Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Kesal melihat Andhini


__ADS_3

"Kurang ajar juga Andhini, berani main hati denganku ya! Salahku apa? semua demi dirinya tapi baru Aku tinggal sebentar saja begitu enaknya dia pasang muka manis dengan seseorang, siapa lagi temannya itu? mungkin terlalu banyak teman di paguyuban ini yang mewadahi orang Indonesia tanpa sepengetahuanku," Sungut Radit di hadapan Karina. Kelihatan Radit tidak suka saat Andhini hai hei sama temannya.


Karina hanya tersenyum menyaksikan drama di hadapannya. Suami istri ini kelihatannya sudah tidak harmonis lagi, tinggal dirinya berusaha memberikan kenyamanan kepada Mas Radit itu saja.


Dengan berbagai cara Karina harus bisa dirinya menjerat Radit dan memanfaatkan situasi kisruh selama ini, walau sekarang Karina telah begitu merasakan manisnya perhatian Mas Radit yang dirasa berlebihan sampai mengabaikan Istrinya sendiri.


Karina ingin Mas Radit berpaling segalanya pada dirinya terutama dalam kebutuhan pribadinya, makanya Karina tak ingin membuang waktu satu siang pun tanpa bermesraan, memberikan seluruh jiwa raganya.


Tapi di depan Radit Karina tak memperlihatkan ambisinya, seperti biasanya saja seolah menyayangkan adanya pertengkaran antara Radit sama Nyonya Andhini.


Padahal di dalam otaknya sejuta rancangan telah di persiapkan, terutama dalam menguasai Mas Radit. Dari mulai perasaannya hingga semuanya nanti.


"Mungkin semua ini karena Aku Mas, tadinya juga Aku nggak mau ikut ke sini kalau hanya mendatangkan masalah bagi Mas Radit dan juga Nyonya Andhini," jawab Karina merasa bersalah sendiri tetapi setidaknya dirinya ingin memberikan sedikit hiburan bagi suaminya, mungkin dalam hatinya berkata begini biarkan Andhini sama orang lain yang penting Aku bisa sama Mas Radit, ada Aku disisinya pengganti Nyonya Andhini, Akal licik Karina memang begitu kuat menguasai, menginginkan Mas Radit bisa menjadi miliknya, bahkan tak apa-apa mengembalikan semua uang kompensasi yang telah masuk di rekeningnya, asal Mas Radit menjadi suaminya sepenuhnya.


Tak tanggung tanggung pemikiran Karina terlalu dilambungkan dengan khayalannya sendiri, memiliki Mas Radit adalah harapan terbesar kini. Semua sudah lebih dari cukup kebahagiaannya.


Radit seorang anak pengusaha juga di Tanah Air, orangtuannya sangat kaya hanya dua bersaudara saja dengan Rahadian, anak sudah ada walau masih dalam kandungan tinggal meresmikan pernikahan mereka kalau memang Nyonya Andhini sudah jarang di sentuh Mas Radit, apalagi yang di inginkan selain anak dalam pernikahan.


"Itu bukan salah Kamu Karina, sepantasnya Aku ajak kamu ke sini, masa tiap hari hanya mengurung diri di kamar, toh semua sekarang sudah pada tahu kalau kamu itu adalah istriku juga, cuman semua itu jangan sampai tembus pada kedua orang tuaku dan juga mertuaku, Aku sudah wanti-wanti pada Rahadian jangan sampai semua ini akan tembus pada orangtua," ucap Radit sambil matanya melihat-lihat barangkali ada Erika atau Andhini melintas dalam pemasangannya.


Dalam hati Karina tak apa-apa asal bisa berduaan menghabiskan sepanjang siang bersama.

__ADS_1


"Tapi Aku tetap merasa bersalah Mas," sahut Karina walau dalam hatinya merasa gembira semakin Mas Radit bertengkar semakin banyak waktu kebersamaan dengan dirinya semakin terbuka juga peluang untuk tujuannya memiliki Mas Radit seutuhnya.


Akan jadi catatan sejarah seandainya Karina bisa merebut Mas Radit sepenuhnya, seorang pelayan bisa merebut hati majikannya dan mencampakkan istrinya sendiri.


