
"Kami akan membawamu ke Australia jika keputusanmu bersedia, dengan satu catatan hanya kita yang tahu permasalahan ini tidak seorangpun yang akan tahu permasalahan ini termasuk keluargaku tanpa kecuali hanya Aku, Mas Radit, temanku di sana Erika dan kamu sendiri. Semua ini adalah rahasia kita berempat," tutur Andhini meyakinkan Karina tentang akan ada rahasia diantara mereka.
"N-nyonya boleh Aku mengajukan pertanyaan?" ucap Karina masih terbata.
"Sangat boleh Karina justru Aku sama Mas Radit menunggu pertanyaan dari kamu ajukan semua keberatan mu pertanyaan kamu ketidakmengertian kamu sampai kamu bisa mengerti dan mengambil keputusan." Sambil tersenyum Andhini kelihatan begitu serius
"Apa Aku nanti akan tinggal di Australia sambil kerja? dan seandainya Aku nanti hamil nanti apa akan melahirkan di sana?" Seperti begitu mengeluarkan pertanyaannya begitu berat Karina akhirnya bertanya juga tentang uneg-uneg di dalam hatinya.
"Iya Karina, seandainya tidak kerja juga tidak apa-apa tapi kalau kamu mau, kamu masih bisa mengurus satu minimarket yang akan segera Aku buka sebagai cabang dari minimarket yang sudah ada," sahut Andhini tangannya di pundak Karina seperti ingin menguatkan Karina kalau semua akan baik-baik saja.
Lama Karina tak menjawab seperti berpikir terlalu berat dan terlalu dalam, Radit yang tidak bicara dari tadi menatap Karina begitu tajam seperti orang yang tengah menilai kepribadian perempuan yang ada di hadapannya. Lalu mengambil cangkir kopi meneguknya, kerongkongannya terasa begitu kering.
"Pikirkan dulu semuanya sampai kamu bisa menyimpulkan semua ucapan ku mencernanya, mempertimbangkan dan nanti mengambil keputusan silakan Akun kasih waktu 2 hari lebih cepat lebih bagus Aku akan tunggu kamu untuk pembicaraan selanjutnya apa lebih baik Mas Radit sama kamu nantinya menikah di sini atau nanti di Australia saja, kamu bisa mengalihkan alibi terhadap keluargamu dan juga pada Panti yang menaungi kamu dan adikmu kalau kamu diajak bekerja di Australia melanjutkan pekerjaan di perusahaan yang di sini." Panjang lebar Andhini memberi pengertian detil semuanya.
"Baiklah Nyonya ,Tuan. Kalau begitu mungkin Aku perlu berpikir dulu dan sekarang permisi undur diri."
"Oke, Karina Aku sama Mas Radit juga mengerti jangan ambil keputusan saat kamu emosi saat kamu lapar juga saat kondisi kamu tidak sehat karena keputusan yang akan kamu ambil tidak akan bijaksana."
Karina berdiri mengangguk dan menunduk lalu undur diri diantar sama Andhini yang merangkul pundaknya menemaninya keluar dari ruangan utama rumahnya menuju ke kamar tempat tinggalnya yang terletak di bagian belakang.
"Jangan terburu-buru pikirkanlah dengan baik, Aku tidak memaksa kamu tetapi pikirkan juga masa depan kamu dan adik kamu. Jika ada pertanyaan yang belum kamu mengerti Aku siap setiap waktu menjawab kapanpun kamu mengajukan pertanyaan."
"Baik Nyonya, sementara Aku mengerti hanya mungkin perlu waktu untuk berpikir lagi sehingga bisa mengambil keputusan tapi seandainya tidak bersedia menurut pemikiran nanti bagaimana dengan pekerjaanku selama ini?" Karina melirik Andhini di sebelahnya sebelum masuk kamar.
__ADS_1
Andhini tersenyum, "Aku rasa hanya orang bodoh yang mengabaikan kesempatan ini tapi walaupun begitu Aku tidak memaksa, kamu masih tetap bisa bekerja di perusahaan di sini dan Aku akan melemparkan kesempatan ini kepada orang lain, apa salahnya menikah dengan seseorang dengan tujuan menolong? tidak terlalu bhruk dengan imbalan bukan atas dasar pemaksaan tetapi kita saling memberi manfaat yang menguntungkan, pikirkanlah itu."
