Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Pernyataan Rai begitu mengagetkan


__ADS_3

Siang menjelang, waktu yang telah ditetapkan akhirnya datang juga, Radit datang di menit terakhir dan yang membuat Andhini sedikit kikuk dan salah tingkah Radit datang bersama Karina yang tengah berbadan dua. Hamil 7 bulan begitu kelihatan perut Karina membuncit.


Ingin Andhini mengajak dan menyambutnya, memberinya kursi untuk duduk, tapi dengan siapa Karina duduk membuat Andhini mengurungkan niatnya hanya melihat sebentar saja lalu sibuk lagi dengan urusan lain.


Erika juga merasa nggak enak apalagi Rahadian setelah Andhini yang kelihatan seperti tak menyambutnya. Ada kebencian di matanya walau semua itu Andhini yang menginginkan.


Karina sendiri tahu diri, tadinya menolak saat Radit mengajaknya datang tetapi hanya Radit yang punya perasaan sendiri dan ingin memberi pengakuan bagaimanapun Karina adalah bagian dari keluarganya di sini.


Kenapa nggak? toh di sembunyikan dari adiknya Rai semua sudah terbongkar, Jadi untuk apa ditutup-tutupi lagi?


Pengunjung datang memenuhi semua area, dan bagi yang membawa anak kecil ada door prize makanan khas Indonesia yaitu kembang gula tradisional dan juga balon warna-warni. Semua tampak suka cita dan berbelanja.


Satu persatu warga Indonesia selain warga lintas negara pada datang, Andhini sama Radit baru saja memotong pita penghalang pintu dan resmi pembukaan supermarket ini dibuka untuk umum, terlihat Radit mencium dan memeluk Andhini saat telah selesai acara simbolik pembukaan.


Karina yang melihat dari jarak agak jauh memalingkan mukanya seperti tak ingin melihat pemandangan itu.


Tamu undangan selain para pengunjung umum dipersilahkan ke bagian samping karena ada jamuan makan dan bercengkrama sebagai pengakuan pada sesama warga Indonesia.


Radit menyampaikan pesan walaupun singkat, ucapan terima kasih terhadap semua yang telah mendukung dan mengajak selalu untuk tetap menggunakan produk yang dirinya pasok semuanya asli dari Indonesia, banyak rempah dan bumbu kering yang tidak ditemukan di Australia ini tetapi Radit menyediakan semua itu di supermarket miliknya. Radit menambahkan satu motto atau jargon di bawah nama supermarket nya yang bernama A & R store di bawahnya ada All Indonesia.


Erika sebagai supervisor yang ditunjuk menyampaikan juga terima kasih kepada semua pengunjung, apalagi Erika mengabarkan kalau ada salah satu tokoh entah itu konsul yang hadir juga dalam acara itu, disambut dengan tepuk tangan dan sambutan yang sangat meriah dari semua pengunjung.


Saat Andhini sibuk dengan obrolan dan wawancara beberapa orang yang ingin lebih dekat berkenalan dengan pendiri supermarket ini, Radit duduk dekat Karina sambil mengambilkan minuman, membuat Andhini kesal dan marah.


Betapa tidak Andhini ingin semua dijaganya, dari mata orang Indonesia lainnya, kenapa Mas Radit tidak bisa mengerti akan hal itu? Karina bisa ngobrol dengan siapa saja dulu sampai acara ini selesai, seharusnya Mas Radit ada di sampingnya sebagai pasangan suami istri dan ikut menjawab semua pertanyaan.

__ADS_1


Kalau mereka keluar sekali tak dalam ruangan Andhini lebih bisa menerima, tapi kenapa Mas Radit seolah sengaja?


Datang dr Fadli dengan rekan rekannya, Andhini bergegas menyambutnya dengan menyalami sambil menariknya untuk cipika-cipiki tak jauh dari Mas Radit sama Karina berada, mustahil mereka tak melihatnya.


Dr Fadli terkejut menerima sambutan Andhini yang luar biasa sempat hatinya deg-degan dan memang selalu deg-degan saat Andhini ada di dekatnya. Kenapa tiba-tiba  Andhini se-akrab ini?


"Hai dok, senang rasanya menerima kunjungan dokter saat ini, apalagi bawa rombongan Aku jadi merasa tersanjung." Suara Andhini terdengar begitu empuk di telinga dr Fadli.


Tangan Andhini masih saja memegang dan menuntun dr Fadli ke arah tempat duduk yang disediakan.


"Sama-sama Andhini, apa sudah tidak ada keluhan lagi di kakimu? Aku ingat selalu tapi saat ingin menghubungimu Aku berpikir sudah sehat, makanya kamu tak ada konsultasi lagi." sahut dr Fadli sambil menatap wajah bersemu merah Andhini.


"Aku akan selalu berkonsultasi dokter walaupun dalam masalah lain." Andhini menyodorkan satu gelas minuman bersoda dingin dan mereka minum sama-sama.


