
Radit duduk samping pusat perbelanjaan yang entah ada di lantai berapa, di situ pusat jajanan makanan dan tempat minum hangout sambil memperhatikan Andhini istrinya belanja dan memilih semua pakaian yang diperlukannya.
Radit merasa semua yang dilaluinya selama ini telah berlebihan keluar dari jalur yang semestinya, sampai Rahadian datang dengan pendapatnya yang menyadarkan dirinya dari keterlanjuran.
Semua pasti ada hikmahnya termasuk yang dilalui dan di alaminya selama ini.
Radit memesan satu kopi mix capuccino twister, dengan makanan ringan lainnya. Berpikir sendiri sambil santai minum dan melihat ponselnya, begitu aneh kini menyadari kalau dirinya tiba-tiba punya dua istri. Sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya jalinan cinta dirinya dengan Andhini kenapa harus membawanya kepada permasalahan yang rumit seperti ini?
Terkadang Radit berpikir begitu takut kehilangan cinta sejatinya yaitu Andhini, tapi kini dirinya harus dihadapkan pada tanggung jawab lain pada Karina dan anaknya yang akan lahir sebagai dagingnya sendiri.
Memikirkan Istrinya Andhini Radit menjadi merasa bersalah, tak seharusnya dirinya bersikap seperti itu pada Andhini yang dengan kesetiaan sikapnya tak pernah berubah kepada Karina walaupun Karina telah merubah sikap suaminya sendiri menjadi orang yang mengabaikannya.
Radit kehilangan jejak Andhini yang asyik berbelanja dan memilih pakaian yang cocok buat dirinya juga Karina.
Andhini hilang dari pandangannya, mungkin ke salah satu sudut atau pojok pusat perbelanjaan mencari sampai kemana-mana saking asyiknya berbelanja.
Radit berdiri karena terhalang rak pakaian, dari kejauhan Andhini kelihatan di tarik seseorang dan di peluknya, Kelihatan Andhini panik dan berusaha meronta lalu mendorong laki-laki itu.
Radit mengucek matanya, sekali lagi memastikan kalau itu Andhini istrinya. Lalu siapa pria yang dengan berani main tarik bahkan memeluknya?
Sekilat Radit bergegas mau menghampiri tapi terhalang banyaknya properti dan pajangan pakaian, lalu lalang orang di sekitar tempat makan dan supermarket itu.
Siapa orang iseng yang dengan sok akrab memeluk istrinya? Radit tak peduli pakai yang dilewatinya pada jatuh ke lantai sampai pada tempat yang dituju Andhini dan orang itu hilang.
Radit sedikit panik tapi berusaha mencari, pasti belum jauh dari tempat ini.
Sampai di salah satu belakang tempat kamar pas Radit mendengar perdebatan suara istrinya, mungkin dengan orang tadi yang kelihatan dari jauh sama Radit menarik dan berusaha memeluknya.
"Andhini, Aku tanya sama siapa kamu ke sini?" kedengaran suara laki-laki itu dan kemungkinan memepet Andhini.
__ADS_1
"Sudah Aku jawab dok, Aku sama suamiku." Jelas terdengar suara Andhini.
"Jangan bohong! Aku belum pernah melihat Kamu jalan sama suamimu, Kamu sendirian kan? Aku sangat kangen sama kamu Andhini, rasanya tak sabar menunggu waktu kita bertemu lagi, sebenarnya begitu kebetulan kita bertemu di sini seperti doa-doa ku yang selalu memenuhi angan ku selama ini siang dan malam," ucap laki-laki itu kedengaran aneh di telinga Raditya.
"Dokter jangan bilang begitu, tak baik bicara begitu, Aku butuh dokter tapi sekarang Aku lagi bersama suamiku tolong mengerti, pergilah sebelum Mas Radit tahu kita ada di sini!" ucap Andhini kedengaran begitu meyakinkan laki-laki itu.
"Andhini! tapi Aku juga tak bisa bohong kalau selama ini begitu berharap bisa bersama lagi, Aku belum percaya kalau kamu ke sini sama suami Kamu, Ayolah jangan menghindar kita makan dulu sambil ngibrol."
Radit mengatupkan rahangnya menyingkap beberapa bagian dan berdiri diantara Andhini dan dr Fadli yang begitu terkejut melihat kehadiran Radit di hadapannya.