Andhini mengantar Karina sampai Karina masuk dan menutup pintunya. Hati Andhini begitu lapang sudah terbebas satu pikiran yang selama ini mengganjal menjadi satu beban yang berat untuk menyampaikan semua ini pada Karina, sekarang tinggal menunggu jawaban dan Andhini yakin Karina akan menerimanya.
***
Setetes air mata jatuh di atas seprei warna pink saat Karina masuk ke kamarnya ada perasaan sedih di hatinya haruskah dirinya merasa bahagia dihargai setinggi-tingginya oleh Nyonya Andhini majikannya demi menyelamatkan keluarganya? Nyonya Andhini begitu rela membagi suaminya haruskah dirinya menolak? Kenapa Nyonya mau berbagi suami dengan dirinya demi seorang anak?
Bersediakah atau tidak dirinya untuk menjadi seorang istri siri selama 6 bulan? harus mempersiapkan diri dan mental untuk hamil lalu memberikan anaknya kepada keluarga Tuan Radit demi satu ucapan balas budi dan imbalan uang yang jumlahnya jauh dari perkiraannya walau semua itu tidak dianggap Andhini sebagai balas budi atas kebaikannya.
Apa Tuan Radit mencintainya? Ah, tak mungkin pernikahan ini hanya siri tidak ada bahasan cinta di dalamnya semua hanyalah pernikahan diatas perjanjian dan pernikahan siri rahasia.
Dilema hati Karina begitu luar biasa sampai malam dirinya belum bisa mengerjapkan mata, pikirannya kacau melayang tak menentu semua kata-kata Nyonya Andini begitu terngiang di telinganya dan tatapan Tuan Radit yang menatap biasa-biasa malah begitu dingin pada dirinya Karina tak berani membayangkan akan seperti apa pernikahannya nanti karena mengerti rumah tangga tanpa anak sekaya apapun orang itu tak bisa membeli kebahagiaan memiliki anak. Kenapa tidak dirinya untuk menolong Nyonya dan Tuan Radit? mengandung anak hanya 9 bulan saja pikiran gampang dan mudah mulai datang menggoda Karina.
Sampai subuh menjelang Karina belum menyimpulkan kesimpulan tentang jawaban akhirnya Karina tidur menjelang adzan Subuh berkumandang.
'Astagfirullah Aku kesiangan, Ya Allah aku sakit kepala banget kenapa aku sampai tidur larut malam dan juga sampai bangun kesiangan, berarti aku baru pertama kali kesiangan pergi ke tempat kerja hari ini, badanku agak meriang lagi.'
tok
tok
tok
__ADS_1
Pintu kamarnya di ketuk perlahan dari luar, Karina gelagapan baru pertama kali dirinya kesiangan apalagi sekarang ada Nyonya sama Tuan yang seharusnya dirinya bisa bangun pagi dan melayaninya.
Pasti Pak satpam itu yang bangunin ketuk pintu, Karina membuka sedikit gorden tampak Nyonya Andhini berdiri di dekat pintu.
Karina membuka pintu setelah mengusap mukanya rambutnya yang panjang di biarkan terurai hanya di sematkan ke sisi telinganya.
"Maaf Nyonya, Aku kesiangan semalam Aku tak bisa tidur." Karina jujur di hadapan Andhini.
"Nggak apa-apa, tapi kamu tak sakit kan?" jawab Andhini menatap Karina.
Karina hanya diam, merasakan suhu tubuhnya yang naik dan perasaannya yang meriang juga sakit kepala karena kurang tidur.
Andhini menghampiri Karina memegang keningnya terasa panas.
"Ya ampun kamu sakit? maaf Karina membuat kamu sakit mungkin terlalu memikirkan semuanya jadi kamu tidak bisa tidur, ya sudah kita ke dokter sekarang Aku panggil Mas Radit biar mengantar kamu ke dokter, biar Aku yang telephon Pak Budi izin kamu tak masuk hari ini."
"Jangan Nyonya, Aku nggak apa-apa, Aku kuat mau kerja saja hari ini minum obat biasa saja nggak usah ke dokter segala."
"Kamu istirahat saja dulu biar Aku izinkan dulu dan kita ke dokter hari ini."
Karina tak bisa berkata apa-apa lagi selain duduk kembali di tepi tempat tidurnya sambil memegang kedua pipinya yang terasa begitu panas.
****
__ADS_1