
Pagi pun datang, Andhini membersihkan semua yang berantakan di lantai menyapunya ke pengki dan mengambil vakum cleaner membersihkannya takut masih ada pecahan kecil yang masih tercecer.
Suara vakum cleaner tak membangunkan Mas Radit yang tidur dengan berantakan di atas sofa. Andhini menatapnya dengan perasaannya sendiri, merasa kasihan dengan suaminya mungkin dirinya yang egois selama ini terlalu cepat putus asa dan menjerumuskan suami juga dirinya pada kungkungan permasalahan yang sampai sekarang belum selesai walaupun ada sedikit sesal di hati Andhini tapi semua kini tiada arti, kenapa harus mengizinkan Mas Radit menikah? toh pada akhirnya dirinya juga sekarang hamil walaupun belum dipastikan tapi Andhini merasa 80% dari kabar yang diberikan dr Fadli adalah benar.
Kenapa dirinya tidak sabar? mungkin kalau sabar pasti tidak akan bertemu dengan persoalan yang seperti sekarang ini.
Selesai mandi dan berdandan Andhini masih melihat Mas Radit suaminya masih saja lelap.
Mungkinkan dirinya kasih tahu kabar itu kini? Andhini jadi merasa tak enak semua dalam kondisi diam-diaman dan malah Mas Radit lagi marah. Tidur memisahkan diri suatu yang bukan waktunya memberitahukan walaupun itu kabar bahagia.
Andhini mendekati suaminya dan membangunkannya, tapi Radit malah balik membelakanginya dan tidur kembali.
"Mas, Aku berangkat duluan ya, banyak pekerjaan yang harus Aku selesaikan hari ini," ucap andhini sambil menaruh tangannya di pangkal lengan suaminya.
Radit tak bergeming tapi Andhini tahu Radit sudah tidak tidur karena terlihat dari kakinya yang kadang bergerak.
"Mas Aku berangkat ya?" Andhini mencoba bicara lunak, seakan melupakan kejadian semalam.
"Nanti sama Aku, kenapa Kamu selalu mengambil dan memanfaatkan kesempatan?" ucap Radit begitu menyudutkan Andhini.
"Kesempatan apa Mas? Kan jelas Aku mengurus pekerjaan nanti Mas nyusul kita bertemu di sana Aku tunggu Pengen jalan jalan sekalian kita kontrol ke rumah sakit ya," ucap Andhini sambil menggoyangkan lengan Radit tetap bicara lembut.
"Aku juga banyak pekerjaan hari ini." Radit tetap bicara sambil tiduran membelakangi Andhini.
Andhini diam biasanya Mas Radit selalu mampir ke tempat Karina kalau pagi memastikan kalau Karina baik baik saja, atau mungkin sebagai suami istri biasanya mereka melewatkan kebersamaan dulu kalau pagi sebelum Mas Radit langsung ke sampai ke tempat kerjanya yang sekarang ada bersama Andhini, entah itu bohong atau benar kalau sekarang katanya jarang bertemu sejak Karina ada yang menemani.
__ADS_1
Andhini mengerti kalau Karina adalah kewajiban Mas Radit, tak masalah bagi Andhini karena itu sudah dari awal Karina adalah tanggungjawab dan kewajiban Mas Radit sebagai suaminya tetapi hanya satu keinginan Andhini berilah waktu untuk dirinya karena dirinya juga tetap istri Mas Radit.
"Maunya Mas itu gimana? kalau banyak pekerjaan ya ayo bangunlah kita berangkat sekarang. Apa Mas mau ke tempat Karina dulu? Apa Aku boleh melihatnya?" suaran Andhini begitu lembut memecah kesunyian di pagi itu.
"Mau ke tempat Karina ataupun tidak itu urusanku, perbaiki dulu dirimu Kamu membuat aturan yang hanya untuk orang lain Aku juga boleh membuat aturan buat istriku sendiri!" Radit bicara sambil bangun, rupanya kemarahan sisa semalam masih tersisa di pagi ini dan belum selesai, Radit berbicara menuntaskan segala ganjalan di dalam hatinya merasa tidak terima dengan perlakuan Andhini dan der Fadli yang menurut Radit Andhini telah melakukan penghianatan.
"Mas! pagi-pagi Aku nggak mau berdebat dan bertengkar cukup sampai di sini Kalau Mas mau memperpanjang permasalahan ini silahkan! Aku sudah tidak mau menanggapinya lagi yang penting Aku merasa tidak berada di jalan salah, masih tetap menjalankan kewajiban sebagai istri bahkan Aku masih menghargai Mas dan Karina sebagai suami istri yang sah, Aku masih merelakan Mas bersama Karina makanya Aku mengingatkan," ucap Andhini sedikit tinggi nada bicaranya.