Seketika Andhini dan Radit terkesima dan diam membisu.
Api amarah terpancar dari mata Radit dengan tatapan tajam menghujam pada dua orang di hadapannya.
Buk! satu bogem mengarah ke muka dr Fadli, tapi dr Fadli menghindar tinju Radit mengena di dada sebelah kirinya, dr Fadli limbung dan jatuh menimpa pajangan pakaian sehingga semua rubuh berantakan.
"Jadi selama ini kalian selalu bersama? dan meminta pisah ranjang itu hanya alasan saja ya? saat Aku menyadari kesalahan kini melihat Istriku main api di hadapanku! siapa Kamu?" Radit menunjuk muka de Fadli.
Dr Fadli memegang dadanya dalam posisi terjengkang diantara pakaian yang berantakan.
Dr Fadli dan menarik tangan Andhini lalu melempar keranjang belanjaan yang di pegang Andhini dan tercecer begitu saja.
"Mas, Mas salah paham, itu dokter Aku! tolong lepaskan tanganku Aku bisa berjalan sendiri!" ucap Andhini melepaskan cengkraman yang dilakukan Radit sambil berjalan tergesa turun menuju lift.
"Jangan dulu bicara apapun! nanti saja kamu jelaskan di rumah!"
"Tapi Mas jangan perlakukan Aku seperti ini! apa Mas tak punya malu dilihat banyak orang?"
"Diam Kamu! yang malu itu bicara sama laki-laki lain dan brengsek juga pelukan di ruang publik seperti ini."
__ADS_1
Andhini tak bicara lagi, hanya berjalan dengan tergesa supaya bisa sampai di parkiran dan segera naik mobil lalu keluar dari lingkungan tempat pusat perbelanjaan itu.
Radit menutup pintu dengan di banting sekeras-kerasnya, membuat jantung Andhini begitu berdebar.
Mas Radit mungkin murka dan marah besar kali ini, memang pertemuan yang tidak di sengaja dengan dr Fadli tadi membuat Andhini juga merasa takut karena Andhini lagi jalan sama suaminya.
"Pasang sabuk pengamannya!"
"Mas! sabar kenapa marah di sini? ini ruang publik kalau menjalankan mobil diatas rata-rata nanti pasti akan di tegur polisi, Aku tak mau celaka Aku mau turun saja!" ucap Andhini sambil mau buka kembali pintu mobil tetapi Radit dengan sigap menguncinya untuk semua pintu mobil supaya Andhini tidak keluar, dan Radit tetap menjalankan mobilnya dan mulai keluar dari parkiran.
Andhini hanya meringis saja melihat Radit menjalankan mobilnya dengan kemarahan.
Tak perlu waktu lama mobil sampai di parkiran kondominium mereka.
Andhini keluar dan langsung berjalan sendiri tak menunggu Radit dulu yang keluar dengan tergesa juga mengejar Andhini dengan berjalan sedikit berlari mengimbangi Andhini.
Andhini membuka pintu dan melempar tasnya ke sofa lalu membuka jaketnya di cantel di kapstock.
"Apa yang kamu lakukan di supermarket tadi sungguh tak punya malu, berpelukan segala seperti pasangan saja layaknya, jadi selama ini kita pisah ranjang itu kamu bersama orang itu ya? apa yang Kamu inginkan dari pernikahan ini Andhini? setelah menjadikan Aku di lilit masalah kini kamu sendiri yang bikin masalah!"
Andhini hanya diam sambil membuka sepatunya, mengambil gelas dan menuang air dari dispenser lalu meminumnya.
Radit menguntitnya dengan tetap nyerocos mencecar Andhini pertanyaan yang terus di lontarkannya.
"Itu hanya dokter Aku Mas, Aku program kehamilan sendiri tanpa Mas karena Aku tahu Mas sedang sibuk, walau kedengarannya aneh seorang yang lagi pisah ranjang melakukan program kehamilan."
"Pokoknya Aku tidak percaya kalau Kamu tidak ada apa-apa sama orang itu! Aku melihatnya dan mendengar semua kata-katanya! aaaaaah dasar brengsek semuanya!" bruk! prang! Radit menyapu segala yang ada di atas bufet semua pecah dan berantakan.
******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️