
"Lo ada apa sebenarnya Dhini? Datang mewek dengan mata seperti itu dan hidung memerah, sedangkan lo mau ada acara siang ini, cepat tetesi mata loh sama tetes mata, terus cuci muka dan istirahat sudah hentikan dulu tangisanmu matamu tambah bengkak nanti. Lo nggak usah curhat! gue mengerti semuanya walaupun lo belum mengatakan. Lo sekarang lagi bermasalah dengan suami lo soal Karina kalau bukan soal itu soal apalagi?" Erika menebak apa yang telah terjadi.
Terlalu sering rasanya Andhini mengatakan kekesalan hati pada suaminya yang tak pulang, menghabiskan waktu siang sama malam dengan Karina, ada saja yang disampaikan sekedar curhat dengan seorang sahabat
Andhini masih saja duduk dan berlinang air mata, beberapa malam tidur tak bersentuhan dengan suaminya, bahkan tak ada suaminya sama sekali. Sekali di sentuh seperti di perkosa saja rasanya karena mereka habis berselisih paham.
Andhini merasa itu bukan Mas Radit, Mas Radit kini telah berubah semenjak kenal dan dekat dengan Karina, ada saja ulahnya yang membuat Andhini kesal.
Andhini mengusap air matanya dan mengambil tetes mata yang Erika sodorkan. Mengucurkan sendiri ke bola matanya yang terasa bengkak, terasa dingin dan nyaman.
Dalam pikiran jauhnya Andhini berpikir mungkin dirinya harus pisah ranjang dulu kalau itu yang terbaik, dirinya akan tinggal di sini saja tempat yang nyaman tinggal tambah tempat tidur single saja jadi tempat tinggal yang praktis, itu adalah salah satu opsinya.
Tapi Andhini merasakan lain saat Mas Radit mendatanginya tadi pagi dengan beringas. Andhini baru merasakan hal seperti itu walau dirinya tak ada perlawanan sama sekali hanya pasrah dalam kungkungan suaminya tetapi Andhini merasakan kenikmatan yang berbeda walau terasa sakit dengan kekasaran yang suaminya lakukan.
Ya, baru Andhini ingat sekarang Mas Radit seperti ingin melampiaskan kemarahan dengan cara itu, semua kekuatan dan kegagahannya dikeluarkan hingga permainan ******* Andhini juga merasakan itu saat-saat terakhir Mas Radit mengakhiri penyatuannya.
__ADS_1
Andhini tersenyum kecil, meraba puncak dada yang masih ngilu dan bibirnya juga masih terasa lebih besar dari ukurannya. Andhini menggigitnya sambil tetap senyum-senyum mengingat betapa rakusnya Mas Radit saat mulutnya menguasai dirinya.
Andhini mengakui kalau permainan pagi tadi mungkin akan jadi momen yang dirindukannya dari Mas Radit, walaupun Mas Radit sudah ada pelampiasan lain Karina tapi saat mendatangi dirinya tetap kuat dan gagah apa mungkin semua itu dilakukan karena marah? Mungkin iya.
Lima tahun masuk usia ke enam pernikahannya belum pernah Mas Radit berlaku kasar apalagi saat berhubungan suami istri penuh dengan kelembutan, selalu mengikuti alur dan gaya Andhini yang lembut juga.
Andhini tak tahu, entah rasa apa yang dirinya rasakan mungkin kekasaran yang dirinya tangkap karena mereka berhubungan setelah berselisih paham juga dalam kemarahan, tetapi kalau dinikmati dan diresapi mungkin Mas Raditt memperlihatkan kegagahannya sendiri yang Andhini baru merasakannya.
Ada juga dr Fadli, Andhini jadi membandingkan suaminya sama dr yang nyata-nyata dan terus terang suka sama Andhini walau tahu Andhini sudah berstatus istri orang. Melihat tubuhnya yang suka berolahraga Andhini begitu suka, seperti sukanya Andhini dulu sama Radit saat mereka masih sama-sama lajang. Mas Radit juga sama sepertinya kayak dr Fadli banyak dipuja kaum hawa, badannya yang super kekar terkadang Andhini sering meliriknya dan menyamakan dengan Mas Radit suaminya, mereka rata-rata laki-laki yang suka memperlihatkan penampilan kekarnya dan mempertontonkan keperkasaan di balik pakaiannya walaupun tidak secara langsung.
