Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Cinta Rai tanpa syarat


__ADS_3

Vira menjadi tak menentu perasaannya, bahagia dan senang juga rasa takut semua campur aduk seperti es teler yang meler meleleh.


Ada sedikit ketakutan dalam hati Vira, banyak yang harus Vira pertimbangkan yang paling nyata adalah pasti ketimpangan status sosial keluarga mereka. Memungkinkan itu yang akan jadi hambatan dan batu sandungan dalam hubungan mereka suatu saat nanti.


Vira harus jujur dari sekarang apa adanya dirinya dan keluarganya.


Demi mengurangi rasa nervous Vira, Rai menarik tangannya keluar dari tempat makan itu dan berjalan bersisian di remang malam akhir musim gugur, tapi hati mereka seperti bersemi apalagi hati Vira disaat ini.


Malam itu seperti menjadi malam mereka seutuhnya, kebahagiaan mereka berseri-seri seperti bunga yang bermekaran sehabis musim gugur lalu datang musim semi di dalam hati mereka.


Angin semilir dingin di penghujung musim gugur menuju musim dingin, begitu ingin Rai melewati 4 musim di negara ini, dan melewatkan bersama Vira yang sudah di incarnya sejak lama.


Gadis Sunda yang kecantikannya begitu khas, malu dan sopan saat bicara dan dalam berpakaiannya tetap syar'i walau tinggal di negara yang mayoritas menganut kebebasan dalam hal tertentu.


Kini ucapan cinta telah di utarakan sepertinya gayung bersambut, kelihatan Vira begitu terkejut, ucapan Rahadian yang tanpa kode atau isyarat apapun sebelumnya dan tanpa aba-aba sama sekali berhasil membuat Vira begitu syok, dan tak bisa bicara apapun sebagai jawaban hanya anggukan dan senyuman yang sanggup jadi jawaban.


Tapi bagi Rai anggukan dan senyuman Vira sudah menjadi satu kebahagiaan yang tak terkira, sanggup menjadi sejuta jawaban iya dari ucapan pernyataannya tadi.


Rai merengkuh tubuh mungil Vira berjalan seperti tak ingin segera sampai di tempatnya tinggal. Ingin menikmati kebersamaan dalam cinta yang baru saja mereka ikrarkan dengan kebahagiaan, Vira hanya diam masih merasa tak percaya tapi tangannya mulai melingkar juga di pinggang Rai.

__ADS_1


"Sorry Vira, Aku bukan cowok yang romantis, menembak Kamu di tempat makan rendahan begitu, harusnya di tempat objek yang indah di belahan Australia mana gitu, tapi tak mengurangi rasa yang kuberikan padamu, maaf juga selama ini Aku hanya bisa melihat keseharian Kamu dan memata-matainya takut ada seseorang yang datang berkunjung, setelah melewati beberapa malam minggu akhirnya Aku lega kamu masih sendiri Aku yakin semua itu dan tak sabar menembak Kamu di tempat makan tadi, Aku tak mau bertanya apa-apa tentang kamu pada siapapun termasuk teman Kamu, Aku ingin melihat langsung keseharian Kamu, jadi maaf saja jika selama ini aku seperti mengintai Kamu," ucap Rai begitu jujur dengan apa yang di lakukannya dari kemarin kemarin.


"Jujur Aku kaget Mas, tak menyangka sedikitpun malah tadinya Aku melihat Mas Rai seperti bersemangat mencari tahu status Mbak Karina waktu itu dikira Mas ada hati sama Mbak Karina, tapi ternyata tebakanku salah malah Mbak Karina suami siri Pak Raditya, Aku malah melihat Mas Rai begitu romantis kok," ucap Vira sambil agak malu.


"Jangan bahas Karina dulu kini tentang kita saja, Vira kamu kan sudah lama tinggal di sini, seperti apa melewati musim-musim di sini kini kita bisa melewatinya bersama, habis musim semi gini di sini musim apa?" tanya Rai sambil tetap merengkuh bahu Vira.


"Musim panas berlangsung pada bulan Desember hingga Februari, musim gugur pada bulan Maret hingga Mei, muslim dingin pada bulan Juni hingga Agustus, dan musim semi pada bulan September hingga November." jawab Vira tahu semuanya tapi namanya anak kuliahan jarang banget main paling di Melbourne ini ada sedikit tempat wisata yang pernah dikunjungi sama temannya tetapi selebihnya Vira tidak tahu juga mungkin nanti bisa melihat di peta kalau seandainya Mas Rai ingin pergi ke suatu tempat yang diinginkan.


