Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Dua pernyataan cinta


__ADS_3

Gila! semua sudah gila! Andhini menggerutu sendiri dalam hatinya, kembali duduk di samping dr Fadli sambil ngobrol alakadarnya. Andhini begitu nggak tenang dengan kejadian barusan.


Semoga tak ada orang lain yang melihat kejadian tadi terlebih suaminya sendiri, tapi kalaupun Mas Radit melihat mungkin semua tak akan ada yang percaya, masa iya seorang adik ipar mencintai istri Kakaknya sendiri?


Lucu memang seperti aku-akuan pasangan di masa kanak-kanak, Andhini masih menganggap pernyataan Rahadian tadi adalah hanya candaan belaka. Tapi kalau di pikir dengan pikiran jernih itu pengakuan jujur yang Andhini dengar melihat keseriusan tatapan Rahadian tadi.


Andhini tak bisa mengerti, kenapa bisa seperti itu, tak adakah perempuan lain yang menarik hati Rahadian selain dirinya yang sudah bersuami bahkan Kakak iparnya sendiri?


Balik lagi ke masalah hati, itu adalah haknya untuk mencintai dan jatuh cinta pada siapapun walaupun dalam kenyataannya menurut Andhini pernyataan Rahadian adalah salah besar.


Belum selesai masalah yang sedang dirinya hadapi datang lagi masalah baru ada apa sih dengan Rahadian? Kenapa Kakak adik bisa jatuh cinta pada orang yang sama? kalau memang itu benar.


Apa karena mereka suka sama-sama makan dan jalan saat bahkan berenang bareng saat Andhini sama Radit masih pacaran dulu?


Mungkin dari situ timbulnya rasa itu, Andhini berharap Rahadian segera menyadari kesalahannya dan bisa bersikap seperti biasa lagi terlebih di hadapan Mas Radit.


Andhini benar-benar tak habis pikir apa yang dikatakan Rahadian barusan, sesuatu hal yang sangat membuatnya terkejut tak pernah membayangkan sebelumnya tak ada perkiraan sebelumnya Kalau Rai selama ini menyimpan perasaan cinta pada dirinya. Semua diluar dugaan dan perkiraannya.


"Dhini, Aku mau lihat-lihat produk yang ada di supermarket ini boleh?" ajak dr Fadli sambil tersenyum menatap Andhini. Kelihatan Andhini sedikit melamun.


"Boleh banget dok, dengan senang hati mari Aku antar keliling dan nanti Aku panggilkan dulu supervisor ku ya sama orang Indonesia juga nanti Aku kenalkan." jawab Andhini sambil melambaikan tangan pada Erika yang melintas tak jauh dari tempatnya duduk.

__ADS_1


"Kelihatan Kamu melamun, ada apa?" dr Fadli bertanya. Andhini tak menjawab hanya tersenyum dan menggeleng.


Andhini mengajak dr Fadli berkeliling melihat semua produk yang dipajang sambil memberitahukan satu demi satu produk yang dilihatnya.


Erika mengikuti sambil melihat lihat juga, kelihatan meja kasir mengantri cukup panjang walau sudah di buka tiga line dan Vira ditarik dulu ke sini untuk sekedar jaga-jaga membantu dan ternyata memang benar adanya pengunjung membludak antusias masyarakat begitu tinggi khususnya masyarakat Indonesia yang tinggal di Australia.


Dr Fadli begitu kagum sama Andhini yang menurut pandangannya telah begitu sukses menapaki usahanya, selain sukses di dalam negeri merintis usaha di sini juga terbukti cepat banget berkembang, selain cantik pintar juga melihat peluang dan celah usaha, semua itu mungkin tak lepas dari basic keluarganya yang seorang pengusaha juga.


Dr Fadli tahu kalau Andhini adalah seorang anak tunggal dari seorang pengusaha Tanah Air yaitu Suryadilaga yang punya usaha Surya Group.


Tapi rasa sukanya bukan karena status Andhini, jauh sebelum tahu siapa Andhini dr Fadli sudah begitu simpati pada Andhini saat kejadian itu dirinya menabrak tidak sengaja dengan sepeda.


"Besok jadwal terapi lagi ya?" tanya dr Fadli sambil memasukkan satu produk ke troli yang di dorongnya.


