Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Masih berharap pulang


__ADS_3

Dalam renungan malam yang terasa panjang Andhini masih berharap Mas Radit sadar dengan kesalahannya dan pulang mencari dirinya, tapi sampai subuh menjelang Andhini hanya tidur beberapa jam saja Andhini sudah terbangun kembali.


Mas Radit tetap tak pulang menampakkan batang hidungnya. Bahakan menelephon juga tidak sama sekali, entah di mana perasaannya, semua sempurna sudah bagi Andhini sakit hatinya dan tinggal sesal memenuhi dalam dadanya.


Memandang tempat tidur sebelahnya yang kosong terasa semakin sakit hatinya, hanya ada satu guling yang selalu jadi rebutan dan akhirnya mereka tidur berpelukan.


Andhini bangun, hari ini menyatakan akan mogok bicara sampai Mas Radit menyadari kesalahannya dan meminta maaf juga Andhini memaafkan untuk ke sekian kalinya.


Bahkan kalau bisa Andhini tak ingin lihat Mas Radit hari ini, berkomunikasi atau ngomong pun rasanya Andhini tidak mau


Andhini tak ingin bertemu dengan Mas Radit di tempat huniannya ini, Apalagi melihat badan kuyu lusuh bangun tidur dengan orang lain, Andhini masih menjaga etika di hadapan adiknya jangan sampai ada pertengkaran yang tidak dimengerti sama sekali sama Rahadian.


Bahkan kalau sampai Rahadian tahu Andhini memastikan semua akan terbongkar dengan sendirinya.


Tanpa mandi Andhini hanya gosok gigi dan cuci muka, lantas berpakaian dan memeriksa isi tas nya, berdandan sedikit, Andhini menengok dari gorden kamarnya ke luar, di luar masih kelihatan gelap dan udara cukup dingin dengan pucuk pohon bergoyang-goyang di terpa angin ahir musim gugur.


Andhini mengenakan jaket panjang dan tebal yang tergantung di hanger,


Andhini membuka pintu kamarnya dan berjalan perlahan, memandang Rahadian yang tidur di sofa dengan posisi terlentang ber-bantal seandainya bantal sofa, kelihatan masih nyenyak banget dengan laptop masih terbuka.


Andhini melirik sebentar ke meja makan sepertinya makanan yang dirinya pesan kemarin kelihatan masih begitu utuh tak ada yang menyentuhnya sama Rahadian sekalipun. Hatinya kembali sakit dan perih.


Walau terasa lapar perut Andhini semua hilang dengan perasaan kecewa yang ditelannya sendiri, makan bukan lagi tujuannya untuk menghilangkan rasa lapar tapi tak ada nafsu dan selera lagi untuk makan, perutnya tak bisa di bohongi tetap saja keroncongan. Tubuh Andhini berasa lemas karena emosi juga kurang tidur.

__ADS_1


Perlahan Andhini keluar dan menutup pintu dengan perlahan tanpa membangunkan Rahadian yang masih tertidur.


Andhini galau dengan dirinya, dengan masa depan pernikahannya, dengan semuanya, seandainya waktu bisa diputar ulang kembali tak ingin rasanya Andhini dalam posisi sekarang ini terjebak dalam permainan dan permasalahan dirinya sendiri.


Semua masalah memang dirinya yang ciptakan tetapi tidak berharap untuk kecewa berharap ada kerjasama dari suami dan Karina sendiri.


Andhini sengaja menciptakan siang untuk kebersamaan Karina bersama Mas Radit agar Andhini bisa melupakan kebersamaan mereka dan mengalihkan pikirannya sendiri kalau Mas Radit sedang bekerja seperti biasa dan Andhini sendiri tidak kehilangan malam bersama suaminya tetapi fakta pada kenyataannya kini semua tidak berjalan pada rel dan alurnya.


Andhini berjalan pelan saja sambil menunggu pagi agak terang.


Naik dan turun pada lift yang sama membuat Andhini hafal semuanya, seperti sudah refleks memijit tombol turun dan naik juga nomor lantai tempat tinggalnya.


