Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Rencana pulang Karina.


__ADS_3

"Rai panggil Vira, pulang ke sini temani Karina dalam masa berkabung ini, juga selama pengurusan surat-surat kepulangannya ke Indonesia, tapi biarkan dulu Dia tinggal di sini menurut keinginannya sampai Dia menyatakan siap pulang." Ucapan Andhini masih begitu menghargai Karina dan Andhini bukan orang yang mendendam apalagi melihat kondisi Karina yang pasti semakin terpuruk paska kehilangan Anaknya dengan Mas Radit.


"Baik Kak, kebetulan Vira lagi santai tidak pergi ke kampus jadi Aku juga libur antar Dia," jawab Rai yang kelihatan capek.


"Terimakasih Rai, kini semua telah berakhir walau menyisakan luka dan duka di hati semuanya, di sini memang Aku yang paling bertanggung jawab dan Aku pun harus menjadi orang yang lebih bijaksana," ucap Andhini di hadapan Mas Radit sama Rahadian.


Andhini sama Radit tak banyak cakap juga tak ada bahasan apapun apalagi tentang Karina. Mas Radit lebih banyak diam walau dalam benaknya sudah ingin menyampaikan sesuatu pada Istrinya.


"Mas, barangkali ada yang ingin di sampaikan berupa harapan dari kejadian keluarga kita untuk kedepannya seperti apa? Aku tidak akan egois ini adalah rumahtangga Kita dan selayaknya semuanya berdasarkan atas musyawarah Kita demi tercapainya satu kebahagiaan yang kita harapkan," ucap Andhini di samping suaminya memecah kebisuan diantara keduanya.


"Andhini, hanya satu permintaanku maafkan Aku dan Karina, dan jangan abaikan masa depan Karina juga, bukan atas dasar apapun tapi setidaknya Dia pernah ada dalam hidupku, Apapun itu biarkan Dia punya harapan yang baik dan masa depannya sendiri," ucap Radit di sambut anggukan Rai.


Andhini tersenyum sambil mengusap tangan Radit.


"Itu semua sudah Aku pertimbangkan Mas, Aku menunggu kabar dari Rai soal rekening Karina apa bisa di bobol Si Brengsek Ros atau tidak? kalau masih utuh syukur dan Aku tetap akan memberikan satu rumah dan kendaraan seperti janjiku, walau semua itu tidak akan mengobati rasa kehilangan dan luka yang dirasakan Karina. Tapi Aku masih perduli padanya dan membiarkan Karina hidup layak bersama Adiknya, setidaknya kehadiran Karina dalam kehidupan Kita telah memberikan warna dan pelajaran yang sangat berharga terutama bagi diriku, juga memberikan kesadaran tinggi kalau cinta sejati perlu perjuangan dan pengorbanan, kerelaan dan keikhlasan menjalani dan memaafkan yang tiada henti," ucap Andhini sambil memeluk sebelah lengan suaminya.


"Andhini, hatimu terbuat dari apa Sayang? berulangkali Aku sakiti Kamu tapi berulangkali juga Kamu maafkan Aku!" ucap Radit merangkum wajah Andhini dengan kedua tangannya.


"Hemght!" suara Rai yang berdehem tak jauh dari mereka menyadarkan keduanya lalu saling melepaskan. Radit tersenyum dan Andhini sedikit malu tapi tahu Kalau Rai sudah dewasa menyikapi hal dewasa di hadapannya.


"Aku jemput Vira dulu ya Kak!" ucap Rai sambil bangkit, merasa tak enak melihat suami istri saat bermesraan begitu.


"Ya Rai, sekalian mampir di Supermarket tanya Erika dan bawa surat-surat Karina, kalau Karina menginginkan pulang kapanpun sudah siap," ucap Andhini sambil mengangguk pada Rai yang sudah mau menutup pintu.

__ADS_1


Rai mengangguk lalu menutup pintu dan menghilang di balik pintu.


"Alhamdulillah semua lancar Mas, tinggal menunggu kabar temannya Rai soal rekening Karina, dan Karina kapan siapnya mau pulang, Begini ya Mas terasa sakit rasanya kehilangan, bagaimana Mas Rasanya kehilangan Anak Mas sendiri?" tanya Andhini sambil memeluk suaminya.


