
"Rika, kita lihat saja nanti apa Karina mau datang ke sini membawa Bayinya? sepertinya tidak akan! Dia seperti sudah terbius dan teracuni dengan ucapan temannya itu," ucap Andhini sambil berjalan di lorong rumah sakit ingin menggantikan Rai yang sejak kemarin ada di sini menunggui Kakaknya.
"Apa Dia sudah tahu kalau Lo hamil Dhini?" tanya Erika pada Andhini.
"Mungkin belum, tapi apa semua akan merubah keinginannya?" jawab Andhini merasa tak perlu memberitahukan kehamilannya pada Karina, karena soal Anaknya Karina seandainya di serahkan tetap akan menjadi anaknya juga tanpa di beda-bedakan.
"Mungkin saja, walau Gue juga nggak yakin tergantung pembisiknya," sahut Erika merasa geram aja sama teman Ros yang dari biro ketenagakerjaan itu, merasa ada campur tangannya dalam masalah ini.
"Kita lihat saja nanti, apa tetap pada pendiriannya atau merasa perlu Gue?" jawab Andhini menimpali ucapan Erika.
Andhini tidak yakin Karina akan muncul, karena perlu pertimbangan dan strategis menurutnya kira kira Dirinya sama Radit suaminya memberikan tanggapan apa tidak dengan permintaannya?sedang kini Radit sakit karena kecelakaan itu.
Andhini sampai di kamar perawatan Radit, mendapati Rai lagi membaca koran pagi dan langsung menyambut Andhini juga Erika saat tahu mereka datang.
Radit masih kelihatan pucat lemah dengan kaki juga lehernya masih terlalu sakit kalau di gerakkan walau secara psikologis sudah mulai kelihatan segar dan sedikit bisa bicara.
"Mas, gimana sudah baikkan?" Andhini menghampiri ranjang Radit dan mencium pipinya, ada senyum di bibir Radit kelihatan masih kakunya.
Rai Kamu boleh pulang kalau kangen Vira, berapa hari nggak ketemu, kami maklum dan harus menghargai kalau Vira nya senggang ajak ke sini biar jadi teman Kamu," ucap Andhini merasa memaklumi dan pernah merasa ada di masa-masa itu.
__ADS_1
"Gampang Kak Andhini, kalau melihat Mas Radit sudah pulih mungkin Aku juga bisa tenang, tadi kata dokter sepertinya butuh waktu penyembuhan lumayan lama juga," jawab Rai yang tak jauh dari Andhini duduk.
"Pulanglah dulu istirahat, paling tidak ketemu Vira biar semangat lagi, Maaf ya liburan Kamu berubah total kini jadi tak tentu haluan, walau pelabuhannya sepertinya sudah jelas tertambat di hati Vira!" ucap Andhini masih bisa bercanda.
"Kalau dah ada yang gantiin nungguin Kak Radit Aku pulang ya, kangen minimarket," seloroh Rai membuat Andhini sama Erika mendelik.
"Ngapain minimarket dikangenin? kita juga tahu kalau minimarket itu ada yang nungguin, itu yang di kangenin," ucap Erika tersenyum lucu pada Rai yang kelihatan sudah tak malu lagi bilang kata rindu pada Vira.
Rai tergelak sendiri merasa perasaannya tertebak sama dua wanita di dekatnya, Andhini menghampiri Rai dan menarik tangannya seperti ada yang mau di bicarakan sam Rai.
Andhini memberi kode pada Radit suaminya kalau dirinya izin bicara sama Rai, Radit mengangguk perlahan.