"Kemana tempat yang begitu ingin kamu kunjungi di Melbourne Australia ini?" ucap Rai sambil mengusap usap pangkal lengan Vira.


"Aku tidak tahu, kadang Aku kalau mau pergi ya pergi saja kemana sampainya, misal naik kereta ekspres, atau naik bus gitu aja Mas."


"Aku lebih banyak belajar Mas, jadi keluar itu sangat jarang, Akun ingin membuktikan kalau Aku mampu menyelesaikan kuliahku walau dengan penuh perjuangan." Kata-kata Vira membuat Rai semakin kagum dan jarang sekali di zaman sekarang ini menemukan orang seperti Vira bisa berjuang sendiri di negeri orang sambil kuliah hanya mengandalkan beasiswa tapi untuk biaya hidup Vira tak ingin terlalu merepotkan keluarganya jadi dia berusaha bekerja semampunya.


"Vira, Aku melihat cara kerja kamu begitu rapi, disiplin waktu dan administrasi tak sabar rasanya Aku mengenalkan Kamu pada orangtuaku, walau Aku juga lulusan luar negeri tapi kuliahku banyak mainnya walau sudah lulus perlu seorang pendamping yang bisa diajak kerjasama dalam bekerja saat nanti Aku di beri tanggung jawab meneruskan bisnis orang tuaku," ucap Rai sambil mencium kepala Vira yang ada di sebelahnya sejajar dengan pundaknya.


"Mas Rai, Aku masih kurang lebih setahun lagi berada di Australia ini, Aku malah baru pulang sekali selama kuliah di sini, sekarang ada lowongan kerja di sini dan Aku bisa mengatur waktu menyesuaikan diri dan beradaptasi akhirnya Aku bisa melewati semuanya sekarang sudah terbiasa kuliah sambil bekerja semoga akhir tahun ini Aku bisa pulang," ucap Vira kelihatan begitu rindu pada kampung halamannya juga keluarganya.


"Ya ampun Vira, Kamu begitu tawakal, jauh banget sama Aku setiap Aku pengen pulang Aku langsung pulang, Kamu harus mengumpulkan dulu untuk biaya tiket dan lain-lainnya dengan penuh perhitungan dan pertimbangan, Aku semakin kagum dan iri sama kegigihan Kamu sehingga menjadikan Kamu seorang yang berkualitas," ucap Rai menarik Vira duduk di taman di kursi kecil yang tersedia di situ.

__ADS_1


"Ah, Mas Rai jangan berlebihan menilai Aku, hanya faktor keadaan yang mendorong ku bersikap seperti ini, kalau tidak seperti ini Aku nggak akan selesai kuliahku dan tercapai cita-cita ku," ucap Vira tetap merendah.


"Kalau mau pulang akhir tahun ini, kita bisa pulang bersama-sama, tapi dengan satu syarat Aku akan serius membawa Kamu pada orangtuaku gimana?" ucap Rai kelihatan serius.


"Mas, kenapa begitu cepat menilai Aku? Aku hanya orang biasa Aku malu pada keluarga Mas," ucap Vira dengan memandang wajah tampan di sampingnya dalam remang cahaya lampu taman kota.


Rai hanya tertawa membuat Vira semakin ciut saja dan diam dengan perasaanya sendiri.


"Vira, yang Kamu maksud orang biasa itu siapa? keluarga Kamu? Aku tak perduli siapa Kamu dan dari keluarga mana, kenapa Kamu begitu mempermasalahkannya?" ucap Rai memegang kedua bahu Vira dan ingin meyakinkan kalau dirinya begitu serius mencintainya.


"Iya Mas, Aku hanya merasa saja tapi kalau Mas bisa meyakinkan orangtua Mas sendiri itu terserah, hanya Aku bicara jujur dari awal, kalau Aku bisa kuliah di Australia ini bukan karena faktor keluargaku yang berlebih, tapi mungkin faktor keberuntunganku ada sedikit prestasi sehingga Aku bisa direkomendasikan sekolahku untuk bisa kuliah gratis di sini," ucap Vira mencoba memasukkan pengertian pada Rai.


"Sudahlah, Aku mencintai Kamu tanpa syarat Vira, Aku ingin cintamu bukan yang lain, bagiku Kamu seperti mutiara yang berkilau di lumpur yang hitam dan kini berkilau di hatiku, Aku janji setelah Kamu selesai kuliah Aku akan melamar Kamu untuk jadi istri dan pendampingku, mungkin takdir membawaku ke Australia ini hikmahnya Kamu dan maslah Kakakku." ucap Rai sambil sedikit menarik tubuh dan kepala Vira supaya bersandar di bahunya.


*******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2