding-bandingkan! Aku adalah Aku dengan segala kekurangan dan kelebihanku, rupanya Mas telah termakan jerat Karina melupakan segalanya, Aku hanya memberi alasan karena Aku sudah mandi, sudah dandan dan sebentar lagi mau berangkat kerja, bukan Aku menolak keinginan suami, masih banyak waktu kebersamaan kita, banyak hal yang harus Aku persiapkan dan Aku bereskan, untuk saat tertentu Aku bisa saja setiap waktu seperti kata-kataku tadi, lakukan kapanpun Mas mau! tetapi dalam waktu tertentu kita bisa menundanya, kenapa sih selalu saja Mas mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatiku?"


"Aaaah! selalu saja salah! Aku sudah tak menemukan kenyamanan lagi di sini!" Suara Radit seperti emosi. Melempar bantal sembarangan entah ke arah mana.


"Oke! Mas menginginkan Aku sekarang? lakukan! ayo! nggak di buka sekarang dan hari ini juga supermarket itu nggak apa-apa, yang utama bukan usaha kita itu, Ingat, Aku mengizinkan Mas menikah lagi dengan Karina demi keutuhan rumah tangga kita, Aku memilihkan Karina untuk Mas karena ku percaya semua bisa memegang janji itu, tapi sekarang bukan ketentraman dan keutuhan rumah tangga yang Aku dapatkan tetapi masalah yang tidak terselesaikan!" Andhini membuka kembali pakaiannya di hadapan Radit. Sambil sama-sama emosi.


"Aku sudah nggak mood lagi!" teriak Radit.


"Lakukan!" Andhini juga teriak menarik tangan Radit mendekat ke arahnya tanpa jarak lagi lalu Andhini menyeretnya dengan paksa ke tempat tidur.


Andhini membuka kancing kemeja suaminya dengan kasar dan melemparnya sembarangan. Andhini terlentang di tempat tidur dan Radit masih diam duduk dengan nafas tersengal menatap tubuh putih mulus Andhini


"Lakukan sekarang, bukankah ini yang Mas inginkan demi membuat Aku memaafkan Mas? Aku sudah memaafkan kamu Mas! dari semua kesalahan yang Mas lakukan tapi tolong jangan bicara yang bukan-bukan!" tak kalah kencang suara Andhini di dekat Radit duduk.

__ADS_1


Radit tak mencerna tak mendengar apa yang Andhini ucapkan hanya ada kemarahan dalam hatinya. Radit marah pada siapa mungkin pada kenyataan dirinya yang tak bisa konsisten dengan perjanjian, mungkin benar adanya dirinya yang sudah terlalu berlebihan memberikan perhatian pada Karina, sedangkan pada Andhini yang sebenarnya yang tujuan utamanya untuk mempertahankan rumah tangganya malah berbalik 180 derajat seperti pengakuan Andhini merasa diabaikan mungkin benar adanya seperti itu.


Tanpa banyak kata Radit dengan kasar menyergap Andhini, menciumnya dengan kasar bahkan langsung melakukan semuanya tanpa foreplay terlebih dahulu, Andhini tak bisa menolak perlakuan kasar dan kuat suaminya, menyadari dirinya yang menantangnya tetapi bukan perlakuan yang seperti ini yang sebenarnya Andhini inginkan.


Andhini hanya meringis belum pernah Mas Radit melakukan hal seperti ini sebelumnya.


Entah sudah agak lama tak melakukan penyatuan Andhini merasa sakit, tapi gak bisa berkutik dan berbuat apa-apa merasakan sensasi kemarahan yang di nyatakan dalam hubungan suami istri, berada dalam kungkungan suaminya yang seakan begitu beringas tak terkendali, seharusnya menjadi suatu pernyataan cinta kasih yang lembut dan saling menikmati tetapi kali ini bukan hal seperti itu yang Andhini dapatkan.


Andhini baru menyadari mungkin satu kekeliruan dirinya menantang seorang suami bermain saat di tempat tidur kala sedang amarah menguasainya.


Radit seakan kesurupan menjamah dan mendatangi istrinya dengan amarah yang meluap-luap, bibir Andhini terasa asin mungkin lecet dan terluka karena ciuman yang berubah jadi gigitan, juga kuncup di dadanya berubah jadi gigitan kecil terasa perih, hanya satu yang di inginkan Andhini Mas Radit segera menyelesaikan dan menuntaskan semuanya.


"Mas! pelan bisa nggak lebih lembut? Aku sakit!" teriak Andhini walau tak di dengar Radit sama sekali, terus aja menguasai tubuh Andhini yang menggelinjang dan sedikit meronta menahan beban tubuh suaminya yang melakukan pemaksaan sepihak.


Pergulatan kurang lebih setengah jam akhirnya selesai juga, Radit turun dari tubuh Andhini dengan melempar tubuhnya sendiri di samping Andhini. Andhini mengusap airmatanya merasakan itu bukan Mas Radit lagi sebagai suaminya.


Mengatur nafas yang tersengal-sengal dan detak jantung diatas rata-rata, Radit menetralkan nafas yang ngos-ngosan, begitu juga Andhini.


Andhini bangun menatap suaminya yang tak memandang ke arahnya.


"Mas telah menyakiti Aku, lebih dari apapun, selain kata-kata Mas yang menyakitkan, Mas telah berbuat kasar dan seolah memperkosa Aku istrimu sendiri!" ucap Andhini sambil gurun dari tempat tidur.


Andhini membersihkan diri dengan rasa perih di bagian sensitif tertentu, lalu bergegas keluar kamar mandi dan mengambil tas kerjanya lalu membuka kunci pintu, dan keluar melangkah dengan tetesan airmata, tak memperdulikan lagi suaminya yang masih di dalam kamar.

__ADS_1


Andhini hampir menabrak seseorang yang berdiri di balik pintu, Rahadian, berdiri di situ.


"Kak Andhini?"


Andhini tak menjawab hanya menatap sekilas tanpa ekspresi lalu melangkah dalam pandangan Rahadian yang tak mengerti dan bingung melihat Kakak iparnya keluar sambil menangis.


Andhini tak menoleh saat Rahadian beberapa kali memanggilnya dan berlari kecil mengejar. Hingga Andhini masuk ke dalam lift turun.


Rahadian bingung haruskah mengejar Kakak iparnya? atau masuk ke tempat huniannya dimana Kakaknya Radit pasti masih asa di dalamnya.


Karena Andhini tak terkejar akhirnya Rahadian balik ke kamar Kakaknya dengan membuka pintu dan mendapatkan Radit Kakaknya hanya baru turun dari tempat tidur dengan telanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer lalu masuk ke kamar mandi.


Rahadian membuka gorden dan menghempaskan tubuhnya di sofa, hatinya geram melihat Kakaknya yang sepertinya habis berantem dan menyakiti Andhini Kakak iparnya, walau Rahadian tidak tahu apa permasalahan mereka yang sebenarnya tapi yakin itu ada hubungannya dengan kejadian kemarin saat Rahadian mau ke tempat Karina di situ ada Kakaknya Radit sedang bermesraan berdua di kamar Karina.


Ingin rasanya saat itu juga Rahadian bertanya ada apa semua ini? tapi pantas ribut di tempat orang lain?


"Pagi banget ke sini, sudah minum?" Radit yang keluar dari kamar mandi menyapa Adiknya datar seperti tanpa beban apapun.


Rahadian diam saja seperti sedang mengumpulkan kata-kata minta penjelasan dari mana mulai bertanya sama Kakaknya.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2