Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Lama tak bertemu


__ADS_3

Radit mengetuk pintu tempat tinggal Karina dan Karina langung membukanya, Karina tertegun melihat suaminya datang dalam keadaan kusut, langsung mencium tangan Radit sambil di kasih senyuman termanis.


Radit balas tersenyum dan memeluk Karina yang akhir-akhir ini mereka jarang bertemu.


"Mas mau minum apa? kopi apa teh manis?" sambut Karina langsung menawarkan sambil memeluk sebelah lengan Radit. Mereka berjalan masuk dan Karina membawa suaminya duduk di sofa ruang tamu dan keluarga yang menyatu.


"Aku nggak mau minum Rina, Aku Ingin Kamu Karina, Akhir-akhir ini banyak masalah otakku hampir pecah," ucap Radit sambil duduk menyandarkan tubuhnya di sofa panjang.


"Ssssst...jangan bicara masalah di sini, Minum saja dulu biar hati Mas tenang, Aku hanya ingin memberi Mas ketenangan, tapi minum dulu ya yang hangat karena di luar begitu dingin dan cuaca begitu mendung," jawab Karina sambil mengusap perutnya ke belakang mau membuat minuman sedikit tersenyum nakal pada suaminya.


Radit mengangguk sambil tersenyum, tapi tak urung mengikuti juga, memeluk Karina dari belakang yang lagi mengocek minuman buat dirinya.


"Sepertinya Mas kangen sama yang di dalam sini ya?" ucap Karina menunjuk perut buncitnya. Tangannya mengikuti tangan Radit yang membelai kemana-mana bagian perutnya.


Radit beralih mencium perut Karina sambil badannya sedikit di turunkan dan perlahan mengusapnya, memasukkan tangannya ke dalam pakaian Karina dan merasakan denyutan dari dalam.


Karina tersenyum akhirnya keinginan Mas Radit memanggilnya juga dan datang di siang ini menuntut sesuatu dari dirinya.


Radit membawa minumannya ke depan dan menaruhnya di atas meja. Karina menguntitnya tapi malah masuk ke kamarnya.


Karina yang masuk kamar membereskan tempat tidur yang sebenarnya sudah licin, mungkin hanya memancing saja di depan suaminya.


Seorang suami datang dan lama tak bertemu Karina tahu yang pertama keinginannya pasti bukan yang lain, tapi yang satu itu.


Terbukti Radit bangkit tanpa minum minuman yang di bikin Karina, mengunci pintu dan masuk ke kamar sambil membuka kemejanya juga celana luarnya dan di lempar asal.


Karina yang duduk di tepi tempat tidur menyambut uluran tangan Radit yang menghampirinya.


"Semakin berat saja rasanya Mas masuk usia delapan bulan," ucap Karina membiarkan Radit mencium kepalanya dan membelai rambutnya sehingga Karina dengan bebas merasakan sesuatu yang menantang di bawah perut suaminya dalam posisi berdiri dan Karina duduk di tepi tempat tidur.

__ADS_1


"Nggak apa-apa yang penting sehat, jaga kesehatan dan jangan lupa makanan sehat, masih kuat kalau Papa tengok sekarang?" jawab Radit mulai merambah bibir Karina dan tangannya sudah piknik ke arah ranum yang begitu kencang dengan ukuran maksimal.


"Nggak apa-apa Mas, Aku selalu menunggu Mas, dan kangen saat pagi juga siang biasa Mas mampir ke sini." ucap Karina, Radit menidurkan Karina dengan perlahan, nampak tubuh dengan perut buncit begitu menggairahkan, Radit tertawa kecil, melihat perut Karina hasil pekerjaan maksimal mereka setiap pagi siang dan bahkan sore kalau mereka sempat.


Dengan perlahan Radit menyusuri tiap lekuk tubuh mulus Karina dalam keadaan hamil besar, Karina mengimbanginya dengan tanpa gerakan yang berarti, tapi tetap membuat Radit begitu senang.


Mereka menuntaskan hasrat yang begitu lama tertahan diantara mereka. Dengan bisikan dan ******* menantang Karina.


Satu babak radit tepar dengan nafas cepat dan memburu, Karina tersenyum sambil mengelap keringat suaminya.


"Kamu kelihatan nggak capek?"


"Aku masih kuat Mas." jawab Karina tanpa malu.


"Oke nanti Aku tambah, tapi istirahat dulu ya."