Sedikit Andini berfantasi hanya untuk menghibur hatinya saja. Walau dirinya menyukai permainan seperti tadi pagi bersama suaminya tapi tidak ingin dilakukan dalam keadaan marah dan Andhini tetap memperlihatkan rasa marah dan ingat sampai saat ini juga dirinya belum mandi.
"Lihat bibir gue sampai jontor begini, juga buah dada gue terasa ngilu semua gue serasa habis dipaksa tapi gue sadar walau sakit gue ternyata menikmatinya!" sahut Andhini sambil meneteskan kembali tetes mata ke bola matanya.
"Sepertinya lo saja yang gatal di tinggal suami beberapa malam jadi meradang, gimana kalau setahun?" seloroh Erika, tapi tetap tak mengerti jalan pikiran temannya ini. Di satu sisi benci pada suaminya sendiri tapi di sisi lain dia juga sepertinya merindukan kebersamaan yang akhir-akhir ini Mas Radit banyak waktu tersita untuk kebersamaan bersama Karina.
__ADS_1
"Tapi gue baru merasakan semua itu tadi pagi loh kalau Mas Radit bisa segarang itu, cuma dilakukan dalam keadaan marah, biasanya kalau nggak marah tak se-kasar itu." sahut Andhini.
"Gue aneh bin heran sama lo Dhini, memang cara main lo itu seperti apa? kok menikah sudah mau enam tahun baru sekarang merasakan kepuasan? juga saat suami lo punya dua istri dan lo berhubungan saat sedang marahan? jangan-jangan lo punya fantasi lain selain suami lo sendiri? misal dalam angan dan pikiran lo itu ada satu sosok yang lo pikirkan, satu sosok yang lo pingin banget ajak buat berkencan misalnya, Aktor tampan, dr Fadli atau seorang adik ipar lo, bisa juga seorang brondong anak SMA atau siapa saja yang lo anggap paling ganteng yang lo kagumi begitu barangkali. Pikiran itu mungkin saja mempengaruhi dan itu semua akan mendatangkan kepuasan melalui isi pikiran kita kalau dinyatakan dengan perbuatan yang lo lakukan saat berhubungan!" Andhini hanya menyunggingkan senyumnya.
"Gue nggak sejauh itu, gue bisa mengagumi dr Fadli dari dekat bukan dari lamunan saja, jujur gue merasa tersanjung dengan semua pernyataannya kalau dia terus terang suka sama gue! tapi gue tak berani berpikir jauh masih berpikir waras, kalau sekedar teman sepi teman yang nyambung saat mengobrol boleh saja, memang dia teman yabg sangat nyaman, seperti halnya pada Rahadian ngapain juga gue mesti membayangkan, Rai sama gantengnya sama Mas Radit." jawaban Dhini seperti tak jujur kedengarannya
"Tapi ini rahasia lho, kalau gue lagi suntuk sama suami terkadang gue berkhayal bercinta sama Aktor Korea gitu, itu sah-sah saja selagi kita tidak memperlihatkan dan semua itu hanya kita yang merasakan. Kalau dosa apa enggaknya gue nggak tahu!" Erika cekikikan sambil menutup mulutnya.
"Masa? lo sebegitu nya di kira kalau nggak ada masalah lo jadi orang lempeng-lempeng saja?" semprot Andhini merasa tak percaya.
"Semua orang juga berfantasi Dhini, bahkan teman gue punya fantasi sama aktor Hollywood Arnold Schwarzenegger, katanya sangat terobsesi di film Rambo itu, tetapi tidak pernah diungkapkan dan tidak pernah diperlihatkan karena itu adalah rahasia sendiri masing-masing orang. Semua orang punya idola semua orang pun harapan dan khayalan asal jangan khayalan itu dinyatakan karena orang itu ada di depan mata kecuali sama orang yang kita cintai yang sudah sah menjadi suami atau istri kita."
Andhini sama Erika malah asyik ngerumpi soal pribadi mereka, Andhini melirik jam tangannya pukul 11 siang, Andhini beranjak mau mandi, pamit sambil tertawa. Memang sahabat segalanya bisa merubah kesedihan jadi ceria kembali walau permasalahan silih ganti datang dan pergi.
******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️