Biasanya Andhini takut kalau harus berjalan sendirian apalagi di kota besar seramai Melbourne salahsatu metropolitan di Australia, tapi karena dorongan perasaan yang tak menentu akhirnya Andhini begitu tegar begitu menguatkan hatinya menghilangkan semua rasa takut berjalan dengan percaya diri, berjalan jauh ke arah kondominium yang di huni Erika temannya.


Kebiasaan orang di sini jarang yang beraktivitas di pagi buta kecuali karena tuntutan profesi kebanyakan orang lebih menikmati tidur dalam suasana musim gugur dan siangnya bisa beraktivitas kecuali hari libur bisa joging memenuhi jalan sambil berjemur menikmati matahari.


"Astagfirullah, aduh ya Allah sakit banget!" Andhini mengaduh jatuh tersungkur dengan posisi terjengkang.


Pesepeda tadi juga kaget, di kira masih ada jarak ternyata malah memepet pejalan kaki karena hari masih agak remang.


Menjatuhkan sepedanya setengah di banting lalu terburu-buru mendekat dan meminta maaf dalam bahasa Inggris yang agak kaku, lalu mengulurkan tangannya, berusaha bertanggungjawab mau menolongnya.


"Kamu punya mata nggak? orang segede gini masa nggak kelihatan?" Andhini kesal dan marah bicara dalam bahasa Indonesia biarin orang itu tidak mengerti yang penting hati kesalnya sudah terlampiaskan.

__ADS_1


Begitulah perempuan biasanya tak mengenal waktu dan tempat kalau marah ya marah saja, dalam bahasa apapun yang penting Andhini tahu dengan intonasi seperti ini orang itu berharap mengerti kalau dirinya juga saat ini sedang marah.


Orang itu kaget, lalu bicara juga dalam bahasa Indonesia sambil senyum di tengah kekagetan nya.


'Ternyata Nona cantik ini orang Indonesia juga, ada kegirangan di hatinya.'


"Oh, ya ampun Nona Aku minta maaf karena tadi lagi melamun, yang belum dialami, sampai seorang cantik di depan mata nggak kelihatan, sekali lagi Aku minta maaf ya, mari Aku bantu biar Aku periksa kalau ada luka nanti Aku obati," ucap pesepeda masih dengan senyum manisnya di suasana pagi menuju terang.


"Nggak perlu! Aku lagi buru-buru, permintaan maaf Kamu tak akan menghilangkan rasa sakit di tulang kering dan jari kakiku," jawab Andhini ketus merasa dirinya tak bersalah.


"Tapi setidaknya Aku sudah meminta maaf, kalau boleh kita berkenalan, masa sama saudara sama-sama orang Indonesia tak bisa memaafkan? mungkin kita bisa berteman baik kalau mau," tutur pesepeda laki-laki yang masih jongkok di hadapan Andhini.


"Nggak perlu basa-basi, bagaimana caranya biar aku bisa berjalan kembali?" sungut Andhini masih marah. Tapi marah dengan keadaan dan permasalahannya sendiri. Andhini akui dirinya juga lagi dalam masalah tidak sepenuhnya menyalahkan bersepeda tadi, dirinya juga lagi melamun tetapi hanya demi gengsi karena pejalan kaki adalah posisi yang lemah di banding yang bawa kendaraan.


"Oke, biar Aku periksa, Aku seorang dokter walau di sini yang di perdalam adalah dokter spesialis kandungan, tapi Aku tahu luka seperti ini hanya butuh antiseptik dan sedikit urut di jari kakimu."


'Oow, dokter SpOG rupanya si ceroboh penabrak dirinya ini?'


Andhini menerima uluran tangan laki-laki pesepeda tadi yang ternyata juga adalah orang Indonesia kenapa dunia ini begitu sempit? apa orang Indonesia terlalu banyak sehingga ada di belahan bumi manapun?


"Bisa berjalan beberapa ratus meter saja? karena sepedaku nggak ada boncengannya, biar Aku periksa dan obati di teras kamar hunian ku. Kalau nggak bisa biar Nona naik sepeda aku tuntun perlahan gimana?"


******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️



__ADS_2