"Aku sibuk, pesanan semakin banyak tiap hari tanpa absen mendata barang yang di pesan. Aku nggak sempat menengok semua istriku," ucap Radit sambil tangannya tak lepas dari dada Karina.


"Oh, pantesan mau nambah, Aku selalu kangen saat Mas minta tambahan, Aku selalu siap sedia," jawab Karina menarik kembali selimut dan tangannya mulai kembali merambah sesuatu kesukaannya di dalam sana.


"Makasih Rina, Kamu memang luar biasa, selalu bikin Aku nambah," ucap Radit lagi, sambil sedikit meringis, merasakan sentuhan jemari Karina di dalam sana,


Karina mengangguk, kembali menggesekkan dadanya di tubuh Radit yang mulai tenang dan rileks, membuka kembali selimut yang menutupi tubuh Karina dan memandangnya sesaat lalu memulai lagi seperti tanpa capek.


"Hati-hati aja Mas jangan sampai tertekan perutnya ya, tapi selebihnya enak Mas," ucap Karina manja.


"Ah, Kamu bikin Aku semangat saja Rina, untung Aku punya Kamu istriku lagi uring uringan jadi aku malas menyentuhnya. Radit melupakan etika membicarakan istrinya sendiri di depan istri yang lain adalah satu kesalahan.


Harusnya tak melebih dan mengurangi justru suami harus bisa menyanjung semuanya, biar tidak ada yang merasa tersisihkan dan paling di sayang.

__ADS_1


Karina merasa tersanjung merasa di butuhkan, juga lupa siapa dirinya hanya ada ambisi keinginan yang di bicarakan sama Ros dan janji Ros yang akan melindunginya dan akan tetap memberi ruang pada dirinya nanti jika hal tak diinginkan terjadi.


"Mas sekalian aja mandi di sini, Aku siapkan pakaian ada kok di sini juga," ucap Karina sambil memungut pakaiannya dan mengenakannya.


Radit masih tiduran dan kelihatan capek banget, diam memandang langit langit kamar.


Andai Mas Radit bisa jadi miliknya seutuhnya dan bisa berpaling mungkin dirinya tak akan mencari kerja lagi atau merintis usaha dari hasil pengorbanannya, tinggal Karina menjadi seorang istri yang baik menunggu dan melayani suaminya.


Enak juga jadi seorang istri apalagi suami menjamin segalanya, apalagi kata Kak Ros jangan pernah sedikitpun memakai uang pribadi untuk kehidupan dan kebutuhan kita limpahkan semuanya pada suamimu, kamu hanya seorang istri siri yang sebentar lagi akan dibuang dan tidak dibutuhkan, manfaatkan sebaik mungkin sebelum semuanya berakhir, atau rebut sekalian!


"Mas, Aku belum ambil uang cash Kak Ros yang selalu beli makan masa iya tak di belikan juga? rasanya malas kalau harus keluar sendiri dalam keadaan perut begini tanpa pendamping," ucap Karina sambil mengelus dada suaminya dan duduk di sebelah Radit terlentang.


"Iya, nanti Aku kasih mau berapa?" jawab Radit sambil memegang lengan Karina. Karina begitu deg degan karena baru pertama kali melakukan hal seperti ini.


"Berapa aja Mas, buat pegangan juga takut ada hal tak terduga lainnya kalau manggil Mas Radit takut lagi sibuk mungin bisa Aku antisipasi sendiri atau sama Kak Ros." Karina begitu meyakinkan suaminya padahal dari biaya hidup per minggu selain gaji pokok per bulannya yang dikirim Andhini sudah berikut tempat tinggal biaya kontrol dokter dan sewa orang yang menemani tak pernah telat dikirimkan ke rekening Karina.


Radit bangun hanya mengenakan underwear saja, membuat Karina menelan ludahnya sendiri membayangkan kegagahan suaminya saat tadi melakukan penyatuan sampai dua kali.


Sungguh semua itu tak bisa Karina lupakan, selalu ingin mengulang dan mengulang juga menikmatinya dengan balasan desahannya.


Kedengaran Radit mandi dengan berisik dan tak lama keluar dengan muka segar khas habis mandi dengan handuk membelit separuh badannya.


Karina sigap menyediakan pakaian dengan lengkap. Radit memakainya sambil sesekali menggosok rambutnya yang masih basah.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2