"Karina kelihatan sehat Kak, walau Aku tak memperhatikan dengan jelas, Asalnya kami bicara baik-baik saja tapi sepertinya Karina tetap pada tuntutan itu, Kak Radit masih bicara baik-baik memberikan masukan dan pengertian dan pelan-pelan diajaklah Karina pulang menyelesaikan semuanya semua di sampaikan baik kalau Kak Andhini menunggunya setiap saat untuk menyelesaikan semua ini, tapi ya begitulah Karina mungkin tidak yakin sebelum tuntutan yang dia inginkan mendapatkan persetujuan, akhirnya begitu kelihatan Karina mencari celah memanfaatkan rasa sakit sehingga Kak Radit luluh dari marahnya lalu mencari air minum dan kesempatan bagi Karina untuk pulang dan kabur. Karina begitu nekad dia berjalan setengah berlari, dan begitu nekad melewati melintasi beberapa rel, tetapi dia turun dulu baru dia melangkah tapi untuk ukuran segitu dia kelihatan punya nyali besar melewati rel dengan kereta yang lalu-lalang memang perlu perhitungannya yang tepat karena pas dia sampai ke ujung sebelum Kak Radit menyusulnya sudah tidak terkejar karena terhalang panjangnya kereta. Karina melihat Kak Radit di kerumuni orang-orang masih sempat berdiri di seberang melihat Kak Radit yang akhirnya kecelakaan." Panjang penuturan Rai membuat Andhini diam, mencerna dan membayangkan kejadian hari itu.
"Rai, tuntutan pertama dia tak ingin di cerai sama Mas Radit, jelas Aku tidak terima dan tidak bisa mengabulkan tuntutan itu, Kini bagaimana caranya Aku tak ingin bicara lewat telepon sama Karina, Aku ingin bicara langsung berhadapan, bisakah Kamu memfasilitasi atau menelepon Karina mewujudnya keinginanku sehingga dia bisa datang di hadapanku dan yang ingin Aku sampaikan itu seperti apa, Jangan cuma menuntut masalah uang tetapi apa yang dia bisa berikan pada kami? kalaupun dia membatalkan juga tidak bisa memberikan Anak itu tak masalah bagiku Rai, karena Aku juga sekarang sedang hamil dan yang Aku khawatirkan adalah seorang temannya itu Aku takut dia dimanfaatkan dan Karina yang menjadi korban."
Rai diam, sangat masuk akal memang semua tak bisa di selesaikan lewat telepon.
"Apa yang harus Aku lakukan dan bisa bantu Kak?" tanya Rai menawarkan diri.
__ADS_1
"Bisakah Kamu negosiasi bicara sama Dia sehingga dia datang ke sini dengan atau tanpa Bayinya juga tidak masalah, yang penting Aku akan menyelesaikan semuanya dan bertanya rencananya ke depan seperti apa tentang pengasuhan bayi itu, hanya itu," pinta Andhini pada Rai.
"Baiklah Kak, kirim nomor teleponnya nanti Aku telephon sampai di minimarket."
"Makasih banyak Rai, sampaikan salam buat Vira, baik baik aja di sana Aku belum sempat kontrol ke situ," timpal Andhini memang dirinya sudah terlalu lama nggak ke sana.
"Vira juga sekarang sibuk ke kampus kadang sampai malam, persiapan mau masa-masa akhir kuliahnya, Aku jadi kasihan tapi saat Aku tanya mau mengurangi jam kerja dia Menolak masih bisa di handle katanya."
"Temani dong, jemput kalau pulangnya sampai malam, memang penuh perjuangan, tapi Aku suka pribadinya begitu gigih pasti akan membuahkan hasil yang manis nantinya."
"Iya Kak, semoga saja."
Yang sudah itu saja, nanti Aku kirim nomornya silahkan kondisikan bagaimana caranya, karena Mas Radit kondisinya lagi begini, jadi tak bisa di harapkan apa-apa kontribusinya tapi Dia telah melepaskan tanggungjawabnya walau kini Karina dan Bayinya tetap akan jadi tanggung jawabku, tapi hubungan suami istri dengan Radit sudah selesai," ucap Andhini sambil meneliti wajah Rai yang kelihatan capek.
"Semoga semuanya cepat selesai Kak, Aku pamit dulu ya," Radit bangkit membereskan pakaiannya, diikuti Andhini. kelihatan Erika sedang menyuapi Mas Radit makan sambil bersandar di bantal yang ditumpuk.
*******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1