"Lagi keluar sebentar mungkin nanti juga balik lagi." sahut Andhini datar, padahal ada mata Mas Radit yang seperti tak berkedip selalu mengawasinya dengan muka marah juga dingin.


Satu lagi sepasang mata Rai atau Rahadian adik iparnya yang heran melihat Radit kelihatan sudah tidak harmonis sama sekali dengan Andhini. Radit sibuk dengan Karina dan Andhini sendiri dengan teman barunya yang dirinya juga tidak tahu siapa itu, benar-benar rumah tangga yang sudah berantakan di mata Rahadian.


Rahadian menjadi marah sendiri, geram pada ketidaksetiaan Kakak sama Kakak iparnya, mereka seakan ingin saling memanaskan suasana, sibuk dengan pasangan masing-masing Radit sibuk dengan Karina yang tengah hamil dan Andhini sibuk dengan teman barunya yang kelihatan sangat tampan dan terpelajar.


'Andhini! harusnya kamu bersamaku kalau ternyata sama munafiknya dengan Kakakku, dan sama saling ingin mencari teman pelampiasan rasa kesal dan marah di hatimu, Aku akan dengan rela jadi teman kamu kapanpun kamu membutuhkan.' Rahadian sibuk dengan perasaannya sendiri.'


Rahadian berhenti cuap cuap dengan mix yang suaranya sangat lantang menawarkan mengajak dan memberitahukan semua diskon juga untuk tetap berlangganan di supermarket ini saat semua pengunjung rindu akan tanah air mereka.


Seketika suara Erika yang ambil alih, Rahadian membuntuti Andhini yang kelihatan mau ke toilet, kelihatan pamit sama teman prianya yang tetap duduk di situ.

__ADS_1


Rai melihat ruang toilet di tutup dan dengan tak sabar Rai menunggu di baliknya.


Saat Andhini keluar Rai menarik tangan Andhini ke belakang dan mampetnya hingga tubuh Andhini tanpa jarak gerak lagi, di belakangnya tembok, dan di depannya menjulang adik iparnya Rai, kontan Andhini kaget dan berteriak, tapi Rai buru-buru menutup mulut Kakak ipar nya.


"Rai! Apa-apaan kamu ini?" ucap Andhini sambil berusaha mendorong perut Rai, tapi begitu kokoh tubuh itu menghalanginya.


"Ada apa dengan rumah tangga kalian? Aku melihat semua sudah tidak sehat lagi! kenapa kalian saling menyakiti dengan semua ini? Kak Radit sibuk dengan istri sirinya, dan Kak Andhini sibuk dengan seorang laki-laki lain? Kenapa Kamu tak mencari Aku kalau sekedar ingin punya teman?" ucap begitu dekat di atas muka Andhini.


"Maksud Kamu apa Rai?" Bentak Andhini seperti benar benar tak bisa mencerna apa yang Rai katakan.


"Aku mencintai kamu sejak lama, dari kalian sebelum menikah! Aku selalu berdo'a jelek rumah tangga kalian itu bubar walaupun itu tidak wajar. Aku tidak bisa melupakan Kamu Andini sejak Aku melihat Kamu pertama kali datang ke kolam renang itu dan kita berenang bersama saat kalian belum menikah, Aku tersiksa sampai saat ini dan berharap kamu tahu isi hatiku!" Rai berusaha memeluk Andhini, tapi Andhini berusaha menahannya dan menjauhkan tubuh Rai dari tubuhnya.


Andhini seperti disambar petir mendengar pengakuan Rai di hadapannya, tubuhnya seperti menggigil dan tungkainya terasa lemas.


"Rai! Kamu mencintai orang yang salah! Aku mencintai Kakak Kamu, tak boleh seperti itu satu kesalahan besar kamu mencintai Aku! Jangan memaksakan keinginan berusahalah mengalihkan rasa itu, tidak sepantasnya kamu berbicara tidak sopan di hadapan Kakak Kamu ini kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" Lantang suara Andhini di depan Rahadian.


"Apa kamu juga pantas ngobrol bermesraan sama laki-laki lain? hanya untuk membalaskan rasa sakit hati Kamu ke Kak  Radit sama Karina?" jawab Rai tak ingin kalah dengan pendapatnya.


"Itu dokter Aku Rai! Aku masih waras kalau harus mencari pelarian sakit hati padamu! Kamu itu adik Aku! harusnya jadi pelindungku bukan malah mau melecehkanku, Aku masih berharap suatu saat  bisa hamil Aku menjalani terapi walau tanpa Mas Radit sekalipun karena Aku tidak ingin keberadaanku disini menjadi salah arah keluar dari tujuan utama keluar dari tujuan awal yaitu terapi dan pengobatan juga program kehamilan." Kata-kata Andhini membuat Rai diam dan memandang punggung Andhini yang berjalan bergegas ke dalam tenda ruangan acara lagi.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2