Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Ros raib dengan Bayi itu


__ADS_3

"Silahkan kalian istirahat Aku beri waktu untuk berpikir, setiap waktu Kamu bisa bicara padaku sampaikan apapun yang menjadi uneg-uneg di hatimu, Aku tunggu sampai Kamu bisa berpikir dengan bijaksana!" ucap Andhini sambil menatap Karina.


Karina bangkit dan mengangguk melirik Ros dan Ros bereaksi menghampiri Erika yang memangku Bayi, kelihatan begitu anteng walau di pangku pada siapapun.


Erika memberikan Bayi itu pada Ros, dan Karina berjalan duluan diiringi Ros yang mengendong Bayi keluar dari kondominium Andhini tanpa memandang siapapun yang ada di situ, semua tampak diam.


"Rai tolong awasi mereka, bukan Aku khawatir pada orang dewasanya tapi pada Bayi yang masih rentan itu," ujar Andhini pada Rai.


"Baik Kak!" sahut Rai merasa semua konflik begitu meruncing. Rai tak banyak tanya hanya mengikuti saja apa Instruksi Andhini.


"Erika apapun keputusannya Karina harus pulang ke Indonesia jaga-jaga saja siapkan semua dokumennya Karina," lanjut Andhini bicara pada Erika.


"Iya Dhini, terus gimana Mas kalau seperti ini?" tanya Erika pada Radit yang sejak awal pembicaraan mengatupkan rahangnya tanpa berkomentar apapun hanya menampung perdebatan dan adu paham istrinya dengan Karina juga tidak menanggapi apalagi menengahi mungkin dirinya masih dalam keadaan sakit.


"Sepertinya Karina akan luluh nanti mungkin tadinya Dia berpikir Andhini tidak akan menagih semua yang telah diberikan-nya jadi Dia begitu bebas bersikap. Aku sengaja tidak berkomentar karena Aku sudah tahu dan takut emosi, Aku memperkirakan akan seperti ini petanya sejak awal, tapi biarlah waktu yang akan menjawab semuanya biarlah semua berpikir dulu mungkin juga Dia nanti sadar apa yang terbaik Aku yakin Dia akan menyerahkan Bayi itu." Radit bicara dengan sedikit tersengal.


"Soal penjagaan Aku harus gimana Kak?" tanya Rai merasa bingung harus menjaga Karina dan Ros jangan sampai melarikan diri karena repot dan takut bayi itu malah terlantar.


"Sebaiknya Rai jaga di pintu lift saja awasi mereka jauh saja jangan jaga dari dekat, hanya sampai Karina memberikan keputusan dan selesai berpikir, mungkin seperti itu kan Dhini?" tukas Erika memberikan jawaban.


"Betul Rika, biarlah mereka berpikir dewasa jangan hanya menuntut tapi harus ada yang dikorbankan!" jawab Andhini sambil membuang nafas capeknya.


Rai sama Vira keluar Andhini sama Erika masih ngobrol mereka mengira-ngira akan seperti apa putus tuntasnya masalah ini.


"Gue melihat kalau Karina sepertinya akan datang lagi dalam waktu dekat lihat saja," ucap Erika sambil memandang meyakinkan Andhini.

__ADS_1


"Dia pasti butuh surat-surat dan dokumen pribadinya, kita tunggu saja." Jawab Andhini menimpali.


Radit menanggapi semuanya hanya dengan diam bukan tak ingin memberikan sedikit pengertian pada Karina kalau semua demi kebaikan dirinya juga Bayi mereka, tapi akan merasa bersalah di hadapan Andhini juga Karina.


Lama Erika dan Andhini ngobrol dan diskusi tentang semua permasalahan dan Radit tertidur di kamarnya sampai pada akhirnya Karina menelephon ke ponsel Andhini.


Andhini tak kaget mungkin Karina telah berpikir dan mengambil keputusan.


Andhini hanya ingin tahu apa Karina masih bisa berpikir dengan baik dan bijak, rasanya Andhini juga tak tega menarik kembali uang yang telah di berikan, semua tak merubah segalanya dengan begitu seketika, Karina tetap menjadi janda dengan status sebagai Ibu. Andhini masih berpikir merasakan bagaimana perasaan Karina, semua itu dirinya tuntut hanya ingin menyadarkan Karina saja kalau semua tak semudah keinginan sendiri.


