Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Pikiran gila


__ADS_3

Rahadian melongo saja seperti ada yang tidak beres dengan semuanya. Tapi bertanya pada Kakak iparnya Andhini tak etis juga rasanya, sekedar mau tanya ada seorang Karina di bagian lain kondominium ini yang sepertinya juga penuh misteri.


Rahadian yakin kalau Karina tinggal di salah satu sudut kondominium ini dan suatu saat akan dikenalkan pada Kakaknya kalau ada orang Indonesia begitu dekat di sini bahkan tinggal dalam satu bangunan gedung bertingkat ini.


Juga keinginannya untuk ngekost aja ambil satu kamar ala mahasiswa seperti apa yang di sarankan Vira, ngapain buang buang duit tinggal di hotel dalam jangka waktu tak menentu entah sampai kapan Rahadian tinggal di sini seandainya masih betah memang sebaiknya mengikuti saran Vira.


"Kak Andini nggak makan dulu? Aku kan udah makan tadi, terus makanan ini siapa yang makan?" ucap Rahadian silih berganti memandang Kakak iparnya juga meja yang telah tertata makanan di situ.


"Aku nggak mood makan lagi, paling di buang pagi-pagi jadi penghuni tempat sampah servis kebersihan," jawab Andhini tanpa melihat ekspresi wajah Rahadian.


" Ya jadi mubazir dong, Aku tidur di sofa nih?" tanya Rahadian, Andhini menaikkan bahunya menyatakan terserah pada yang bertanya, terserah mau di manapun asal jangan di kamarnya!


"Oke deh aku minjam dulu laptopnya ya, Kakak boleh istirahat sana. Kalau Kak Radit pulang malam-malam biar Aku yang bukakan pintu," ucap Rahadian sambil mengambil laptop dan membukanya.


Andhini masuk ke kamarnya, dalam hatinya kasihan pada Rahadian haruskah kebahagiaan liburannya terganggu dengan permasalahan dirinya dan rumahtangganya? apalagi Rahadian masih dalam menjajaki sebuah hubungan dengan siapapun ada rasa takut semacam trauma tersimpan di hati anak muda itu, atau mungkin hikmah dari konflik rumah tangganya seandainya dia tahu? tapi sampai saat ini Andhini tak ingin membuka semuanya kecuali hal yang tidak diinginkan terjadi entah seperti apa itu.


"Erika!"


"Apa Say? malam-malam?" tanya Erika begitu kaget sesuatu yang jarang Andhini lakukan menelepon malam-malam.

__ADS_1


"Lakik lo ada nggak? gue mau nangis nih!" jawab Andhini di ujung telephon.


"Nggak ada lagi ngelonin Jeanny sudah di kamar, biar nanti gantian ngelonin Mamanya, emang ada apa?" jawab Erika bercanda maksudnya.


Tapi malah mendengar isakan Andhini, otomatis Erika jadi kaget dikiranya hanya perbincangan biasa dan ringan saja tapi sepertinya Andini punya permasalahan yang cukup berat.


"Lho lho lho ... ada apa ini? Dhini kenapa?"


"Rika, apa gue emang yang salah dalam hal ini?"


"Hai! tunggu dulu ada apa? apa gue ke sana aja? biar jelas semuanya?" tukas Erika agak kaget.


"Terus Mas Raditya ke mana? di tempat Karina?"


"Sudah dua malam, pokoknya Aku sakit Rika, Aku menyesal dengan semuanya, biarin Aku tak memiliki anak dengan proses seperti ini, hatiku ini berdarah dengan pengkhianatan mereka mereka telah keluar aturan tanpa mengindahkan Aku lagi tanpa menganggap Aku ada, mereka berjalan dengan aturan mereka sendiri bahkan lupa mereka dipersatukan oleh keikhlasanku." Andhini terisak dengan emosi dalam kemarahan kata-katanya.


Erika terhenyak, suatu saat diawal Andhini mengambil keputusan itu saatnya datang kini, permasalahan bermunculan tak seperti yang diharapkan, satu persatu yang dikhawatirkan muncul ke permukaan.


"Jadi Mas Radit pergi lagi ke tempat Karina?" tukas Erika ingin meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku jijik melihatnya Rika, Aku datang ke kamar Karina karena tadinya Mas Radit hanya mau kirim makanan saja, Aku sudah beli makanan karena akan makan bersama, coba di telepon tidak aktif Mas Radit sudah tidur, Karina seperti memamerkan dirinya yang berantakan habis berhubungan, Ya ampun Erika hatiku sakit, itu waktuku yang mereka curi!"


"Sudah, sudah jangan malah menambah sakit hati lo, sekarang kalau gue nggak boleh ke situ istirahat saja, berusaha tenangkan diri, dan berpikir dengan baik, Adik ipar lo yang lagi liburan mau tahu masalah ini nggak? kalau lo berniat dia tak ingin tahu ya tutupi semuanya serapi mungkin, besok kita bertemu lo bisa curhat semuanya hanya pesan gue jangan manfaatin Adik ipar lo saat lo sakit hati dan galau!"


tutur Erika panjang lebar diakhiri dengan bercanda.


"Lo jangan memberi peluang gila ya!"


"Hahahaha ....Ya sudah, berarti lo masih bisa berpikir waras, sepertinya Jeanny sudah tidur, dah dulu ya! istirahat."


Telephon terputus sambungannya.


Deg! Andhini berpikir apa Aku harus balas semuanya dengan lebih menyakitkan lagi? Tidak! Aku belum gila walau kelihatan Rahadian juga begitu tampan dan gagah seperti gagahnya Mas Radit.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2