Semua dadi diam, dan akhirnya Andhini yang mengalah bicara lembut kembali.
"Ya sudah kalau Mas mau berangkat bareng, Aku tunggu kita sama-sama bertemu Karina dulu, Apa hari ini ada kiriman barang? kalau di rasa Mas capek kita rekrut lagi satu sopir jadi Mas biar tidak mengurus lagi pengiriman dan bisa tenang mengurus dokumennya saja." Andhini bicara mengalihkan pada pekerjaan berharap Mas Radit mau meresponnya.
"Nanti saja bicara soal pekerjaan di kantor Aku mau mandi dulu!"
Sepertinya sudah tidak ada lagi celah Andhini untuk menjelaskan semua dan mengabarkan kebahagiaannya pagi ini, mungkin nanti siang di kantor ada kesempatan.
Radit benar-benar marah kelihatannya sampai-sampai pakaian yang dipilihkan Andhini tidak dipakainya dan tetap dalam lipatan di atas tempat tidur.
Andhini masih bisa bernafas membiarkan semuanya berjalan apa adanya kalaupun ingin marah dirinya juga bisa marah dengan yang selama ini Mas Radit dilakukan ketidakadilan soal waktu soal tanpa bicara lagi membawa Karina ke ruang publik yang tetap ini itu adalah acaranya dan banyak lagi kesalahan Mas Radit kalau memang kita harus berbicara impas-impas an salah sebagai suami istri tetapi Andhini tidak begitu
Hanya satu harapan Andhini ingin segera menyelesaikan semua perjanjian ini mengambil anak Karina dan mengasuhnya dan memulangkan Karina setelah bercerai dengan Mas Radit dan Andhini akan menjalani hidup seperti yang dicita-citakannya di sini tanpa orang lain dalam kehidupan rumah tangganya.
Andhini mengambilkan sepatu dan menyimpannya di dekat Mas Radit duduk, tanpa bicara Radit memakainya Andhini menunggu sambil memperhatikannya.
Mereka keluar bersamaan dan Radit mengunci pintu. Andhini tetap menunggu dan mereka berjalan tanpa berkata.
__ADS_1
Pas di lorong melewati beberapa blok Radit belok dan Andhini juga belok mengikuti mungkin Mas Radit mau bertemu Karina dulu, Apa salahnya Andhini juga ingin memastikan Karina baik-baik saja karena itu juga tanggungjawab nya.
Radit mengetuk pintu dan seperti sudah di tunggu Karina langsung membukanya, dilihat Radit datang sama Andhini Karina mundur beberapa langkah dan mempersilahkan Andhini duduk.
Radit memeluk Karina sekilas di hadapan Andhini, mencium keningnya dan menuntunnya untuk duduk pula.
Itu tak seharusnya Mas Radit lakukan di hadapannya, Andhini berusaha menekan perasaannya sendiri.
"Gimana keadaanmu apa nggak ada keluhan?" tanya Radit memandang Karina.
"Baik Mas, Aku sehat bayinya juga sehat, baru saja pulang yang nemenin kalau malam, Mas sama Nyonya Andhini mau minum dulu?" ucap Karina sambil mau bangkit dari duduknya.
"Nggak usah Rina, kami mau berangkat lagi banyak kerjaan yang menunggu, Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, nanti kalau Aku sempat carikan pakaian yang baru biar nyaman saat perut besar," jawab Andhini tetap sopan dan baik memperlakukan Karina.
"Iya makasih Nyonya, maaf Aku tidak bisa membantu meringankan pekerjaan karena gerak langkahku mungkin terbatas Aku hanya diam saja dan tak bisa berbuat apa-apa," jawab Karina sok polos.
"Nggak apa-apa keberadaan Kamu di sini adalah tanggung jawab kami, sudah seharusnya kami yang bertanggung jawab segalanya sampai sekecil-kecilnya," tukas Andhini sambil melirik pada Mas Radit yang lagi menatap Karina.
Ada rasa nyeri di ulu hati Andhini, perlakuan lembut Radit pada Karina begitu sebaliknya pada dirinya. Andhini mengusap perutnya sendiri dan mulai bersiap mau berangkat.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya Author di bawah ini, baca like dan komen membangun ya! 🙏❤️
__ADS_1