Pada akhirnya tetap Andhini yang mengalah sepertinya apapun keputusan Karina, karena Andhini dengan dirinya akan memiliki Anak juga itu sudah suatu anugrah, dan semua kejadian ini Andhini anggap sebagai proses cobaannya.


"Halo Nyonya? apa Ros ada ke situ bawa Bayiku?" tanya Karina di ujung sambungan telepon.


"Ros bawa Bayimu?" Andhini malah balik bertanya.


"Astagfirullah, Karina ke mana perginya Ros bawa bayi itu? coba cari dan teliti sekali lagi barangkali di balkon depan sampai melihat ke bawah atau barangkali lagi berkunjung ke kamar tetangga sesuatu yang memungkinkan coba pikirkan ke mana kira-kira perginya?" jawab Andhini sama kelihatan panik.


Radit bangun dengan mata merah habis tidur tapi terganggu suara bising istrinya yang sedang menelephon. Radit mendengar pembicaraan Andhini dan Karina lalu Radit bangun dan berjalan berpegangan di sisi tembok. Andhini mengulurkan tangannya membantunya duduk.


"Rika! telephon Rai barangkali Rai melihatnya!" Erika ang bengong saja merasa ada saja kejutan selama dirinya di sini langsung yang dari tadi hanya mendengar langsung membuka tasnya dan menelephon Rai.


"Gimana Mas? Ros katanya nggak ada sama Bayi itu," ucap Andhini pada Radit suaminya.


"Sambungkan lagi sama Karina atau Kamu sama Erika ke sana periksa perlengkapan Bayinya, belum dikategorikan hilang atau pergi kalau belum 1×24 jam cari informasi pada orang-orang yang paling dekat di situ dulu, apa melihat seorang wanita bahwa seorang Bayi?" ucap Radit pendapat yang masuk akal.

__ADS_1


Andhini sama Erika langsung menghambur keluar meninggalkan Radit yang berpikir sendiri.


"Rai tidak melihat katanya Dhini, gimana ini, kok jadi Ros yang sepertinya punya peranan?" suara Erika tak di komentari Andhini yang sibuk berjalan ke arah hunian Karina.


Sampai di kondominium Karina Andhini melihat Karina lagi menangis, Andhini sama Erika tertegun sambil berjalan masuk mendekati Karina.


"Rina sudah di cek semuanya? kenapa jadi begini coba sekali lagi cek perlengkapan Bayinya kalau memang Ros berniat pergi jauh membawa Bayi itu pasti membawa perlengkapan, setidaknya itu yang dapat kita pikirkan tapi kalau hanya pergi dekat hanya main dan jalan-jalan kemungkinan tidak akan membawa perlengkapan banyak."


Karina berlari melihat semua perlengkapan Bayinya dan langsung menangis pilu, semua di bawanya. Sekali lagi Andhini sama Erika hanya bisa tertegun.


"Apa yang kita lakukan Rika?"


"Coba tunggu informasi barangkali Ros menghubungi Karina apa motif yang dilakukan dan yang diinginkannya?"


"Ya, aku mengerti."


"Rina Aku tanya apa kalian ada satu perjanjian dan pembicaraan semacam itu sama Ros?"


"Tidak, jujur semua tuntutan adalah ide dari Ros berawal dari obrolan biasa saja, tapi tadi sepulang dari kondominium Nyonya kami sedikit bersitegang Ros tidak setuju Aku menyerahkan Bayiku dan akan pulang ke Indonesia, tapi Aku berpikir itulah yang terbaik." jawab Karina.


"Aku tidak tahu Rina, apa Kamu bicara jujur atau hanya sekongkol demi satu tujuan," ucap Andhini, tapi melihat begitu sedihnya Karina.


"Nyonya boleh saja berprasangka, tapi aku sudah memutuskan satu yang akan Aku lakukan pulang ke Indonesia san itu yang terbaik bagiku."


*******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2