"Kamu tenang aja, Aku hanya malas melihat dia hai hei sana sini kelihatan begitu sok akrab. Seperti ingin mendapatkan perhatian lebih dari siapapun." jawab Radit mulai sedikit menjelekkan Andhini di hadapan Karina.


Karina merasa senang mendengar Mas Radit menggerutu tentang kelakuan Nyonya Andhini yang dianggapnya tidak sesuai dengan keinginannya.


Karina mengusap paha Radit yang sedang agak kesal, semakin berani saja Karina kelihatannya, bukan hanya di dalam ruangan, kini di luar ruangan juga Karina sudah berani memperlihatkan rasa memiliki walaupun itu Andhini jelas melarangnya, demi kenyamanan semuanya, tapi Karina dia begitu terang-terangan mempublikasikan dirinya.


Tapi bagi Karina itu sama saja toh di sini tidak ada yang kenal semua adalah pengunjung kecuali dirinya Mas Radit Andhini Erika dan Mas Rahadian yang sudah tahu kalau dirinya adalah suami istri, orang lain pasti menganggap mereka adalah suami istri yang sesungguhnya.


"Mas jangan marah-marah terus, nggak baik di dengar calon anak kita, kan ada Aku yang bisa memberi ketenangan. Kalau di sini hanya marah-marah lebih baik kita pulang saja toh acaranya sudah selesai?" Karina menyimpan tangannya di paha Radit tak mengusapnya lagi. Maksudnya memberi ketenangan supaya Radit suaminya tidak marah-marah dan tidak kesal lagi.


Rasanya ingin Karina menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, dan lebih jauh mungkin kalau berduaan di tempat tertutup dengan perlahan membuka kancing kemejanya dan menyerahkan sepenuhnya jiwa raganya dengan segala kepuasan.


Entah kenapa Karina begitu berhasrat setiap waktu, mungkin di dorong rasa ingin memiliki selamanya, saat tak di tengok atau Mas Radit belum datang memberikan jatah waktunya Karina sudah menunggunya dengan tak sabar.


"Iya, ya. Ini kan waktu siang saatnya kita bebas bersama. Kamu mau ke mana? biar Aku ajak jalan-jalan dulu." Radit tersenyum menatap Karina di sampingnya.


"Aku nggak punya tujuan Mas kemanapun Mas ajak Aku jalan-jalan Aku senang aja, asal bisa bersama Mas Radit menghabiskan waktu siang kita." Karina menjawab sambil senyum merasa menang. Seakan mengingatkan Mas Radit kalau siang ini dari pagi mereka belum bersama-sama dalam tanda kutip di ruangan privasi mereka.

__ADS_1


Merasakan kebersamaan adalah kebahagiaan Karina, seakan semua tak ingin usai walau dirinya telah melahirkan nanti, sekitar dua bulanan lagi, Akan jadikan anak ini pengikat perasaan Mas Radit sehingga tak melepaskannya.


Kalau tak bisa memiliki sepenuhnya, mungkin tetap jadi istri kedua juga tak apa-apa, tapi yang pasti mereka bisa bersama-sama.


"Oke, tapi Aku pamit dulu Andhini ya, juga sama Erika." ucap Radit.


Karina mengangguk senang. Sejak pagi tadi mereka belum bersama-sama karena Radit nyamper nya begitu terburu-buru karena waktu yang mepet, Karina gagal memberi servis seperti biasanya.


Di jok mobil juga tadi waktu berangkat Karina berusaha tangannya mengusap paha Radit tapi responnya seakan tak terlihat


Radit merasa kecapean habis menguras energinya menumpahkan segala kekesalan pada Andhini dengan melakukan permainan kasar.


Sebenarnya Radit tak ada gairah untuk bersama Karina karena kecapekan, tapi bersama Andhini juga merasa tak nyaman karena selalu berdebat ini itu.


Tapi walau begitu Radit merasa puas karena sudah lama tak menyentuh Andhini. Bersama Karina semuanya harus serba hati-hati karena demi menjaga kandungannya.


Radit tahu Karina butuh sentuhan setiap saat karena rasa khawatir seorang wanita hamil, Radit menyunggingkan senyum begini rasanya punya istri dua, memang tak ada kenyang nya, malah semakin memacu semangatnya karena harus mengeluarkan tenaga ekstra siang malam.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2