"Bagus itu, semoga semangatmu akan menjadi motivasi yang paling kuat untuk merangsang perkembangan hormon di dalam tubuhmu dan bisa meresponnya menjadi energi positif untuk kesuburan dan membuahkan hasil baik. Apa suamimu tahu?" tanya dr Fadli sambil melirik Andhini di sampingnya, dengan pakaian blazer coklat kelihatan begitu serasi dan kontras dengan tubuhnya yang tinggi langsing.


"Sementara enggak, sepertinya ada kejenuhan beberapa waktu lamanya menjalani hal seperti ini, tetapi mungkin untuk sementara lebih baik Aku saja dia terlalu sibuk kalau memang bisa dijalani sendiri dulu."


"Oke, tak apa. Tapi sebaiknya  akan lebih enak jika suami mengetahuinya walaupun Aku jujur lebih suka kita bertemu berdua." gurau dr Fadli seperti menggoda Andhini.


"Kenapa dokter suka padaku? Mungkin itu pertanyaan biasa saja, tetapi notabene Aku adalah pasien yang punya kekurangan tapi dokter sepertinya tidak peduli dengan semua itu?" tanya Andhini bertanya dengan jujur dan terbuka kalau dirinya adalah seorang perempuan yang banyak kekurangan dirasa Andhini adalah satu kesalahan mencintai dirinya.

__ADS_1


"Andhini, semua orang tidak ada yang bisa meramalkan dengan pasti kalau seseorang itu akan cocok dengan kita, contoh Aku mencintai seseorang, Aku jadikan istri kami saling cinta pada akhirnya kami punya anak itu harapan kami dan semua orang. Tapi kalau orang lain menikah denganku belum tentu punya anak itu akan jadi satu rahasia. Kita tidak tahu begitu juga dengan kamu seandainya kini Kamu lepas dari suamimu dan menikah denganku mungkin saja Aku akan memberikan anak itu tidak bisa diramalkan." Dr Fadli meng-andai andai semuanya.


Andhini diam, dalam hatinya tetap Mas Radit yang selalu ada dan tak akan berubah walau kenyataan semua kini telah sedikit berubah.


"Dhini, kenapa kita tidak bertemu saat kita sama-sama sendiri? Memang kedengarannya konyol dan melawan takdir, tapi seperti itulah kenyataan yang ada di diriku. Sejak kita bertemu secara tidak sengaja seperti banyak yang Aku pikirkan, Aku tahu statusmu tapi Aku tak perduli, hanya ingin bertemu dan ngobrol saja sama kamu, dan itu juga mungkin kalau tahu suamimu pasti akan marah, tapi adalah hakku pada siapa Aku jatuh hati, walau Aku tahu tak akan bersambut." Dr Fadli bicara seperti itu tanpa unsur bercanda, berarti ada dua orang hari ini yang punya perasaan dan mengungkapkannya di hadapan Andhini.


Begitu terbuka peluang kalau saja Andhini ingin berpaling dari Mas Radit, Mau bersama dr Fadli atau biar sakit hati dan jera Mas Radit bisa sama Rai Adiknya sendiri tapi hati Andhini tidak begitu, hanya Andhini menuntut perlakuan adil saja itu sudah cukup.


"Kalau kita bertemu masih sama-sama sendiri mungkin tidak di sini dok, tapi di Indonesia. Karena keberadaan ku di sini adalah hanya untuk mendekatkan diri kepada rumah sakit besar terkenal di Australia bisa memberikan solusi bagi rumah tangga kami yang sampai saat ini masih berharap dan tetap berharap datangnya buah cinta kami." jawab Andhini perlahan.


Dalam hatinya boleh saja sekedar teman intermezzo baik dr Fadli atau Rai sekalipun bisa untuk sekedar itu.


"Iya Andhini, tapi Aku akan senang dan bangga jika bisa memberikan solusi itu dan kamu berhasil bisa hamil dengan segala fasilitas medis dan terapi di rumah sakit tempatku menimba ilmu," ucap dr Fadli, rasa senang yang tak bisa di sembunyikan.


"Semoga dokter. Setidaknya Aku telah mengenal seorang dokter yang sangat baik," Andhini tersenyum sambil ngantri di meja kasir.


Mereka kembali ke ruangan acara berkumpul kembali dan Andhini mempersilahkan semua tamunya mencicipi semua makanan ringan apa yang panitia sediakan dan bagi yang belum berbelanja juga dipersilahkan melihat lihat ke dalam supermarket.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2