"Sama saja mungkin seperti Karina sedihnya Sayang, cuma karena Aku belum melihat terlalu dekat belum terbiasa menggendongnya jadi seperti apa ya? sulit di gambarkan walau rasa sayang tetap ada namanya juga pada Anak sendiri pasti sama perasaan sayangnya pada yang masih ada di dalam perutmu Sayang!" ucap Radit sambil membelai pipi Andhini.


"Semoga Karina bisa melewati semuanya ya Mas, karena itu juga akan membuat kita tenang," jawab Andhini di sambut anggukan Radit.


***


"Kak, surat-surat sudah Aku bawa, Karina lagi ngobrol sama Vira juga Aku, intinya Karina ingin pulang secepatnya kalau bisa besok juga tak apa katanya, ingin segera pergi meninggalkan kenangan tentang Anaknya dan bertemu dengan Adiknya," ucap Rai di ujung telepon.


"Tak apa, kalau Karina merasa kuat, mungkin dengan berada di dekat keluarganya bisa lebih bisa menyesuaikan dengan perasaanya, kalau begitu datanglah malam nanti ke sini Aku akan mengucapkan belasungkawa dan mungkin pesan sebelum Karina pulang,"


"Baik Kak, nanti Aku sampaikan."


Telephon di tutup dan Andhini menarik nafas dalam-dalam di hadapan Radit.


"Mas, kemungkinan Karina mau pulang besok, ucapkanlah sesuatu padanya besok biar Rai sama Vira saja yang antar ke Bandara,"


Radit mengangguk mengiyakan.


***

__ADS_1


"Rina, semua pada akhirnya seperti ini, Kita semua tak ada yang harus saling menyalahkan, tapi Kita akhiri dengan saling memaafkan," ucap Andhini di malam itu, saat semua hadir di tempat Andhini mungkin itu saat terakhir pertemuan mereka.


"Ya Nyonya, sesungguhnya apa yang harus Aku kembalikan? karena mungkin semua uang itu kini telah berpindah tangan, Aku ikhlas tak punya apapun hanya ingin berkumpul kembali dengan Adikku saja, tapi jujur mungkin itu yang Aku mohon dan diikhlaskan dari Nyonya sama Mas Radit, karena itu kebodohanku," ucap Karina tak berani menatap suami istri dihadapannya.


"Sudahlah Rina, Kami ikhlas semuanya kerelaanmu patut Kami hargai, dan Kami masih perduli padamu rasanya tak rela kalau kehidupanmu setelah kepulangan dari sini semakin sulit, dan Kami pasti akan merasa bersalah," ucap Radit dengan menatap Karina.


"Kalau uang itu masih ada di rekeningmu dipastikan akan aman, tapi kalau semua sudah tidak ada Aku akan menggantinya dengan nilai yang sama, juga satu unit rumah dan satu kendaraan tetap akan menjadi milik Kamu nanti Rina, itu bukti kasih sayang yang Aku masih jaga padamu, sesampainya di sana silahkan datang ke kantor Pak Budi nanti akan ditunjukkan semuanya, semoga menjadi bekal masa depan Kamu dan bermanfaat. Bayimu kini berada di sini, mungkin kalau Kami kangen pasti akan mengunjunginya." Ucapan Andhini yak bisa Karina jawab, hanya isakan dan air mata yang mengiringinya.


"Dengan apa Aku bisa membalas semuanya Nyonya?"


"Jangan menangis Rina, kesedihanmu adalah kesedihanku juga, masa depanmu masih begitu panjang dan masih banyak harapan dan asa yang mungkin masih bisa kamu raih, dari Kami hanya mengucapkan selamat jalan dan semoga selamat sampai tujuan besok." Nada bicara Andhini juga begitu tertahan, tapi semua jelas ini adalah pertemuan terakhir mereka.


Andhini memeluk Karina seperti saat dulu dirinya merelakan menjadi madunya. Kalau dulu Andhini yang bersimbah airmata kini Karina yang tak henti mengeluarkan airmatanya.


Radit juga menyodorkan tangannya, dan Karina menciumnya dengan sepenuh perasaannya. Tangan Radit tak bisa kalau tidak mengusap kepala Karina yang pernah singgah mengisi dalam hari harinya selama mereka menikah.


Semua di salami Karina dengan berurai air mata.


******


Rekomendasi masih karya Enis Sudrajat dengan cerita yang berbeda di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2